YOGYAKARTA – Fenomena cadar di Indonesia memang sempat ramai diperbincangkan dan menjadi perdebatan tersendiri. Menghadapi banyaknya fenomena fashion muslimah yang semakin berkembang, Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah (NA) dalam kajian bulanannya membahas tema, Antara Ideologi dan Fashion di Aula Gedung Muhammadiyah Jalan KH. Ahmad Dahlan 103, Jumat (21/12).

Kegiatan kajian bulanan PPNA kali ini menghadirkan dua pembicara diantaranya Anggota Tarjih PP Muhammadiyah Muchlis Rahmanto dan Anggota Majelis Pendidikan Kader PP ‘Aisyiyah Erni Zuhriyati.

Dalam paparannya Muchlis menyampaikan cadar menjadi hal yang menarik didiskusikan karena setelah reformasi banyak orang yang mengalami Islamisasi dalam arti bersemangat mempraktekkan ajaran Islam dalam segala hal.

BACA JUGA:   Wow, SMK Muhammadiyah 1 Sirampog Ujian Sekolah Pake Android

“Sebelumnya, saat belum terjadi reformasi, Islam terasa lebih mengarah ke ibadah yang itu-itu saja,” kata dia.

“Soal masalah cara berpakaian Muslimah, ada di penjelasannya di buku Tanya Jawab Agama (TJA) PP Muhammadiyah jilid 1 halaman 139 dan TJA jilid 4 halaman 238,” imbuhnya.

Ia juga mengatakan jilbab yang dipahami Majelis Tarjih Muhammadiyah itu direpresentasikan sebagai baju kurung, meskipun arti jilbab bisa banyak hal. Jilbab adalah kerudung dan baju kurung yang menutupi tubuhnya.

“Apa yang sudah dicantumkan dalam putusan tarjih tentang pakaian yang syari dan contohnya insyaAllah sudah syari sesuai dengan tuntunan Rasul,” kata dia.

Sementara itu, Erni Zuhriyati, MPK PPA, menyampaikan, dalam representasi memahami aurat itu tidaklah tunggal. Makanya muncul berbagai macam jenis cadar yang disetiap daerah bahkan negara berbeda-beda. Memahami jilbab pun juga tidak tunggal. Ada yang lebih unik yang dipakai teman-teman muslim di China, dan negara lainnya.

BACA JUGA:   Pergantian Tahun, Relawan MDMC Bantu Evakuasi Warga Korban Banjir

“Sekarang sudah tidak dapat dipungkiri lagi bahwa jilbab syar’i atau baju syar’i sudah menjadi trend fashion. Namun,  sekarang ini kebanyakan trend fashion melabeli syari tapi justru tidak, misalnya baju yang labelnya syari tapi berbahan tipis, menempel badan, dan justru menonjolkan aurat,” kata dia.

Lebih lanjut, Ia mengungkapkan bahwa cadar juga tidak bisa dianggap sebagai ukuran untuk melihat keimanan seseorang.

BACA JUGA:   Seputar Hukum Pakai Celana Cingkrang, Ini Pendapat Muhammadiyah

“Maaf saja, sekarang juga beberapa orang yang menggunakan cadar belum tentu keimanannya baik dan keislamannya pun juga. Ada yang justru menjadi contoh tidak baik di masyarakat dengan mengumbar aib, bahkan ada yang kabarnya saat meninggal sudah menyiapkan kain kafan dengan model tertentu, dan lainnya,” jelas Erni.

Kesimpulannya, di dalam nash Al-Qur’an maupun hadist tidak ada yang menyebutkan wajibnya penggunaan cadar.

“Sebagai kader Muhammadiyah sebaiknya kita mengikuti fatwa-fatwa yang sudah ditetapkan. Kemudian bagi para kader yang masih menggunakan cadar lebih bijak dalam menyikapi hal ini dan menghargai keputusan organisasi yang InsyaAllah dapat dipertanggungjawabkan,” pungkasnya.