Bisikan maut dari salah seorang pengurus Aisyiyah Kota Bandung, membuat berdiri bulu romaku. Ngeri. Saat waktu pencoblosan tinggal menghitung hari, ternyata masih banyak kader muhammadiyah yang masuk dalam kategori swing votter. Tak tahu harus memilih siapa dalam perhelatan akbar pesta demokrasi tahun ini.

Sementara, di sisi lain, sang kontestan, mengaku telah turun gunung (walau tak sampai turun got), menyapa dan memperkenalkan diri kepada khalayak. Pertanyaannya, khalayak mana? Sementara di rumahnya sendiri, ada anggota keluarga yang tak tahu dirinya ikut sebagai peserta pemilu.

BACA JUGA:   Ini yang Terjadi Saat Emak-Emak Terjebak Politik Identitas!

Anjuran PP Muhammadiyah agar warga Muhammadiyah memilih caleg dan calon DPD dari kader Muhammadiyah mesti saling melengkapi. Warga perlu tahu, pun kandidat perlu mensosialisasikan dirinya. Hingga setali tiga uang, gayung bersambut, misi dakwah kebangsaan bisa sukses tercapai.

Acara silaturahim dan diskusi yang diselenggarakan forum kebangsaan berkemajuan, sabtu (19/1), berusaha merekatkan kembali buah praksis ijtihad politik Muhammadiyah dalam gerakan politik praktis, Partai Amanat Nasional dengan Muhammadiyah. Walau pertemuan ini masih pada tingkat elit, tapi ini mendapat apresiasi tinggi dari semua pihak.

BACA JUGA:   Allah Itu Diingat, Bukan (Hanya) Dipikirkan

Setidaknya dari seorang ibu aisyiyah yang sampai berderai airmata mengungkapkan betapa dia bahagia bisa bersilaturahmi dengan kader muhammadiyah dari PAN yang akan berlaga nanti. Beliau sekeluarga dan jamaah Muhammadiyah di Cabangnya akan mendukung total. Bahkan siap menjadi relawan untuk mensukseskan kader Muhammadiyah di PAN. Relawan di Muhammadiyah benar-benar rela memberikan waktu, tenaga dan materinya untuk kesuksesan kader Muhammadiyah di PAN. Mendengar semangat dan antusiasme sang bunda, sampai merinding buku kudukku.

BACA JUGA:   Netralitas di Era Sosialita Pilpres

Pemilu sudah dekat. Ada PR berat yang mesti dikerjakan. Warga yang bingung memilih, dan kandidat yang bingung takut tidak dipilih. Dalam atap yang sama, sudah seharusnya kita saling paham. Sudah saatnya kita turun ke wilayah akar rumput. Jamaah. Wilayah elit pimpinan sudah sepemahaman. Jamaah perlu petunjuk teknis. Mereka perlu panduan siapa yang mesti dipilih. Teknis dan praktis.