Gambar: nu.or.id

BANYAK faktor yang mendorong dan membentuk kepribadian atau karakter manusia, semenjak ia lahir ke dunia hingga tumbuh dewasa. Seperti kata ilmu Psikologi, bahwa yang mendorong manusia berperilaku, di antaranya adalah faktor gen atau keturunan. Maksudnya, manusia akan berperilaku sesuai dengan gen turunan dari orangtuanya, yang merupakan bawaan semenjak lahir.

Namun, seiring berjalannya waktu, ternyata gen bukan faktor tunggal atas terbentuknya perilaku manusia. Lingkungan juga menjadi faktor penting yang tidak bisa dikesampingkan. Lingkungan memberi pengaruh cukup besar dalam membentuk watak atau karakter manusia, bahkan sampai gaya hidup (lifestyle).

Antara gen dan lingkungan, menurut ilmu Psikologi, pada gililannya tinggal ditimbang saja; mana yang lebih dominan membentuk kepribadian seseorang. Dalam kata lain, setiap pribadi mempunyai pilihan, mana yang terbaik bagi dirinya antara faktor gen dan lingkungan.

Maka, banyak jalan yang dapat dipilih untuk membentuk kepribadian manusia, sehingga tumbuh menjadi sosok yang benar-benar diinginkan. Antara lain melalui pendidikan yang baik, sekaligus menjauhkannya dari segala bentuk lingkungan yang dapat merusak moral serta menjerumuskannya ke arah yang negatif.

Atas kepentingan mendidik manusia itulah, kiranya, sejak lama manusia mendirikan lembaga pendidikan; baik dalam bentuk sekolah maupun pondok pesantren. Di sinilah manusia melatih potensi dan kreativitasnya.

Lembaga pendidikan, sedikit-banyak, membantu peran orangtua. Mereka yang sibuk kerja, sehingga tak lagi punya cukup waktu mendidik anak, menyerahkan pendidikan anak ke pihak sekolah atau bahkan dititipkan di pondok pesantren. Tentu saja, para orangtua ini mengeluarkan biaya.

Lembaga pendidikan terus bertransformasi. Muncullah lembaga pendidikan yang memadukan sistim sekolah dan pesantren sekaligus. Di samping dijejali ilmu pengetahuan umum, para murid juga dibekali ilmu agama. Tentu, dengan harapan akan lahir manusia yang unggul intelektual sekaligus anggun moral.

Hingga titik tertentu, lembaga pendidikan model baru ini menjadi pilihan alternatif para orangtua. Anak-anak dikirim ke asrama, demi “meredakan” kekhawatiran orangtua atas kemungkinan rusaknya moral anak. Sebab, sulit untuk dimungkiri, kalau arus pergaulan bebas kian tidak terbendung.

“Laboratorium” Sosial

Laboratorium, kata yang sudah tidak asing lagi melintas di telinga kita, merupakan sebuah ruangan yang sarat dengan peralatan dan bahan-bahan untuk meracik serta membentuk sesuatu yang baru.

Di laboratorium juga bisa meneliti gejala-gejala yang timbul dari sesuatu hal, kemudian dicari solusinya. Maka sudah barang tentu dihuni oleh tenaga-tenaga (ilmuwan) yang berwawasan luas dan ahli dalam bidangnya, sehingga kecil kemungkinan terjadi kesalahan dalam peracikan.

Pesantren, sebagai “laboratorium” sosial, maksudnya adalah sebuah ruang lingkup yang memiliki fungsi dalam meracik dan menciptakan sikap, perilaku, dan moral yang luhung(terpuji), dengan segala alat dan bahan yang tersedia di dalamnya, serta tenaga ahli yang membinanya.

Dalam kata lain, pesantren memiliki peran besar dalam mempersiapkan kader-kader (generasi) muda yang memiliki tingkat intelektualitas dan spiritualitasnya yang unggul (militan). Pada gilirannya, mereka itulah yang akan menahan muslihat dunia yang hendak menghancurkan moral dan perilaku manusia.

Lembaga pendidikan yang mengintegrasikan sistim sekolah dengan pesantren, di satu sisi melatih latih dan menguji intelektualitas santri dengan pelajaran sekolah yang membahas segala hal terkait ilmu pengetahuan. Di lain sisi, spiritualitas santri juga dibina dalam naungan pondok pesantren dengan kajian-kajian keagamaan berdasarkan al-Quran dan Sunnah Rasulullah Swa. Generasi muda yang digembleng dengan matang tentu dapat mengkorelasikan kedua jenis ilmu tersebut.

Selain melatih intelektual dan spiritual, pesantren juga menempatkan para santri sebagai makhluk sosial seutuhnya. Di asrama, mereka selalu berinteraksi, bergaul, serta bermasyarakat dalam lingkungan sesamanya. Lingkungan ini penting untuk melatih sikap toleran, menghormati orang lain, berempati, saling membantu, dan lain sebagainya.

“Bengkel” Moral

Kata “bengkel” nyaris identik dengan istilah mekanik, yang erat kaitannya dengan benda rusak atau memerlukan perbaikan. Mobil butut, misalnya, jika hendak layak dikendarai lagi, maka harus dibawa ke bengkel.

Satu alasan penting kenapa pesantren dianalogikan sebagai “bengkel” moral. Globalisasi, dengan arus modernitasnya, mengiming-imingi anak muda dengan nikmatnya kebebasan hidup, lepas dari aturan yang dianggapnya membelenggu.

Pergaulan bebas menyebabkan kemerosotan, bahkan mungkin kerusakan, moral manusia. Tidak sedikit yang sampai terjerumus ke dunia narkoba, mabuk, cimeng, sex bebas, dan lain sebagainya. Sebagian dari mereka ada juga yang kemudian “dipaksa” masuk pesantren, untuk kemudian dipermaiki moralnya.

Nah, dalam arti inilah pesantren berfungsi sebagai “bengkel”. Pesantren sebagai tempat untuk menampung pasien-pasien yang memerlukan bimbingan, nasihat, serta petunjuk agar bisa kembali ke jalan yang benar.

Pesantren sendiri, pada posisinya, bisa mengalami dua kemungkinan. Pertama, pesantren benar-benar mampu memperbaiki moral sekaligus menunjukkan jalan kebenaran. Kedua, pesantren justru akan tercemari perilaku tidak terpuji.

Jika kemungkinan kedua yang justru terjadi, maka selain fungsinya sebagai “bengkel” moral tidak berjalan, melainkan juga fungsinya sebagai “laboratorium” sosial akan ikut rusak. Inilah barangkali yang mesti diantisipasi.

____________

Tulisan ini pernah dimuat Surat Kabar Mingguan (SKM) Medikon edisi 28 Agustus—03 September 2006.