Sudah menjadi hal yang umum bahwa Islam adalah agama yang memiliki jumlah penganut terbanyak di negara ini yang dikenal dengan sebutan muslim/muslimah. Kata Islam sendiri berasal dari bahasa Arab Aslama – yuslimu – islaaman yang berarti berserah diri. Sedangkan kata muslim/muslimah merupakan bentuk isim fail atau subjek yang memiliki arti orang yang berserah diri. Orang yang menjalankan aturan-aturan agama Islam dengan penuh ketundukan dan kecintaan pada Tuhan.

Al-Qur’an ialah pedoman hidup utama umat Islam yang Allah anugerahkan pada hamba-Nya sebagai petunjuk yang tidak hanya mampu memberi berbagai arahan namun juga mampu menenangkan. Dalam Al-Qur’an terdapat satu surat yang dinamakan An-Nisa yang artinya wanita-wanita. Tentu surat ini mengandung berbagai penjelasan untuk wanita muslimah seputar berbagai hal. Sehingga bila berbicara perihal muslimah akan lebih menarik untuk diperbincangkan.

Seorang muslimah adalah wanita yang memiliki banyak keistimewaan. Ia adalah induknya bangsa ini, yang melahirkan berbagai generasi tangguh dari masa ke masa. Dengan demikian, bukan hal yang aneh bila kita temukan berbagai seminar, training atau semacamnya yang membahas seputar muslimah. Dimulai dari berbagi tips untuk menjadi muslimah yang sejati, sampai kiat-kiat untuk menjadi istri yang dicintai suami.

Namun tentu tidak semua muslimah senang menghadiri kegiatan-kegiatan semacam itu. Mereka akan memilih alternatif lain seperti membaca buku atau tulisan-tulisan di sosial media yang kini marak digandrungi baik oleh kalangan anak-anak maupun orang tua.

Berbicara sosial media tentunya tidak jauh dari istilah-istilah selfie, update status atau mengisi kolom komentar untuk mengkritisi berbagai hal. Aktifitas-aktifitas semacam itu kini seakan sudah menjadi gaya hidup seseorang, tidak terkecuali bagi seorang muslimah.

Salah satu karakteristik pengguna sosial media saat ini ialah ingin selalu menginformasikan aktifitas peribadinya pada khalayak ramai di dunia maya. Bahkan rasanya akan aneh bila dalam sehari tidak membuka akun sosial media.

BACA JUGA:   Din Syamsuddin Desak Pemerintah Bela Nasib Muslim Uighur China

Perkembangan teknologi memang begitu pesat. Berbagai informasi sangat mudah didapat. Sehingga perilaku bahkan keseharian seseorang pun kini bukan hal yang sulit untuk diketahui. Ketika seorang muslimah misalnya, ngepost foto dirinya dengan hijab yang dikenakannya disertai tangan yang menutup wajah, lalu ia memberi caption yang berkonten ajakan-ajakan untuk berbuat kebaikan. Mungkin orang akan menilai ia adalah seseorang yang bagus agamanya, wanita idaman bagi para lelaki yang mengharapkan pendamping bak bidadari surga.

Ada lagi yang terang-terangan menampakkan wajah lalu di publikasi ke akun pribadi miliknya. Tak lupa ia memberi caption yang menjelaskan bahwa ia telah berhijrah. Dari masa-masa jahiliyah yang dulu sempat ia lalui. Ia kini akan istiqomah untuk menjadi sebenar-benarnya muslimah.

Seperti itukah makna hijrah?

Fenomena yang terjadi saat ini ialah masih banyaknya muslimah yang mengatasnamakan hijrah untuk sebuah popularitas atau eksistensi dirinya semata. Untuk mendapat ribuan followers atau like. Bahkan tak sedikit yang mendapat tawaran untuk menjadi endorse dari berbagai iklan. Tak bisa dipungkiri hal semacam itu sudah menjadi trend tersendiri di kalangan muslimah saat ini.

Persoalan wanita muslimah memang tidak akan ada habisnya. Segala bentuk aktivitas yang dilakukannya kerap menjadi sorotan bahkan cibiran yang sulit dihindarkan. Ketika seorang muslimah ingin menyampaikan kebaikan di sosial media misalnya, memberi nasihat dan motivasi-motivasi keislaman. Namun disertai dengan foto dirinya yang tengah menggunakan hijab ataupun niqab, tentu ada saja orang yang berpandangan bahwa fenomena tersebut tidaklah sesuai dengan yang Islam ajarkan.

Bahkan ada segolongan masyarakat yang mengharamkan gambar, terutama yang memperlihatkan area kepala. Sebagaimana dalam sebuah hadits dikatakan: “(Ciri-ciri) gambar adalah terdapat kepala, apabila kepala (gambar) itu dihilangkan, maka bukan lagi dikatakan gambar.” (HR. Al-Baihaqi 7/270)

Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits tersebut memiliki derajat yang shahih sehingga tidak diragukan lagi kebenarannya. Berdasarkan hadits tersebut, sejumlah ulama bahkan ada yang melarang untuk membuat foto yang identik dengan gambar, termasuk foto selfie.

