SEGENAP aktivitas manusia memiliki nilai ibadah apabila disertai dengan kesucian tujuan. Termasuk ketika kita bekerja di sebuah perusahaan atau bekerja untuk perusahaan sendiri. Tujuan itu sangat memegang peranan penting yang menentukan “bernilai” ataukah “tidak bernilai” aktivitas kerja kita.Inti tujuan hidup ialah mengarahkan segala aktivitas tertuju pada pengabdian tanpa henti kepada Allah, sehingga kita memiliki konsep hidup bertauhid.

Allah SWT berfirman, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS Adz-dzariyat, 51: 56). Ayat ini mengindikasikan, sejatinya kita mendasarkan segala tujuan hidup untuk beribadah kepada-Nya. Dengan prinsip ibadah ini tentunya akan mengajarkan agar seseorang mampu bekerja sesuai kapasitas semangat, pengabdian, setia, dan loyal pada tujuan perusahaan yang ditetapkan. Dalam bahasa sederhana, ia akan menjadi seorang pekerja baik, profesional dan berintegritas. Budaya kerja yang berlandaskan spiritualitas ilahi atau keimanan dapat mendorong seseorang memiliki integritas yang dijunjung tinggi.

Karena itu, ketika kita bekerja akan mengoptimalkan diri sehingga seluruh aktivitas kerja selalu dibarengi dengan doa, harapan dan kerja keras. Di tengah kondisi ekonomi umat Islam yang mengkhawatirkan, maka seorang muslim tentunya harus melakukan ketiga hal tersebut (doa, harapan dan usaha). Di dalam kalimat-kalimat doa ada penyebutan asma Allah yang bisa dijadikan sebagai pengokoh jiwa kita ketika sedang bekerja. Pengulangan asma Allah ketika berdoa akan memodali seseorang untuk berani menghadapi kerasnya kehidupan.

BACA JUGA:   Hubungan Erat Antara Keimanan dan Kemajuan

Dalam bahasa lain, doa adalah semacam dorongan membangun karakter kepribadian lebih baik sehingga dapat mengeluarkannya dari segala lilitan masalah.  “Ya Allah, tiada yang mudah selain yang kau mudahkan dan Engkau jadikan kesusahan itu mudah jika Engkau menghendakinya jadi mudah.” (HR Ibnu Hibban).

Itulah mengapa doa saya pahami sebagai sesuatu yang bisa menghunjamkan kekuatan diri. Dengan berdoa, seorang manusia menjadi tangguh, kokoh, tabah, disiplin, dan tidak berhenti berkarya untuk kemajuan perusahaan. Sebagai manusia, kita memiliki sifat-sifat dan potensi yang tidak dimiliki mahkluk lain. Manusia diciptakan dari tanah dan Ruh Ilahi, kemudian diberi anugerah potensi antara lain: bertanggung jawab, mampu menyusun konsep, mengemukakan dan menjalankannya.

Ketika kita berdoa sebetulnya tengah mengaktifkan aura kesucian yang sejak dulu diberikan Allah Swt. Ketika berdoa ada asma-asma Allah yang selalu diucapkan dan itu akan menyadarkan atas kehadiran-Nya dalam hidup. Maka, ketika kita sadar atas kehadiran Allah akan muncul dorongan yang selalu mengarahkan kita berpikir, bersikap, dan bertindak positif.

Karena itu, ketika kita bekerja, semestinya diawali dengan berdoa kepada Allah agar diberi kekuatan dalam mengerjakan apa yang menjadi tanggung jawab kita, kemudian berusaha keras menghasilkan kerja yang berkualitas. Misalnya, ketika pekerjaan harus diselesaikan sesuai target (deadline), tentunya tidak bisa diselesaikan hanya dengan meratapi tanpa ada usaha sungguh-sungguh. Bagi seorang muslim tumpukan pekerjaan akan dijadikan sebagai sarana beribadah kepada-Nya dan wahana perwujudan keimanan di dunia kerja. Itulah karakter kepribadian seorang pekerja Muslim yang profesional dan berintegritas.

BACA JUGA:   Bolehkah Ziarah Kubur? Ini Pendapat Muhammadiyah

Namun, sebagian dari kita ada yang beranggapan memberikan kontribusi pada perusahaan, kantor atau dimana kita bekerja adalah hanya dengan melakukan pekerjaan sebesar-besarnya. Tentu saja ini benar dan harus dijadikan dasar pemikiran. Akan tetapi, jangan lupa bahwa kita bisa berkontribusi untuk perusahaan kita, tempat kita bekerja dan berkarya melalui doa-doa sederhana yang dipanjatkan dengan tulus. Dengan berdoa untuk kebaikan orang-orang di sekeliling kita, bawahan, atau atasan kita merupakan wujud kontribusi yang bersifat suci. Tuhan adalah Penyumbang sejati untuk sebuah kesuksesan, keberhasilan, dan kemenangan. Tak ada kesuksesan tanpa izin dari-Nya. Karena itu, tidak ada salahnya demi kesuksesan karir, kemajuan usaha, dan perkembangan bisnis; kita berdoa kepada sang Maha Pemilik, Allah SWT.

Seorang pekerja yang berdoa posisinya sama dengan orang yang bersedekah. Kita sering kali lupa bahwa sedekah terbesar adalah berdoa. Karena dengan berdoa seseorang akan mendapatkan berkah dan keberhasilan. Begitu juga ketika kita berdoa sebelum dimulai aktivitas kerja di kantor. Apabila aktivitas suci ini dilakukan, maka segala apa yang kita kerjakan akan bernilai ibadah. Seorang pekerja yang tidak melupakan kehadiran Allah di kantornya memiliki ketauhidan yang kokoh.

BACA JUGA:   Saat Jiwamu Lelah, Berhentilah Mengeluh kepada Sesama Manusia

Tuhan, dalam paradigma kinerjanya tidak hanya hadir di saat bulan Ramadhan saja, tetapi hadir dalam setiap desah nafas hidupnya. Jadi biasakanlah menutup setiap meeting, rapat, dan pertemuan dengan doa. Caranya bisa kita lakukan dalam hati sesuai kepercayaan masing-masing. Kita harus yakin bahwa Tuhan Maha Mendengar doa-doa kita semua siapapun dia, sebagai apapun dia; sebab Tuhan Maha Kasih Yang Tidak Pernah Pilih Kasih.

Semoga Tuhan Memberkati Anda semua dan menjadi manusia penyebar kesuksesan bagi yang lain, sukses di alam materi dan alam besar nanti. Kehadiran para pekerja yang bertauhid di instansi pemerintah atau perusahaan-perusahaan dapat mendorong kualitas kerja dan produksi. Selamat bekerja dengan kerangka tauhid.

Allah SWT berfirman, “Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut (tidak memaksa). Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik (kinerja baik dan berkualitas).” (QS. Al-A’raf, 7: 55-56). Wallahua’alam

Oleh: DRS. H. IDAT MUSTARI, SH (Calon Legislatif Partai Demokrat Dapil 4 [Rancaekek, Cikancung, Cicalengka, Nagreg] Nomor 3).
Penulis: H. IDAT MUSTARI

Editor: SUKRON ABDILAH