Menakar Gerakan Islam Berkemajuan di Jawa Barat

Muhammadiyah sebagai organisasi sosial keagamaan dibangun atas dasar keterbukaan pikiran yang jernih dan kuat dalam rangka pencerahan (enlightment). KH. Ahmad Dahlan saat mendirikan Muhammadiyah begitu jeli membaca realitas zamannya. Ia tak seperti kebanyakan orang saat itu yang memusuhi secara total bangsa barat (Belanda), ia justru melihatnya dengan kaca mata berbeda: kemajuan ilmu pengetahuan barat mesti dipelajari, sedangkan segala bentuk penjajahan walaupun datang dari bangsa sendiri wajib diperangi.

Dengan paradigma seperti itu, Dahlan memcerminkan manusia yang bebas dan membebaskan. Pemikiran itu bermula ketika Dahlan pergi ke timur tengah untuk menjalankan ibadah Haji pada usia 15 tahun. Di sana ia belajar dengan beberapa guru agama hingga berkenalan dengan bermacam wacana islam kritis; seperti pemikiran Pan Islamisme dari Jamaludin Al-Afghani sebagai respon atas imprealisme barat, serta pemikiran kritis lain dari Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha.

Sepulang dari ibadah Haji, Dahlan menyadari bahwa tempat tinggalnya di Kauman Yogyakarta diselimuti kabut pekat kejumudan. Kejumudan yang dipandang oleh Dahlan saat itu membuat masyarakat lokal terlelap dari realita imprealisme. Lantas ia secara tidak lagsung meramu suatu formula untuk dijadikan gerakan tanding demi keterbukaan pikiran, agar masyarakat bangkit dan menyadari bahwa fisik maupun mentalnya tengah ditindas secara sistemik.

Sebelum mendirikan Muhammadiyah dan bergaul dengan Sarekat Islam (SI), Dahlan secara intens bergaul dengan Boedi Oetomo yang berlatar belakang pendidikan modern ala barat. Hingga pada suatu saat gerakan Boedi Oetomo memicu Dahlan untuk melakukan terobosan besar, demi menciptakan gerakan “Islam berkemajuan.” sebuah ungkapan populer di Muhammadiyah. Boedi Oetomo juga membatu kelahiran organisasi Muhammadiyah pada tahun 1912.

BACA JUGA:   Branding UM Sidenreng Rappang Menjadi Kampus Produksi Pertanian Halal

Tak sebatas mengandalkan keterbukaan pikiran; Dahlan pun melakukan gerakan praksis matang berlandaskan surat Al-Ma’un. Dengan teologi Al-Maun, Dahlan mampu membangun trisula Muhammadiyah, diantaranya Healing yang ditandai dengan berdirinya PKO (Penolong Kesengsaraan Oemoem) seperti rumah sakit; Schooling yang dicirikan dengan berdirinya sekolah yang mengadopsi sistem pendidikan ala barat; serta Feeding dengan mendirikan beberapa panti asuhan dan beberapa panti jompo.

Tepat pada tanggal 18 nopember lalu, Muhammadiyah berusia 105 tahun. Umur itu bisa dilihat dari dua pandangan kritis: kemajuan dan kemunduran. Muhammadiyah boleh berbangga diri sebab mampu membuktikan gerakan Islam berkemajuannya dengan bukti amal usaha seperti berdirinya banyak sekolah hingga perguruan tinggi, panti asuhan, dan rumah sakit. Namun, apakah dalam gerakan pemikiran atau intelektualisme generasi Muhammadiyah saat ini, khususnya di Jawa Barat, angkatan muda Muhamadiyah (AMM) bisa dikategorikan berkemajuan?

Jawa Barat sebagai salah satu provinsi dengan jumlah penduduk tinggi serta wilayahnya yang luas, merupakan garapan dakwah strategis bagi generasi berkemajuan. Namun, sangat disayangkan jika mereka tidak peka membaca—meminjam istilah Moeslim Abdurrahman—dosa-dosa sosial disekitarnya seperti kemiskinan, pencemaran lingkungan, terorisme dan pelecehan terhadap perempuan.

