Kadang kita menganggap bahwa penyakit yang menimpa adalah sebuah musibah. Padahal tidak hanya itu. Penyakit yang kita derita sebetulnya adalah ujian yang diberikan Allah untuk menguji keimanan. Ketika penyakit diposisikan sebagai bahan ujian hidup, kita akan menghadapinya dengan sabar, tabah dan tawakal. Dengan inilah sebetulnya dari dalam diri kita akan lahir dorongan untuk sembuh.

Sehat dan sakit adalah bumbu kehidupan. Seperti halnya rasa asin dan manis dalam semangkuk sayuran. Gerobak dan roda yang didorong pemulung. Dan, seperti dua sisi mata uang dalam kepingan uang logam. Atau seperti laki-laki dan perempuan dalam hidup ini. Keduanya berbeda tetapi ada keterkaitan yang akan menciptakan kedewasaan hidup ketika mampu bersabar menhadapi suatu penyakit dalam diri kita.

Penyakit dan penderitaan bukanlah suatu peristiwa yang berdiri sendiri. Ia memiliki beberapa sisi dan dapat dimaknai secara multi-makna dari berbagai pendekatan. Ia bisa dimaknai secara teologis, secara biologis, secara psikologis, atau secara sosiologis.

BACA JUGA:   Hidup Menjaga Martabat

Secara teologis, sebagaimana sudah pada maklum, serangan suatu penyakit bisa diartikan sebagai peringatan atau ujian. Secara biologis, pengalaman sakit tiada lain kecuali isyarat ketimpangan dan ketidakseimbangan tubuh. Secara psikologis, kemunculan suatu penyakit pada seseorang merupakan isyarat adanya gangguan mental. Sementara itu, secara sosiologis, penderitaan suatu penyakit bisa merupakan akibat dari hubungan sosial yang tidak terjalin baik.

Sisi manapun yang menjadi pendekatan, satu hal yang pasti adalah setiap penderita suatu penyakit menginginkan kesembuhan secepatnya. Upaya penyembuhan dapat dilakukan melalui pendekatan medis, yang lebih banyak bersifat jasmaniah dan biologis, atau melalui pendekatan ruhaniah yang lebih menekankan aspek psikologis dan spiritual-religius.

Kedua pendekatan itu dapat saling berbagi tugas dan saling melengkapi. Keduanya tidak perlu saling menyisihkan atau saling menafikan. Justeru, bila kedua pendekatan ini bersatu, ia akan melahirkan sintesa pendekatan yang lebih berbobot sinergis.

BACA JUGA:   Berislam itu Akal Harus Menyerah!

Keyakinan terhadap kesembuhan harus terus ditanamkan dalam diri dengan berusaha berobat secara medis dan melantunkan munajat yang bisa membangkitkan semangat hidup. Ketika kondisi sakit tidak disikapi secara bijaksana, tentunya akan berakibat pada lahirnya ketidakberkahan. Bahkan, darinya akan lahir keluh-kesah yang tidak bermanfaat bagi kesembuhan.

Sa’ad ibn Abu Waqqash menceritakan suatu ketika Nabi Muhammad Saw. menengoknya saat ia menderita sakit parah. Pada waktu itu, Sa’ad ibn Abu Waqqash kepada Nabi mengeluh, “Baginda melihat penyakit parah yang aku derita. Aku punya harta. Tapi, aku tidak memiliki ahli waris selain seorang puteriku.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Sekali lagi, keluhan itu tidak menunjukkan sikap melawan dan putus asa. Keluhan tersebut masih berada dalam batas-batas wajar. Ketika keluh-kesah tidak wajar, malah berlebihan; itulah yang tidak boleh dilakukan seorang muslim. Sebab, dengan keluh-kesah yang tidak wajar, akan mengakibatkan keimanan berubah menjadi kekufuran.

BACA JUGA:   Percaya Deh, Allah Mahakaya, Dia Yang Nentuin Rezeki

Kita – ketika berkeluh-kesah berlebihan – akan mencoba untuk mencela dan memaki Allah karena telah menimpakan penyakit kepada kita. Akibatnya, keimanan kita kepada-Nya menjadi berkurang. Padahal, kalau ditelisik secara teologis kondisi sakit merupakan nikmat dari-Nya. Dengan kondisi sakitlah seseorang dapat mengingat kematian, hingga ada perubahan positif pada sisi keimanannya.

Oleh karena itu, bagi seorang muslim ketika dirinya sedang dilanda suatu penyakit semestinya selalu dibarengi dengan ketabahan dan kesabaran. Dari bibir seorang muslim harus terus basah dengan kalimat-kalimat harapan kepada-Nya untuk kesembuhan sebagai bentuk penguatan diri agar dapat bertahan hidup.

Dalam bahasa lain, berdoa ataupun zikir merupakan cara tepat untuk menyertai proses pengobatan dengan cara medis ketika sedang tertimpa suatu penyakit, baik ringan maupun berat.