Berdoalah Agar Kita Tidak Terjebak pada Syirkul Mahabbah (Dualisme Cinta)

Suatu ketika, saat Nabi Ibrahim as hendak dicabut nyawa malaikat Izrail, beliau berkata: “Pernahkah engkau melihat seorang sahabat yang mengambil nyawa sahabatnya?”

Allah pun langsung menjawabnya, “Pernahkah engkau melihat seorang kawan yang tidak suka untuk melihat kawannya?”

Nabi Ibrahim pun berkata, “Wahai Izrail, ambillah nyawaku!” (HR. Bukhari).

Setiap Muslim sepakat bahwa cinta kepada Allah adalah suatu kewajiban, sebagaimana Dia berfirman, “Orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah: 165). Bahkan, nabi Muhammad Saw pun bersabda, “Seorang hamba tidak beriman sebelum Aku (Allah) lebih dicintainya dari keluarganya, hartanya dan semua orang.” (HR. Muslim).

Sesiapa saja yang menduakan cinta kepada Allah dengan makhluk-Nya, ia telah melakukan sebuah pengkhianatan yang disebut syirik. Perbuatan syirik merupakan dosa terbesar. Dosa yang dapat menjauhkan kita dari Allah.

Kita tahu, bahwa Allah adalah sumber cinta kita yang paling utama dalam kehidupan. Oleh sebabnya marilah kita menempatkan cinta kepada Allah di tempat yang paling tinggi dalam hati. Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 165, “Dan antara manusia ada orang yang menjadikan selain Allah sebagai tandingan. Mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika merika melihat seksa( pada hari kiamat), bahawa kekuatan itu kepuyaan Allah smuanya, dan bahawa Allah amat berat seksaan-Nya nescaya mereka akan menyesal).”

Dalam ayat tersebut para ulama sepakat bahwa syirik cinta atau syirkul mahabbah merupakan dosa besar. Syirik tersebut merupakan wujud menduakan cinta kepada Allah, dan menjadikan selain-Nya sebagai penghuni tahta tertinggi di hati kita.

Ibnu Taimiyah pernah berkata, “Jika seseorang memikirkan yang lain sehingga membuatnya lupa pada Allah, maka seakan-akan dia telah mempunyai Tuhan yang baru.”

Seseorang yang telah menduakan cinta kepada Allah akan terus dilanda kegelisahan, gundah gulana dan bermacam rasa tak mengenakan, karena terlalu cinta kepada makhluk lain yang itu lambat laun membuat seorang Muslim melupakan esensi Allah sebagai Tuhannya.

Seyogianya cinta yang harus kita semai adalah cinta kepada-Nya, karena Dialah yang mampu membolak-baliakan hati setiap makhluk. Apabila hati telah sepenuhnya mencintai Allah, maka spirit untuk mencintai sesama dilandasi dengan cinta kepada-Nya, yang mana cinta itu bisa dicontohkan seperti mengasihi kaum Mustadhafin atau bahkan mengasihi lingkukan hidup sebagai media ibadah setiap Muslim untuk mecapai cinta-Nya.

Salah satu langkah yang harus kita tempuh untuk terus menumbuhkan rasa cinta kepada Allah, ialah seperti apa yang dikatakan Imam Al-Ghazali dalam kitabnya Kimyatus Saa’dah, “Cinta merupakan sumber kebahagiaan dan cinta kepada Allah harus tetap di pelihara dan dipupuk, suburkan dengan shalat serta ibadah yang lainnya.”

Mari kita perbanyak berdoa kepada Allah seperti doa yang pernah diajarkan oleh Nabi Muhammad kepada para shahabatnya, “Ya Allah, berilah aku kecintaan kepada-Mu dan kecintaan kepada orang-orang yang mencintai-Mu, dan apa saja yang membawaku mendekat kepada-Mu. Jadikanlah cinta-Mu lebih berharga bagiku dari pada air dingin bagi orang-orang yang kehausan.”

Juga seperti apa yang dipesankan Imam Hasan Al-Basri, “Orang yang mengenal Allah akan mencintai-Nya dan orang yang mengenal dunia akan mebencinya.”

Jika kita membaca makna beberapa sumber di atas, sesungguhnya itu merupakan maksud mahabbah kita kepada Allah. Cintai Allah secara paripurna, maka Dia akan mencintai kita dengan penuh kasih sayang-Nya. Jika kita telah mendapatkan cinta-Nya secara hakiki, maka hidup kita akan lebih tenang dan damai, karena sesungguhnya sumber cinta semesta ada di tangan-Nya. Dia yang memegang kendali atas hati kita sebagai alat untuk mencintai.

Penulis: NYANYANG FAQOTH, Kabid Kader PK IMM Ashabul Yamin.

Editor: SUKRON ABDILAH