Muhammadiyah Reborn, Lahirkan Karakter Islam Berkemajuan Zaman Now!  

MUHAMMADIYAHGOODNEWS.ID, Jakarta – Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, menekankan bahwa aktivisme Muhammadiyah bergerak dalam koridor pemurnian akidah dan ijtihad sebagaimana gerakan Islam yang lain, namun memiliki karakter khusus yang tidak dimiliki oleh gerakan Islam lainnya.

“Di kalangan Pimpinan dan aktivis Muhammadiyah ada sebagian anggapan bahwa dengan modal berislam saja, maka secara otomatis akan menjadi Muhammadiyah tanpa perlu mengetahui pembeda khas pandangan keagamaan Muhammadiyah yang punya karakter khusus,” tegas Haedar dalam acara Launching Buku dan Lokakarya Al-Islam Kemuhammadiyahan, Senin, 10 Desember 2018.

Dalam acara yang digelar di Aula Ahmad Dahlan Kampus UHAMKA, Pasar Rebo, Jakarta Timur tersebut, Haedar menekankan agar para mubaligh dan aktivis Muhammadiyah dapat memahami hal demikian dan tidak malah menyederhanakannya.

“Terkoreksi oleh kenyataan bahwa Islam sebagai al-Din itu mutlak, satu dan sempurna, lengkap. Sampai kapanpun akan senantiasa tinggi. Tetapi ketika Islam yang satu itu dikonstruksi oleh para mufasir, imam mazhab atau para pemikir, Islam tidak lagi menjadi satu jenis yang absolut dan komprehensif, tapi sesuai dengan konstruksi berpikir, bahkan pengalaman dan mazhab tokoh itu. ” ungkap Haedar.

Dalam kesempatan itu juga, Haedar menegaskan bahwa setiap pemikir seperti Tjokroaminoto, A Hassan, Kyai Hasyim Asy’ari sampai Kyai Ahmad Dahlan memiliki konteks pemikiran masing-masing sehingga memberi karakter yang khas bagi organisasi yang dibentuknya.

“Namun, yang menjadi masalah, di mata awam, tafsir yang nisbi itu sering dianggap sebagai hal yang absolut dan satu-satunya versi. Yang seperti ini sering dibawakan oleh para mubaligh yang tidak membaca bahwa ada tafsir lain di belakang itu,” keluh Haedar.

Haedar Nashir juga mengungkapkan bahwa Muhammadiyah sebagai gerakan Islam menekankan pada corak gerakan yang memberi peneguhan pada akidah, mencontoh ibadah dan akhlak rasul, dan muamalah yang bersifat ijtihadiyah sehingga berkemajuan.

“Setelah saya teliti, pembaruan Islamnya Kyai Dahlan berbeda dengan Wahabi dan Ibn Taimiyah. Pembaruan Kyai Dahlan sebagai bentuk iman yang membebaskan dan mencerahkan.” ujar Haedar.

“Kyai Dahlan juga sering merujuk Imam Ghazali untuk bertauhid dengan kuat dan membebaskan dari menjadikan hawa nafsu sebagai tuhan, yang nanti kita baca dalam kajian tauhid bukan semata hanya pada aspek Ilahiyah. Sementara itu Wahabi menjadikan tauhid sebagai praktik memberantas Takhayul, Bidah dan Khurafat, dan ini yang diyakini para mubaligh Muhammadiyah. Padahal harus dikoreksi kembali,” ungkap Haedar.

Kendati ibadah harus dicontohkan, Haedar berpendapat bahwa pemaknaan maknawiyah terhadap Ibadah harus senantiasa dilakukan.

“Ibadah harus menjadi spiritualisasi kehidupan,  dimasukkan ke dalam diri agar membangun kesalehan sosial, sehingga tidak menjadi area yang terpisah. Tradisi menjadi Muhammadiyah tidak menyibukkan diri dengan berbagai atribut agama, bahkan jarang ada tokoh Muhammadiyah yang dipanggil ustadz, sebab karakter Muhammadiyah adalah lebih pada kesalehan secara sosial,” singgung Haedar.

Oleh karena itu, menurut Haedar corak keberagamaan Muhammadiyah berbeda. Dalam konteks politik, Muhammadiyah tidak melakukan Islamisme maupun intregalisme politik sehingga berbeda dengan Hizbut Tahrir, Ikhwanul Muslimin dan lain sebagainya.

“Yang lebih khusus lagi Muhammadiyah selalu berusaha menampilkan Islam yang berkemajuan, Islam sebagai agama pembaruan, atau Dinul Hadharah. Ini yang digerakkan oleh Kyai Dahlan. Muhammadiyah pasca Kyai Dahlan sudah merekonstruksi sesuai dengan zamannya. Ini bingkai kita bermuhammadiyah agar kita membawa Muhammadiyah pada treknya dan bingkainya. Jangan bawa Muhammadiyah untuk pindah rel. Sebab nanti relnya rusak, keretanya juga rusak,” ungkap Haedar.

Haedar pun berusaha merumuskan pikiran-pikiran Muhammadiyah dalam buku terbarunya berjudul “Ahmad Dahlan Reborn: Teologi Al-Maun untuk Generasi Milenial” agar menghidupkan karakter Islam berkemajuan yang diwariskan KH Ahmad Dahlan dalam konteks kekinian.

“Nah, yang menjadi masalah adalah ketika memutlakkan tafsir (yang beragam) menjadi (tafsir) yang tunggal. Dalam konteks ini, saya mencoba merumuskan pikiran-pikiran Muhammadiyah dalam buku ini,” ujar Haedar.

Sumber: muhammadiyah.or.id