“Dan setiap umat mempunyai kiblat yang dia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan. Di mana saja kamu berada, pasti Allah akan mengumpulkan kamu semuanya. Sungguh, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah [2]: 148).

Ayat ini turun terkait dengan perdebatan antara Rasulullah saw. dan kaum muslimin dengan orang-orang Yahudi. Saat itu Rasulullah saw. telah berhijrah dan berada di Madinah. Perdebatan ini merupakan reaksi kaum Yahudi yang merasa semakin tersisih dari dominasi mereka yang telah berlangsung lama atas Madinah.

Seperti diketahui bahwa di Madinah waktu itu, terdapat tiga kelompok utama, yaitu orang-orang Arab Madinah asli yang memeluk Islam atau kaum Ansar, orang Mekah yang berhijrah ke Madinah atau kaum Muhajirin, dan orang-orang Yahudi yang menguasai perekonomian Madinah.

Setelah Rasulullah saw. datang, dominasi kekuasaan di Madinah bergeser dari orang-orang Yahudi kepada Rasulullah saw. Hal ini menyebabkan orang-orang Yahudi tidak suka. Ketidaksukaan inilah yang menyebabkan mereka berusaha mengecilkan dan merendahkan kedudukan Rasulullah saw. di hadapan masyarakat. Salah satu yang mereka lakukan adalah menyatakan bahwa agama Islam hanya agama yang mengekor pada aturan agama mereka. Pernyataan ini dibuktikan dengan perintah Allah Swt. kepada Rasulullah saw. untuk menghadap ke arah Baitul Makdis saat melaksanakan salat.

Perdebatan tersebut dijawab Allah Swt. dengan firman-Nya bahwa kebenaran adalah dari Allah Swt. semata. Dalam Surah al-Baqarah [2] ayat ke-148 ini Allah menyatakan bahwa setiap umat memiliki kiblatnya masing-masing. Artinya, setiap kelompok keyakinan memiliki arah kiblat penyembahan mereka masing-masing. Orang Yahudi memiliki Baitul Makdis yang dibangun oleh Nabi Sulaiman a.s. Umat Islam memiliki Kakbah di Masjidilharam sebagai kiblat. Demikian juga para penyembah berhala yang beribadah dengan menghadap berhala yang mereka sembah.

Terkait dengan perselisihan kaum muslimin dan orang-orang Yahudi, Allah Swt. menyatakan bahwa setiap kelompok tidak perlu saling menjelekkan sebagaimana telah dilakukan oleh orang-orang Yahudi terhadap kaum muslimin. Kaum muslimin juga tidak perlu menanggapi cemoohan yang dilakukan orang Yahudi.

BACA JUGA:   Virtualitas Dakwah Berbasis Komunitas

Hal terbaik yang harus dilakukan setiap kelompok adalah berlomba dalam kebaikan. Para ahli tafsir memberikan beberapa versi tafsir atas maksud kebaikan dalam ayat ini. Sebagian mufasir menyatakan bahwa kebaikan dalam ayat tersebut adalah amal saleh. Dengan demikian, secara tidak langsung Allah menyatakan bahwa daripada saling mencemooh, lebih baik bagi tiap-tiap kelompok berlomba-lomba dalam kebaikan dan melaksanakan amal saleh sebanyak mungkin. Amal saleh yang dilakukan tidak akan sia-sia karena Allah akan mengumpulkan amal saleh yang kita lakukan pada hari akhir nanti. (Hamka, Tafsir Al-Azhar, 2004:18).

Ajaran Islam adalah ajaran yang bersumberkan wahyu Allah swt., al-Quran yang dalam penjabarannya dilakukan oleh hadis Nabi Muhammad SAW. Masalaj akhlak dalam ajaran Islam sangat mendapatkan perhatian yang begitu besar.

Menurut ajaran Islam penentuan baik dan buruk harus didasarkan pada petunjuk al-qur’an da nal-hadis.jika kita perhatikan al-qur’an atau hadis dapat dijumpai berbagai istilah yang mengacu kepada baik dan ada pula yang mengacu kepada yang buruk. Diantara istilah yang mengacu kepada yang baik misalnya al-hasanah, thayyibah, khairah, karimah, mahmudah, azizah dan al-birr.

Al-hasanah sebagaimana dikemukakan oleh Imam Ar-Raghib Al-Asfahani adalah suatu istilah yang digunakan untuk menunjukkan sesuatu yang disukai atau dipandang baik. Al-hasanah terbagi menjadi 3 bagian, pertama hasanah dari segi akal, kedua dari segi hawa nafsu/keinginan dan hasanah dari segi pancaindera. Pemakaian kata al-hasanah kita jumpai pada ayat berikut: “Ajaklah manusia menuju Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik.” (QS. al-Nahl [16]: 125).

Adapun kata at-tayyibah khusus digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang memberikan kelezatan kepada pancaindera dan jiwa seperti makan dan sebagainya. Hal ini misalnya terdapat pada ayat yang berbunyi : “Kami turunkan kepadamu “manna” dan “salwa”. Makanlah dari makanan yang baik-baik yang kami berikan kepadamu. (Q.S. al-baqarah, 2:57)”.