BACA JUGA:   Sebagai Generasi Muda, Mahasiswa Harus Mencerahkan

Seperti yang dipaparkan di muka, dan senada dengan telaah Nurcholis Madjid, Dahlan adalah sosok pencari kebenaran hakiki, yang mampu menangkap pesan Al-Qur’an dan melakukan kontekstualisasi dengan perkembangan zaman. Dari sana patut disadari bahwa pihak yang semestinya melanjutkan misi Dahlan itu ialah AMM sendiri sebagai embrio organisasi.

Namun sepertinya AMM di Jawa Barat saat ini, jika disandingkan dengan ruh perjuangan zaman Dahlan, masih sangat jauh dari yang diharapkan. Bagaimana tidak, secara artefak intelektual, generasi berkemajuan Jawa Barat sangat sedikit membuahkan tulisan-tulisan, yang mana kegiatan tulis-menulis merupakan salah satu cara untuk menyuarakan ketidak-adilan di muka bumi. Juga secara gerakan praksis mereka kurang terlihat, entah itu ketika melakukan advokasi mayarakat yang tertindas, atau ketika menciptakan ruang diskursus kritis dan amal usaha kreatif.

Menyikapi Muhammadiyah saat ini, menurut Ahmad Syafii Maarif (2010: 135) untuk menghadapi abad ke-2 pelaksanaan misinya, juga agar diperhitungkan oleh kalangan elit terdidik metropolitan, pusat-pusat pendidikan tinggi Muhammadiyah mesti mampu menciptakan barisan intelektual yang disegani karena karya-karya dan buah pemikirannya yang kaya, menantang dan orisinil. Untuk melangkah ke jurusan ini, kultur keragaman harus difahami dan ditempatkan secara benar dengan menenggang perbedaan-perbedaan pendapat sebagai akibat logis dari sebuah gerakan intelektual.

BACA JUGA:   Haedar Nashir Sampaikan Konsep Islam Berkemajuan

Dengan daya intelektual yang mempuni, praksis sosial dapat berjalan berlandaskan nilai filosofi tinggi. Namun, jika intelektualisme tidak diasah dengan benar, maka gerakan pragmatis-politis niscaya menghinggapi generasi berkemajuan, yang jika memang ingin mendapatkan julukan “berkemajuan” ia mesti bercermin terlebih dahulu sebab jauh dari spirit muda Ahmad Dahlan.

Namun, ketika merenungkan kembali apa yang dipaparkan oleh Buya Syafii Maarif di muka, generasi Muhammadiyah Jawa Barat masih memiliki harapan cukup besar. Pasalnya, di tanah Parahyangan ini tak sedikit perguruan tinggi Muhammadiyah (PTM) yang berdiri dan menampung banyak mahasiswa. Di sana, para generasi berkemajuan berkesempatan membuka ruang diskurus secara intensif. Ruang itu dibangun dalam rangka memperkuat daya intelektualitas juga demi merumuskan praksis gerakan sosial penjawab isu-isu kontemporer.

Maka, untuk menyelamatkan masa depan Muhammadiyah Jawa Barat, AMM mesti melakukan perubahan-perubahan fundamental mulai dari nalar kritis hingga praksis gerakan sosial. Sehingga generasi berkemajuan Jawa Barat mampu bergerak atas dasar kemanusiaan yang murni, bukan atas dasar golongan politik dan pemodal tertentu, atau bahkan atas dasar perbedaan dengan the other. Mereka mesti kembali membuka diri, membaca bermacam literatur barat-timur, klasik-modern, insider-outsider atau muslim-nomuslim dalam rangka menerjemahkan pesan-pesan Tuhan yang bersifat transformatif.