Menyoal Islam Nusantara

Sudah menjadi hal yang umum bahwa Islam adalah agama yang memiliki jumlah penganut terbanyak di negara ini yang dikenal dengan sebutan muslim/muslimah. Kata Islam sendiri berasal dari bahasa Arab Aslama–yuslimu– islaaman yang berarti berserah diri.

Sedangkan kata muslim/muslimah merupakan bentuk isim fail atau subjek yang memiliki arti orang yang berserah diri. Orang yang menjalankan aturan-aturan agama Islam dengan penuh ketundukan dan kecintaan pada Tuhan.

Negara Indonesia yang mayoritas beragama Islam seakan tak pernah sepi dari berbagai isu baik yang biasa-biasa saja maupun yang menuai pro-kontra. Salah satunya yang sedang marak diperbincangkan hari ini adalah terkait dengan Islam Nusantara yang dicetuskan oleh salah satu ormas terbesar di Indonesia.

Nusantara berasal dari bahasa Sanskerta yaitu Nusa yang berarti pulau dan antara yang berarti terletak di seberang. Kita pun sering menyebut kata Nusantara dalam penamaan negara Indonesia.

Bahkan di salah satu kota di Jawa Barat, ada sebuah perguruan tinggi yang dinamai dengan Universitas Islam Nusantara (baca : UNINUS). Islam Nusantara merupakan tema utama pada muktamar NU ke-33 di Jombang 2015 lalu.

Namun tiga tahun dicanangkan pada kenyataannya masih banyak yang memperdebatkan hingga kini. Tidak hanya di kalangan eksternal Nahdliyin bahkan di internal ormas ini pun nyatanya masih ada yang menuai kritikan dan penolakan.

Islam Nusantara dianggap sebagai agama dan aliran baru yang terpengaruhi oleh Liberalisme yang penuh kebebasan. Ada pula yang menghukumi bahwa Islam Nusantara anti-Arab dan memiliki corak keislaman tersendiri yang berbeda dengan Islam yang seharusnya. Argumen-argumen semacam itu tentu ada yang berdalil ada juga yang hanya sebatas ikut-ikutan menghujat tanpa punya dalil yang kuat.

Gus Mus (2015 : 2) berpendapat bahwa kata Islam Nusantara merupakan bentuk penyandaran atau dalam bahasa Arab dikenal dengan idhafah yang mempunyai berbagai makna. Pada akhirnya ia mendifisikan istilah Islam Nusantara dengan (agama) Islam (yang berkembang) di Nusantara. Ia juga bahkan memberi contoh dengan istilah “air gelas” apakah maknanya airnya gelas, atau air yang di gelas, apakah air dari gelas, atau gelas dari air.

Karena bagi yang pernah mengaji tentang itu pasti sudah memahaminya.Sebagai bangsa yang mendasarkan diri pada nilai-nilai Ketuhanan Yang Maha Esa, menjadi keniscayaan jika umat Islam Indonesia terus-menerus berusaha menyempurnakan negara ini agar semakin dekat dengan ketentuan Tuhan.

Bila kita menengok kembali sejarah, negeri ini dulunya pernah dihuni oleh mayoritas non muslim. Kemudian datanglah para pendakwah Islam yang memiliki semangat juang, strategi, taktik dan keikhlasan yang luar biasa.Negeri yang subur makmur ini kemudian berangsur-angsur menjadi negeri dengan penduduk muslim terbesar di dunia (tahun 2014 dengan lebih dari 200 juta muslim).

Beberapa tokoh Wali Songo bahkan sempat bekerjasama dan membantu Kerajaan Majapahit, dengan terus menyampaikan dakwah Islam kepada pemuka dan masyarakat Jawa.Dahulu ketika para Wali Songo berdakwah di Nusantara, mereka berusaha untuk memadukan konten dakwahnya dengan tradisi di daerah yang mereka tempati. Seperti Sunan Kalijaga yang berdakwah dengan wayang dan seni budaya lain agar masyarakat tertarik dan mau memeluk agama Islam.

Bagi para pencetus Islam Nusantara metode dakwah para wali tersebut menjadi bukti bagaimana Islamisasi di Nusantara ini diterapkan.Budiono HS (2009 : 205) menegaskan dalam bukunya bahwa pertunjukan seni budaya yang dilakukan Sunan Kalijaga adalah dalam rangka mendakwahkan Islam. Ia pun tidak pernah mematok tarif untuk pertunjukkannya.

Sebagai gantinya, ia mengajak kepada para hadirin untuk mengucapkan dua kalimat syahadat.Korelasi antara Islam di Nusantara dengan perjuangan dakwah yang dilakukan para ulama terdahulu tentu memiliki makna dan pelajaran tersendiri. Islam disampaikan dengan damai dan tidak memaksa.

Islam juga tidak hadir untuk mengikis budaya masyarakat tapi untuk merangkul budaya yang ada.Negara Indonesia merupakan salah satu negara yang kental akan nilai dan norma serta budaya dan agama.

Sehingga menjadi fenomena yang lumrah bila begitu mudahnya terjadi konflik yang berhubungan dengan hal-hal tersebut. Bahkan Clifford Gertz mengatakan bahwa Islam Indonesia adalah Islam yang khas, tumbuh dan berkembang dengan sosio kultur Indonesia.

Ide Islam Nusantara ini bukanlah untuk mengubah ajaran Islam, bukan pula untuk mengkotak-kotakkan Islam kemudian timbul perpecahan antar sesama muslim. Tetapi hadirnya ide Islam Nusantara ini tak lain sebagai upaya pengejawantahan nilai-nilai ajaran Islam yang tidak menghilangkan kearifan lokal.

Sesuai dengan sifat ajaran Nabi Muhammad SAW. yang lintas zaman dan lintas budaya, maka akidah dan ritual dalam Islam pun tidak tunduk oleh budaya. Ajaran Islam Nusantara hanya menjadi upaya untuk menghormati budaya yang ada. Di mana saja, umat Islam bisa shalat dengan cara yang sama. Umat Islam bisa shalat di masjid mana saja.

Oleh karena itu, kita tentunya berharap pengembangan gagasan Islam Nusantara tidak menjadi kontra-produktif, yakni menjadikan kaum muslim justru tidak tertarik untuk mengkaji khazanah Islam di Nusantara, karena diawali dengan kecurigaan pada istilahnya. Namun sebaliknya, Islam Nusantara ini harus disikapi dengan bijak dan toleran.

Ide Islam Nusantara juga harus mampu dijelaskan dan dibuktikan pada semua kalangan bahwa Islam yang digagas bukanlah Islam yang liberal dan radikal, tetapi Islam yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Sehingga kesalahpahaman tentang Islam Nusantara ini mampu dikikis dan menjadikan umat Islam saling memahami serta tidak mudah tersulut emosi. Wallahu ‘alam bishshawab.