BACA JUGA:   Wow, Inilah Fakta Kehebatan Bangsa Uighur di Cina  

Selanjutnya kata al-khair digunakan utnuk menunjukkan sesuatu yang baik oleh seluruh umat manusia, seperti berakal, adil, keutamaan dan segala sesuatu yang bermanfaat misalnya terdapat pada ayat yang berbunyi: “Barangsiapa yang melakukan kebaikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui (Q.S. al-baqarah, 2: 158)”.

Adapun kata al-mahmudah digunakan untuk menunjukkan sesuatu yang utama sebagai akibat dari melakukan sesuatu yang disukai oleh Allah swt., dengan demikian kata al-mahmudah lebih menujukkan pada kebaikan yang bersifat batin dan spiritual. Misalnya dinyatakan dalam ayat yang berbunyi : “Dan dari sebagian malam hendaknya engkau bertahajjud mudah-mudahan Allah akan mengangkat derajatmu pada tempat yang terpuji (Q.S al-Isra, 17: 79)”.

Selanjtnya kata al-karimah digunakan untuk menunjukkan pada perbuatan dan akhlak yang terpuji yang ditampakkan dalam kenyataan hidup sehari-hari. Selanjutnya kata al-karimah biasanya digunakan untuk menunjukkan perbuatan terpuji yang sekalanya besar, seperti menafkahkan harta di jalan Allah, berbuat baik kepada kedua orang tua dan sebagainya. “Dan janganlah kamu mengucapkan kata “uf-cis” kepada kedua orang tua, dan janganlah membentaknya, dan ucapkanlah pada keduanya ucapan yang mulia (Q.S. al-ISra, 17: 23)”.

Adapun kata al-birr digunakan untuk menunjukkan pada upaya memperluas atau memperbanyak melakukan perbuatan yang baik. Terkadang digunakan sebagai sifat Allah, dan terkadang juga untuk sifat manusia. Jika kata tersebut digunakan untuk sifat Allah, maka maksudnya adalah bahwa Allah memberikan balasan pahala yang besar, dan jika digunakan untuk manusia maka yang dimaksud adalah ketaatannya.

Adanya berbagai istilah kebaikan yang demikian variatif yang diberikan al-Quran dan hadis itu menunjukkan bahwa penjelasan tentang sesuatu yang baik menurut ajaran Islam jauh lebih lengkap dan komprehensif dibandingkan dengan arti kebaikan yang dikemukakan sebelumnya. Berbagai istilah yang mengacu pada kebaikan itu menunjukkan bahwa kebaikan dalam pandangan Islam meliputi kebaikan yang bermanfaat bagi fisik, akal, rohani, jiwa, kesejahteraan di dunia dan akhirat serta akhlak yang mulia.

BACA JUGA:   Ini yang Terjadi Saat Emak-Emak Terjebak Politik Identitas!

Untuk menghasilkan kebaikan yang demikian, Islam memberikan tolok ukur yang jelas, yaitu selama perbuatan yang dilakukan itu ditujukan untuk mendapatkan keridlaan Allah yang dalam pelaksanaannya dilakukan dengan ikhlas.

Selanjutnya dalam menentukan perbuatan yang baik dan buruk itu, Islam memperhatikan kriteria lainnya yaitu dari segi cara melakukan perbuatan itu. Seseeorang yang berniat baik, tapi dalam melakukannya menempuh cara yang salah, maka perbuatan itu dipandang tercela.

Selain itu perbuatan yang dianggap baik oleh Islam juga adalah perbuatan yang sesuia dengan petunjuk al-qur’an dan al-sunnah, dan perbuatan yang buruk adalah perbuatan yang bertentangan dengan al-qur’an dan al-sunnah. Namun demikian, al-Quran dan al-sunnah bukanlah sumber ajaran yang eksklusif atau tertutup.

Kedua sumber itu bersikap terbuka untuk menghargai bahkan menampung pendapat akal pikiran, adat istiadat dan sebagainya yang dibuat manusia, dengan catatan semuanya itu tetap sejalan dengan petunjuk al-Quran dan al-sunnah.

Ketentuan baik dan buruk yang didasarkan pada logika dan filsafat dengan berbagai alirannya tertampung dalam istilah etika, atau ketentuan baik-buruk yang didasarkan atas istilah adat istiadat tetap diakui dan dihargai keberadaannya. Ketentuan baik-buruk yang terdapat pada etika dan moral dapat digunakan sebagai sarana atau alat untuk menjabarkan ketentuan baik dan buruk yang ada didalam Al-Quran.

“Hendaklah ada di antara kamu suatu ummat (golongan) yang mengajak kepada kebaikan dan menyuruh kepada yang ma’ruf dan melarang yang munkar. Mereka itulah orang-orang yang berbahagia.” (QS. Ali Imran [3]: 104).

Sumber : Prof. Dr. H. Abuddin Nata, M.A. Akhlak Tasawuf, Jakarta : Rajawali Pers. 2010