BACA JUGA:   Menakar Gerakan Islam Berkemajuan di Jawa Barat

Bila seorang muslimah berfoto selfie lalu mengunggah di berbagai media dengan harapan banyak orang yang akan memberi like, komentar, share, dan sebagainya. Kemudian ia merasa bangga karena banyak orang yang mengapresiasi, bukankah itu sama saja dengan ujub?

Dari Ibnu Umar r.a bahwasannya Rasulullah Saw., bersabda: “Adapun tiga hal yang membinasakan itu adalah kekikiran yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan ujub (kekaguman) seseorang terhadap dirinya sendiri.” (HR. Ath-Thabraniy di dalam Al-awsath).

Dakwah di sosial media memang baik, karena konon katanya masyarakat sekarang lebih senang nongkrong di sosmed dari pada di masjid. Sehingga ia bisa menjadi sarana untuk berdakwah. Mengajak dan mengingatkan sesama pada hal-hal positif yang diajarkan Islam. Bahkan tak sedikit pula yang mencantumkan berbagai hadits atau ayat Al-Qur’an sebagai dalil penguat.

Namun bagi seorang muslimah tentu harus mengetahui batasan-batasan ataupun aturan yang memang berbeda bagi kaum laki-laki. Dengan berdakwah disertai menampilkan foto wajahnya yang anggun, tentu tetap akan mengundang mata para lelaki yang sudah dijaga dengan kokoh untuk memelihara pandangannya. Alih-alih ingin menebarkan kebaikan justru malah mendapat balasan keburukan. Dari lubuk hati murni ingin berbagi ilmu pada akhirnya justru menjadi benalu.

Sama halnya dengan menjadi endorse untuk berbagai iklan, hijab misalnya. Tentu itu bukanlah hal yang diharamkan dalam agama. Akan tetapi bila maksud menjadi endorse itu hanya untuk mengejar popularitas dan tenar semata ataupun ingin wajahnya dikenal banyak orang karena berhasil mengiklankan salah satu produk.

Apakah itu sudah sesuai dengan aturan dalam Islam?

Proses menjadi baik tentu hal yang baik, bahkan dianjurkan. Begitupun dengan mengajak orang lain pada kebaikan yang sesuai tuntunan memang sudah kewajiban.

BACA JUGA:   4 Sikap IMM Kalbar dalam Aksi Bela Muslim Uighur

Tidak serta merta bila ingin melakukan berbagai hal harus dengan menampakkan wajah agar dikenal. Tentu banyak alternatif yang bisa dilakukan. Tidak menggunakan foto pribadi atau menggunakan gambar-gambar kartun muslimah yang kini banyak ditemukan. Bisa juga dengan menggunakan foto-foto keindahan alam sebagai bentuk kesyukuran pada Sang Pencipta. Lain halnya dengan berdakwah secara langsung di depan khalayak ramai. Itupun tetap ada aturan tersendiri.

Ada sebuah ungkapan yang menyatakan bahwa wanita muslimah adalah perhiasan dunia dan ia lebih mulia daripada bidadari surga. Islam begitu memuliakan wanita. Segala hal telah diatur sedemikian rupa untuk kebaikan wanita. Karena wanita lah yang akan menjadi tonggak majunya suatu bangsa. Bahkan ada yang mengatakan bila perilaku wanita dalam suatu bangsa baik maka akan baiklah bangsa itu. Begitupun sebaliknya, bila wanita dalam suatu bangsa buruk, maka akan buruk pula bangsa itu.

Menjadi muslimah modern dan tidak terbelakang memang menjadi suatu hal yang mesti dilakukan. Menjadi sosok yang dikenal pun tentu didambakan oleh setiap orang tak terkecuali seorang muslimah. Namun bila itu semua dijadikan gaya hidup untuk ketenaran semata dan keuntungan individual, apakah itu makna muslimah sebenarnya?

Islam membuka pintu selebar-lebarnya bagi siapa saja yang ingin mengembangkan potensi dirinya. Memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi mereka yang ingin menabur kebaikan. Tak perlu menjadi muslimah yang ikut-ikutan. Bertaklid buta pada trend zaman. Pola hidup yang diajarkan Islam pun sudah cukup untuk dijalankan tidak perlu lagi dibumbui dengan hal-hal yang justru merusak citra Islam.

Marilah menjadi muslimah yang tidak hanya anggun namun juga cerdas. Menjaga anugerah terindah-Nya dari berbagai pandangan. Menjadi contoh tauladan bagi kehidupan. Menaati aturan Islam dengan penuh kesungguhan, tidak mencemari dengan perilaku yang seolah terlihat baik padahal hanya kamuflase. Serta menjalani hidup dengan kerendah hatian, tidak arogan apalagi mengharapkan ketenaran.