Oleh: SUKRON ABDILAH (Founder & Chief in Editor muhammadiyahgoodnews.id)

Semakin Sukses, Harusnya Semakin Peduli

Saya bersimpulan, semakin kaya seseorang, akan semakin merasa bahwa kesuksesannya harus bermanfaat bagi orang banyak. Inilah keinginan yang dilandasi pikiran positif tentang kesuksesan yang berbalut moralitas, energi, dan pikiran murni. Maka, ketika kita memiliki kelebihan, tidak akan ragu bersedekah atau beramal, tidak akan merugikan orang lain, semangat bakti sosial, serta tidak membenci siapa pun dan apa pun.

Energi hidup orang seperi di atas ialah energi semangat menggebu untuk terus memberikan makna hidup bagi diri sendiri dan orang lain. Pikirannya dipenuhi energi berlimpah, yang dapat mengubah diri dalam wujud materi atau apa pun bentuknya sesuai dengan dorongan keinginan. Inilah kebijaksanaan hidup yang tidak mudah diperoleh setiap manusia.

Kadang, kita terhanyut dengan keinginan-keinginan semu, tetapi ketika hal itu diberikan Allah Swt., kita tidak dapat menggunakannya untuk sesuatu yang positif. Karenanya, sebagai makhluk sosial, setiap orang tidak akan pernah hidup sendiri, tanpa bergantung pada orang lain yang ada di sekitarnya.

Seseorang akan selalu butuh dengan yang lain, tidak hanya untuk saling bantu dan tolong menolong, tapi juga untuk membangun komunitas sosial yang saling mendukung dan bekerja sama untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

BACA JUGA:   Memberi Itu Harus Memberdayakan!

Harta dari hasil usaha bisnis-ekonomi tidak boleh dihambur-hamburkan dengan cara yang mubazir dan boros. Perilaku boros di samping tidak terpuji juga merugikan usaha pengembangan bisnis lebih lanjut, yang pada gilirannya merugikan seluruh orang yang bekerja untuk bisnis tersebut.

Anjuran untuk berlaku tidak boros itu juga berarti anjuran untuk menjalankan usaha dengan cermat, penuh perhitungan, dan tidak sembrono. Untuk bisa menjalankan bisnis dengan cara demikian, dianjurkan selalu melakukan pencatatan-pencatatan seperlunya, baik yang menyangkut keuangan maupun administrasi lainnya, sehingga dapat dilakukan pengelolaan usaha yang lebih baik.

Kinerja bisnis saat ini sedapat mungkin harus selalu lebih baik dari masa lalu dan kinerja bisnis pada masa mendatang harus diikhtiarkan untuk lebih baik dari masa sekarang. Islam mengajarkan bahwa hari ini harus lebih baik dari kemarin, dan besok harus lebih baik dari hari ini. Pandangan seperti itu harus diartikan bahwa evaluasi dan perencanaan-bisnis merupakan suatu anjuran yang harus diperhatikan.

Seandainya pengelolaan bisnis harus diserahkan pada orang lain, maka seharusnya diserahkan kepada orang yang mau dan mampu untuk menjalankan amanah yang diberikan. Kemauan dan emampuan ini penting karena pekerjaan apapun kalau diserahkan pada orang yang tidak mampu hanya akan membawa kepada kegagalan.

BACA JUGA:   Pesantren; “Laboratorium” Sosial dan “Bengkel” Moral

Baik kemauan maupun kemampuan itu bisa dilatih dan dipelajari. Menjadi kewajiban mereka yang mampu untuk melatih dan mengajar orang yang kurang mampu.

Semakin besar usaha bisnis-ekonomi yang dijalankan biasanya akan semakin banyak melibatkan orang atau lembaga lain. Islam menganjurkan agar harta itu tidak hanya berputar-putar pada orang atau kelompok yang mampu saja dari waktu ke-waktu.

Dengan demikian makin banyak aktivitas bisnis member manfaat pada masyarakat akan makin baik bisnis itu dalam pandangan agama.

Manfaat itu dapat berupa pelibatan masyarakat dalam kancah bisnis itu serta lebih banyak, atau menikmati hasil yang diusahakan oleh bisnis tersebut. Sebagian dari harta yang dikumpulkan melalui usaha bisnis-ekonomi maupun melalui jalan lain secara halal dan baik itu tidak bisa diakui bahwa seluruhnya merupakan hak mutlak orang yang bersangkutan.

Mereka yang menerima harta sudah pasti, pada batas tertentu, harus menunaikan kewajibannya membayar zakat sesuai dengan syariat. Selain itu, kita juga dianjurkan untuk memberi infaq dan shadaqah sebagai perwujudan rasa syukur atas ni’mat rejeki yang dikaruniakan Allah kepadanya.

BACA JUGA:   Menakar Gerakan Islam Berkemajuan di Jawa Barat

Dalam situasi yang sarat masalah dan beban hidup yang semakin berat seperti saat ini, sangat penting bagi kita untuk mengedepankan budaya tolong menolong guna menyelesaikan berbagai persoalan berat.

Saat ini kita tidak bisa menggantungkan harapan berlebih kepada pemerintah untuk menyelesaikan krisis ekonomi yang melanda negeri ini. Sebagai orang berpunya dan diberi  kelebihan rezeki oleh Allah Swt., sudah seharusnya bila sebagian dari rezeki dialokasikan untuk orang tak berpunya yang ada di sekitar kita. Atau menjadikannya sebagai sarana pemberdayaan agar kaum fakir miskin itu dapat lebih berdaya dan mandiri.

Budaya memberi apa yang kita peroleh merupakan tanda kebijaksanaan kita sebagai manusia. Tradisi memberi seperti inilah yang perlu dibangun dan diperkuat kembali yang bisa dimulai dari unit terkecil dalam komunitas masyarakat sehingga tercipta kerukunan antar tetangga dan warga yang walau pun majemuk dan heterogen. Kita pun bakal mampu memanfaatkan harta dan kekayaan sebagai kekuatan untuk hidup bahagia di akhirat nanti.