Berpikir Ala KH. Ahmad Dahlan

K.H Ahmad Dahlan, sang arsitek ormas islam terbesar kedua di indonesia masih terpatri dalam sejarah perkembangan islam di Indonesia sebagai salah satu figur utama pencetus pembaharuan islam di indonesia. Ia mampu menelurkan wadah perjuangan yang moderat dan berkemajuan, muhammadiyah namanya. Gagasan besar yang menghasilkan ormas besar tersebut Ia telurkan melalui cara berpikir peka dan terbuka terhadap kondisi sosial yang ada. Ia melabrak batas-batas sosial yang dikurung kejumudan berpikir dan berbuat.

Jika menggunakan istilah Ustadz Effie Effendi, KH. Ahmad dahlan telah menggunakan metode berpikir out of the track, keluar dari zona nyaman. Sehingga, gagasan-gagasannya cukup kontradiktif dengan kebiasaan yang ada di kauman dulu. Tapi bukan berarti kontroversial. Cara Ahmad Dahlan berpikir terlihat seperti pemikir-pemikir besar lainnya, yang pada umumnya berbeda dari kebiasaan yang ada. Setelah itu, barulah timbul gagasan-gagasan di luar zona nyaman tersebut dan menyemai pencerahan berintelektual dan berprilaku.

Sikap kritis KH. Ahmad Dahlan bukan berarti tanpa solusi, sebab Ia bukan hanya pintar retorika saja, namun justru lebih dikenal sebagai sosok ‘pemeraktek’ yang luwes dan giat. Hal ini ditunjukan dengan solusi terbentuknya pergerakan besar yang visioner yang hingga saat ini mampu menguatkan pilar-pilar masyarakat dan bangsa.

KH. Ahmad Dahlan bukanlah sosok fanatik dan berpikiran ekslusif. Justru sebaliknya, ia membuka gerbang pemikirannya untuk berbagai disiplin ilmu lainnya, tanpa memandang dengan kacamata yang bolong. Sikapnya yang seperti itu menjadi distingsi yang cukup menonjol dengan masyarakat di kauman kala itu.

Metode berpikir terbuka yang diterapkan KH. Ahmad Dahlan memberikan penyadaran tentang bagaimana berpikir komprehensif yang rasional. Penulis menyebut hal itu berdasarkan track recor yang KH. Ahmad Dahlan torehkan. Seperti membuka wawasan dengan pergerakan islam di luar negara indonesia kala itu, dengan banyak belajar dari tokoh-tokoh pembaharuan islam dunia diantaranya belajar dari Sir Muhammad Iqbal dari pakistan dan Jamaludin al Afghani dari Mesir. Sehingga, KH. Ahmad Dahlan sedikit banyaknya tersuntik oleh pemikiran-pemikiran kedua tokoh tersebut. Pun inilah yang diimplementasikan KH. Ahmad Dahlan dalam memandang agama sebagai sarana amar ma’ruf nahyi munkarnya.

Paling berkenang dan tak lekas luput dari ingatan para simpatisan KH. Ahmad Dahlan adalah pemikiran dan orientasinya tentang surat Al-Ma’un. Paradigma baru yang ditampilkan KH. Ahmad dalam membedah ayat sangat berbeda dari kebiasaan ulama kala itu. Inilah kirannya sedikit dari sekian banyak metode berpikir KH. Ahmad Dahlan yang layak diteladani.

KH Ahmad Dahlan telah memberikan teladan yang inspiratif dan menumbuhkan semangat beragama dengan metode berpikir yang berbeda dari kebiasaan. Hal itu bukan berarti tidak wajar, tetapi lebih kepada suatu cara pandang yang didasari sikap kritis. Begitulah KH. Ahmad Dahlan mendakwahkan islam dengan pendekatan berpikir yang berani dan berbeda, pun dengan tindakan-tindakannya.