Tidak jarang orang beranggapan, bahwa pencapaian kemajuan kehidupan manusia seperti sekarang ini didasarkan pada kemampuan dan kekuatan manusia dalam memanfaatkan olah falsafahnya. Atau dengan lain perkataan, kemajuan kehidupan manusia banyak ditentukan oleh kekuatan filsafat.

Banyak yang sangat percaya, bahwa dengan temuan falsafah, seperti falsafah Rasionalisme dan Eksperimentalisme, maka berkembanglah ilmu pengetahuan yang beranak-kandung teknologi dengan sesatnya. Bahwa manakala manusia secara serius mau memeras otak dan kecerdasannya serta tekun melakukan percobaan-percobaan dalam hal apa saja, maka akan majulah kehidupannya. Begitulah kira-kira ilustrasi anggapan banyak orang dewasa ini.

Namun, ketika kemajuan kehidupan telah dicapai, tak  jarang pula terdengar keluhan,  bahwa justru setelah mencapai apa yang disebut”kemajuan kehidupan”tersebut malahan merasa makin jauh dari rasa puas dan  tidak merasa sejuk hati. Atau dengan lain perkataan, hidup terasa makin “kering” “kurang bermakna”, “hilang tujuan hidup” “serba mekanis dan robotis”, dan sebagainya.

Mengapa hal seperti ini, keadaan yang serba paradoks, terjadi?  Jawabannya adalah karena kekuatan agama yang berupa keyakinan rohani tidak dilibatkan. Agama dan keyakinan rohani adalah wujud dari pernyataan perasaan, dunia kepuasan dan kesejukan hati. Sebaliknya, filsafat dan olah falsafah hanya menyuplai kepuasan otak dan pikiran belaka. Tampaknya, apa yang disebut kepuasan itu baru lengkap dan menyeluruh kalau kepuasan pikiran digabung dengan kepuasan perasaan.  Sekarang kita bertanya, bagaimana Al-Qur’an berbicara tentang hubungan antara masalah keimanan dan kemajuan hidup Al-Qur’an tidak mengajari manusia untuk meraih kemajuan dalam hidupnya dengan berdasar berfalsafah secara ekstrem, seperti berspekulasi, bahwa pada hakikatnya kehidupan ini, mati dan hidup, hanyalah fenomena “dahr”, masa (Al-Jatsiyah [45]: 24).

BACA JUGA:   Kasih Sayang Allah Mendahului Murka-Nya

Berfalsafah seperti itu dinyatakan hanya sebagai olah spekulasi (dhann), tidak berdasar ilmu yang benar. Demikian kritik Al-Qur’an. Walaupun Al-Qur’an menghargai potensi akal yang menyebabkan manusia mampu berpikir, namun Al-Qur’an tidak membenarkan manusia berpikir secara- ekstrem, yang ujung-ujungnya hanya bertaraf spekulatif tanpa fondasi.

Al-Qur’an mengajari manusia untuk meraih kemajuannya berdasar keyakinan rohani dan didukung oleh penggunaan potensi akal secara benar. Inilah yang disebut keimanan terhadap petunjuk (hidayah) Allah SwT. Petunjuk tersebut berwujud prinsip-prinsip yang perlu dijadikan patokan ketika manusia beriman (Mukmin) akan meraih kemajuan hidupnya.

Apa isi prinsip-prinsip tersebut?

  • Pertama, dasar bertindak. Bahwa dasar bertindak untuk meraih kemajuan adalah: mengubah nasib. Hidup di dunia ini diliputi oleh keniscayaan untuk terjadi “perubahan”. Perubahan yang bersifat teknis dinyatakan Al-Qur’an tergantung pada usaha manusia itu sendiri, mau berubah atau tidak, berusaha untuk berubah atau tidak (Ar-Ra’d [13]; 11). Lalu apa “yang diubah”? Al-Qur’an menegaskan: nasib. Kata “nasib” ada keterkaitan dengan kosa kata “nashabah yang berarti mengangkat atau mendirikan. Jadi, nasib adalah kondisi (dalam hal ini hidup) yang perlu ditingkatkan, diangkat lebih tinggi dari kondisi sebelumnya, didirikan/dibangun kondisi baru  yang lebih meningkat. Peningkatan yang lebih tinggi ini oleh Al-Qur’an justru diperintahkan dengan kalimat frasa “fanshab” yang terjemahan luasnya: maka carilah, temukan, dan jalankan usaha/pekerjaan/tindakan/kreasi/metode/kemampuan yang diyakini dapat meningkatkan kondisi yang lebih tinggi lagi (Asy-Syarh [94]: 7).
  • Kedua, hasil dari proses persaingan. Persaingan (kompetisi) yang sehat dan membangun (konstruktif). Kata kuncinya adalah: unggul. Unggul di sini bukan berarti menang karena berhasii mengalahkan, atau menang untuk bangga atau untuk menganggap kecil   pihak lain,  melainkan unggul karena kompetisi dalam hal-hal yang baik dan konstruktif. Rumusannya dalam Al-qur’an disebut “fa- ‘stabiquu-‘l-khairaat”, maka berlomba-lobalah dalam berbuat kebajikan (Al-Baqarah [2]: 148; Al-Maidah [5]: 48). Jadi, hasil kemajuan yang dicapai harus melalui proses persaingan, bukan  proses yang berdiri sendiri. Sebab, dalam setiap tempat dan zaman, mesti ada yang berusaha untuk mencari kebajikan, tidak pernah sepi dari hal itu.
  • Ketiga, hasil dari usaha. Hasil dari usaha untuk mencapai kemajuan hidup di atas adalah: meningkat lebih baik. Di sini yang menjadi ukuran mutunya, yaitu “baik”, dan ukuran jumlahnya, yaitu “banyak”. Ukuran mutu”baik” dan jumiah*banyak”ini  dirangkum dengan istilah “khair” dalam Al-Qur’an. Hal seperti ini digambarkan Al-Qur’an bahwa perhiasan dunia dengan segala gemerlap dan kemajuannya itu (mataa’u d-dunyaa) sedikit, terbatas waktunya, sedangkan kenikmatan akhirat itu lebih baik dan lebih banyak (An-Nisa’ [4): 77). Karena itu peralihan untuk meningkat tersebut harus diukur dan dikoridori/dikontrol oleh rambu-rambu “khair” tersebut (Adl-Dluha [93]: 4).
  • Keempat, kaya harapan. Bahwa untuk meraih kemajuan hidup, karena harus melewati jembatan “proses”, maka sangat mungkin terjadi halangan, kebelum-ber-hasilan/gagal, hambatan/ganjalan, pasang- surut, untung-rugi, dan sebagainya. Menghadapi hal yang demikian ini  seseorang harus tahan uji, kuat mental, dan kokoh kemauan. Untuk itu Al-Qur’an mengajari agar kaya harapan. Caranya: berdoa. Karena Allah SwT adalah Maha Kaya, sekaligus Maha Pengasih dan Maha  pemurah (rahmaan rahiim), maka kepada-Nyalah hati manusia perlu dilabuhkan, dimintal pertolongan-Nya, dimintai karunia-Nya. Dengan cara seperti itu harapan akan muncul dan menjadi kaya dalam ruang batin. Orang tidak mudah patah semangat karenanya. (Asy-Syarh [94]: 8). Begitulah Al-Qur’an mengajari orang beriman meraih kemajuan hidupnya.
BACA JUGA:   Hibah & Wasiat untuk Anak Beda Agama

Wallaahu a’lam bishshawaab.

Sumber: muhammadiyah.or.id