Berbaik Sangkalah Pada Bangsa Ini, Seperti Jenderal Soedirman!

Rasulullah Saw., bersabda, “Allah berfirman: Aku tergantung pada prasangka hamba-Ku, dan Aku bersamanya jika ia mengingat-Ku; jika ia mengingat-Ku dalam jiwanya, maka Aku mengingatnya dalam diri-Ku; dan jika ia mengingat-Ku dalam lintasan pikirannya, niscaya Aku akan mengingat-Nya dalam pikirannya kebaikan darinya (amal-amalnya); dan jika ia mendekat kepada-ku setapak, maka aku akan mendekatkannya kepada-Ku sehasta; jika ia mendekat kepada-ku sehasta, maka aku akan mendekatkannya kepada-ku sedepa; dan jika ia mendatangi-Ku dengan berjalan, maka Aku akan menghampirinya dengan berlari.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Hadits itu, kita tahu, bahwa Allah itu, sama dengan perasangkaan hamba-Nya. Jadi, berhentilah mengolok-olok Negara ini, bagaimana pun buruknya, Indonesia tetap Negara kita.  Ingat, ucapan adalah doa, selalu ingatlah itu, sadarlah, ketika ucapan yang keluar olok-olok terhadap Negara sendiri, itu sama saja mendoakan negara ini, ya, renungkanlah kembali Hadits di atas.

Memang, negara kita sering dihadapkan dengan masalah internal yang tak kunjung selesai menemukan ekor permasalahannya saja sulit, malah selalu bertambah setiap tahunnya. Tapi, kita jangan asal mengolok-olok negara ini, cobalah, berikan solusi untuk Negara ini, jangan terlalu sibuk mengkritik dan memaki; agar Negara kita bisa mencapai cita-cita luhurnya.

Jika kita flashback ke zaman pra kemerdekaan negara kita, saat menjadi korban kolonialisme Negara Barat, para Pahlawan kita begitu ikhlas berjuang demi hidup kita sekarang, agar lebih tenang, dan tidak menjadi budak Negara lain.

Kita bisa teladani mereka. Salah satu Pejuang Negara kita itu, yakni Jenderal Besar Soedirman. Dia seorang yang tak hanya tangguh dan cerdas di medan pertempuran, tetapi juga seorang Jenderal yang shaleh. Ketika itu, Belanda melancarkan Agresi Militer II pada tanggal 19 Desember 1948, untuk menduduki Yogyakarta. Jenderal Soedirman, beserta tentaranya, dan juga Dokter pribadinya, melakukan perjalanan ke arah Selatan, selama tujuh bulan lamanya, mereka melakukan perlawanan dengan strategi perang gerilya.

Saat peperangan itu berlangsung, ia hanya memiliki satu paru-paru; beliau memiliki penyakit tuberkolosis. Saat peperangan sebelumnya, ia terkena infeksi, paru-paru kanannya dikempeskan pada bulan November 1948. Namun, dengan ikhlas, ketangguhan dan kecerdasan serta keshalehan beliau, dia sanggup melawan penjajah waktu itu, walau hanya dengan satu paru-paru. Beliau sering di tandu naik turun gunung, karena penyakit yang dirasakan, ia merasakan panasnya terik matahari, dinginnya hujan, dan gelapnya malam, ketika di medan perang.

Itu semua dilakukan hanya untuk menentukan nasib bangsa ini, nasib kita sekarang. Jenderal yang pernah aktif dalam program kepanduan Hizbul Wathan, salah satu Ortom Muhammadiyah, serta pernah aktif pula dalam kegiatan Muhammadiyah lainnya, seperti pernah menjadi guru dan kepala sekolah di sekolah Muhammadiyah, pernah juga menjadi Pemimpin Organisai Pemuda Muhammadiayah, pada tahun 1937.

Di setiap pertempuran, dia selalu mengingat Tuhan, tak luput dari hatinya untuk selalu mengingat Allah. Dia, berpersangka baik pada Tuhan, dengan cita-cita mulia, agar negara ini merdeka. Dia selalu berdoa, agar negara ini lepas dari jeratan Kolonial Barat. Begitu mulia perjuangannya.  Dengan selalu berperasangka baik pada Tuhannya, hingga pada akhirnya, Belanda menarik diri, lalu Jenderal Soedirman dipanggil untuk kembali ke Yogyakarta, pada bulan Juli 1949.

Meskipun beliau ingin terus melanjutkan perlawanan terhadap pasukan Belanda, ia dilarang oleh Presiden Soekarno. Penyakit TBC yang diidapnya kambuh. Ia pensiun, dan pindah ke Magelang. Dan tiba pada suatu masa, kurang lebih satu bulan setelah Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia, tanggal 29 Januari 1950, di umur yang masih sangat muda, Jenderal shaleh itu wafat pada umur 34 tahun.

Kematian beliau, menjadi duka bagi seluruh rakyat Indonesia. Bendera setengah tiang dikibarkan dan ribuan orang berkumpul untuk menyaksikan prosesi upacara pemakaman. Soedirman terus dihormati oleh rakyat Indonesia. Perlawanan gerilyanya ditetapkan sebagai sarana pengembangan esprit the corps untuk tentara Indonesia, dan rute gerilya sepanjang 100-kilometre (62 mi) yang ditempuhnya harus diikuti oleh taruna Indonesia sebelum lulus dari Akademi Militer.

Sungguh mulia sosok beliau, tangguh, pemberani, shaleh, dan juga cerdas. Beliau rela berperang meninggalkan keluarganya, walaupun hanya dengan satu paru-paru, beliau percaya, bahwa Allah, akan menolong bangsa ini, jika kita, sebagai warga negara berjuang dan selalu berperasangka baik padaNya.

Dari kisah Jenderal Besar Soedirman itu, kita dapat memetik pelajaran, bahwa, negara ini akan maju, jika kita bersama-sama saling bahu-membahu membangun negara, berdoa selalu kepada Tuhan, dan selalu berusaha berbuat terbaik untuk Bangsa dan Negara ini. Allah pasti akan mengabulkan permintaan baik kita, jadi, berperasangka baiklah pada negara ini, berlomba-lombalah dalam kebaikan (Fastabikul Khairat).

Bangunlah modal Sosial yang baik, timbulkanlah rasa kepercayaan, pengertian, dan kepedulian terhadap sesama. Mari, bersama kita lengkapi cita-cita luhur pendiri Negara ini.

Semoga Allah mempermudah perjuangan kita, Amien.