Forum Rutin “Sekolah Politik Muhammadiyah”

Di tahun politik ngerumpinya urusan politik. Nongkrong di warung kopi sambil bahas politik. Di pasar juga bahasannya tentang politik. Di sekolah dan mesjid tidak luput dari diskusi politik. Pengajian juga sarat dengan muatan politik.

Bagi Muhammadiyah politik bukan barang baru. Pendiri Muhammadiyah juga pintar bersiasat. Teks-teks resmi Muhammadiyah tidak menapikan urusan politik. Bahkan perdebatan tentang politik selalu hadir di ruang-ruang resmi persyarikatan tatkala Kh. Ahmad Dahlan masih ada.

Namun Muhammadiyah bukan partai politik. Walaupun menganggap penting politik, Muhammadiyah membangun garis demarkasi dengan lembaga politik. Namun secara terbuka Muhammadiyah mempersilahkan kader-kadernya untuk terjun ke dunia politik — karena itu bagian dari upaya dakwah.

Event langka yang dilakukan oleh Muhammadiyah Kota Bandung hari ini (19/1) yang menyelenggarakan silaturahim dan diskusi politik cukup menarik. Walaupun tidak mengatasnamakan PDM secara tegas, tetapi seluruh yang hadir adalah pengurus dan kader Muhammadiyah di Kota Bandung.

Di ruang yang hangat ini terdapat calon DPD RI, Caleg DPR RI, Caleg DPRD Provinsi Jabar, dan sejumlan Caleg DPRD Kota Bandung. Ke seluruhan Caleg itu asli kader Muhammadiyah aktif, ada yang di PWM, PWA, PDM, PCM bahkan di Ortom.

Setelah forum silaturahim Caleg lintas Partai yang di selenggarakan LHKP PWM Jabar periode Pak Samuh, forum ini setahu saya baru dilaksanakan kembali. Walaupun hanya seluruh caleg dari PAN, forum itu menegaskan kembali relasi PAN dan Muhammadiyah. Mengapa tidak, seluruh Dapil Kota Bandung terdapat kader Muhammadiyah. Bahkan ada yang satu Dapil terdapat dua kader sekaligus.

Saya sendiri sebenarnya ingin mengetahui, setegang apa warga Muhammadiyah berbicara politik dalam forum yang sangat resisten untuk beberapa waktu ke belakang. Ternyata yang ditemukan adalah kehangatan dan keakraban. Suasananya cair bahkan sangat produktif.

Dasar orang Muhammadiyah, diskusi politik tidak ada bedanya dengan pengajian. Bahkan pada taraf tertentu seperti pengkaderan Muhammadiyah. Ke tiga narasumber (Teh Tia, Kang Rizal, dan Kang Uum) yang semuanya Caleg, tampil seperti penceramah di depan jamaahnya.

Suasana dalam forum yang bertabur Caleg, tidak ada wajah tegang dan sangar. Politisi Muhammadiyah (yang asli) begitu humanis dan sejuk. Di sini mungkin relevansi disertasi Lely yang menjelaskan bahwa perilaku Anggota Dewan di Parlemen, sangat dipengaruhi dari bassic pergaulan sosialnya. Warga Muhammadiyah walaupun terjun di dunia politik maka yang tampak adalah kemuhammadiyahannya.

Di luar konteks tadi siang, saya sebenarnya melihat pandangan dan perilaku warga Muhammadiyah secara umum yang sudah lebih cair mensikapi dunia politik. Ketidaksukaan terhadap politik tidak terlalu ekstream. Bahkan secara umum sudah lebih melek. Karenanya, kahadiran forum yang kental politik praktis juga tidak menjadi persoalan untuk kondisi hari ini.

Satu langkah lebih maju, Muhammadiyah secara kelembagaan sebenarnya memiliki peluang untuk melakukan gerakan massif. Walaupun tidak menjadikannya sebagai maenstream gerakan, namun mendorong kadernya terjun ke dunia politik juga harus difasilitasi dengan baik. Selain melakukan himbauan secara internal, juga secara kelembagaan Muhammadiyah melakukan pelebaran jaringan ke pihak-pihak lain. Apa sebab? Karena secara matematis, kondisi eksisting jumlah warga Muhammadiyah tidak mencukupi untuk mengantarkan Calegnya menjadi anggota dewan dari Dapilnya masing-masing. Terlebih untuk Calon DPD RI.

Namun, di luar momentum silatutahim politik yang dilakukan hari ini, saya berharap kesempatan ini menjadi monumen (meminjam bahasa Rocky Gerung) yang akan terus dikenang dan diteruskan dengan forum-forum lanjutan.

Di samping kegiatan dakwah di segala bidang yang sudah berjalan, forum-forum politik ini penting untuk didawamkan sebagai bentuk pendidikan politik. Baik ada Pemilu atau pun tidak, literasi politik ini harus didorong agar menjadi agenda berkelanjutan dalam rangka mendewasakan kader dan persyarikatan di dunia politik.

Mudah-mudahan tidak berlebihan jika saya mengusulkan ke depan dibuat forum khusus yang lebih terstruktur terkait politik. Saya usulkan forum rutin itu dinamakan “Sekolah Politik Muhammadiyah”.