Hukum Transfusi Darah dari Non Muslim, Ini Jawaban Muhammadiyah

Dalam hal donor darah, misalnya, banyak masyarakat dan dokter radikal yang mengharamkan transfusi darah dari orang kafir (non Muslim). Ada sebagian – dokter dan masyarakat – yang menganggap bahwa haram melakukan transfusi darah dari orang selain Muslim. Sebab, ada yang bilang jasad orang kafir itu najis.

Benarkah demikian?

Donor darah ialah kegiatan kemanusiaan dimana orang sehat menyumbangkan darah secara tulus dan ikhlas untuk diberikan pada siapa saja yang membutuhkan transfusi darah.  Dan, transfusi darah adalah memanfaatkan darah manusia dengan jalan memindahkannya dari tubuh orang yang sehat kepada tubuh orang yang membutuhkannya, untuk mempertahankan hidupnya.

Seperti kita ketahui, manusia tidak dapat hidup tanpa darah karena semua jaringan tubuh memerlukan darah. Otak manusia, misalnya, membutuhkan darah yang mencukupi dan teratur. Jika tidak menerima darah dalam tempo lebih dari empat menit, maka sel otak bakal mati, sehingga berpengaruh pada seluruh organ tubuh. Salah satu manfaat donor darah bahwa sumbangan darah dari pendonor dapat menyelamatkan jiwa orang lain secara langsung.

Untuk lebih jelasnya, di bawah ini, kami sertakan pendapat ormas Muhammadiyah tentang donor darah, yang diambil dari website muhammadiyah.or.id dan tarjih.or.id.

Hukum donor darah menurut Muhammadiyah:

Pada dasarnya, darah yang dikeluarkan dari tubuh manusia termasuk najis menurut hukum Islam. Maka agama Islam melarang mempergunakannya, baik secara langsung maupun tidak langsung. Keterangan tentang haramnya mempergunakan darah, terdapat dalam ayat berikut:

Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah.” … [Q.S. al-Maidah (5): 3].

Tetapi bila dalam kondisi darurat, untuk memenuhi kebutuhan manusia, sementara tidak ada jalan lain yang dapat dipergunakan untuk menyelamatkan nyawanya, maka darah yang tadinya najis boleh dipergunakan hanya untuk mempertahankan kehidupan. Misalnya, saat seseorang menderita kekurangan darah karena kecelakaan, Islam membolehkan untuk menerima darah dari orang lain, yang disebut “transfusi darah”.

Transfusi darah sangat dibutuhkan (hajat) untuk menolong seseorang dalam keadaan darurat, sesuai dengan firman Allah Swt dalam Surah al-Baqarah (2) ayat 173: “Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang (yang ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya.”

Selain itu, landasan tentang transfuse darah terdapat dalam Surah al-An’am (6) ayat 119: “Padahal sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya.”

Dan, terakhir, seperti dalam Kaidah fiqh disebutkan: “Tidak ada yang haram bila berhadapan dengan darurat dan tidak ada yang makruh bila berhadapan dengan hajat (kebutuhan).”

Bila dalam keadaan darurat yang dialami oleh seseorang maka agama Islam membolehkan, tetapi bila digunakan untuk hal-hal yang lain maka agama Islam melarangnya. Karena dibutuhkannya hanya untuk ditransfer kepada pasien saja.

Dalam al-Quran dan Hadis, tidak ditemukan satu nash yang menjelaskan hukum donor darah. Jika demikian halnya, maka cara yang harus ditempuh untuk mendapatkan kejelasan hukumnya harus dilakukan ijtihad yang dilakukan secara jama’i (kolektif).

Oleh karena masalah donor berhubungan dengan kesehatan, maka tidak cukup ulama saja tapi juga dibutuhkan bidang ilmu kedokteran sehingga tidak terjadi hal yang dapat mengancam kesehatan si donor dan resipien.

Menyumbangkan darahnya kepada seseorang yang membutuhkan adalah pekerjaan kemanusiaan yang sangat mulia. Hal ini karena dengan mendonorkan sebagian darahnya berarti seseorang telah memberikan pertolongan kepada orang lain, sehingga seseorang selamat dari ancaman yang membawa kepada kematian.

Menyumbangkan darahnya dengan ikhlas kepada siapa saja termasuk amal kemanusiaan yang amat dianjurkan oleh Islam, dan dengan izin Allah akan berdampak pula pada adanya pahala. Seperti halnya orang memberi makan kepada orang lapar yang terancam akan mati.

Donor darah sejalan dengan firman Allah Swt. dalam Surah al-Maidah (5) ayat 32; “… dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.”

Dengan demikian dilihat dari urgensinya, donor darah dalam hukum Islam tidak lepas dari unsur kemaslahatan yang bersifat dharury, yaitu menyelamatkan jiwa manusia dalam keadaan darurat. Sebab jika tidak menggunakan sesuatu yang diharamkan, yaitu darah (benda najis), maka seseorang akan meninggal. Dalam hal ini, orang sakit yang kekurangan darah harus dibantu dengan donor darah.

Berdasarkan pendapat di atas, kami memberi saran kepada ormas Islam seperti NU dan Muhammadiyah untuk menyusun Fiqh Kedokteran Inklusif, dimana tidak ada fanatisme berlebihan dalam hal pengobatan. Sebab, kedokteran merupakan ilmu yang mempunyai daya keilmuan luas dan menembus sekat-sekat klaim kebenaran (Truth claim) agama tertentu.

Seperti yang dilakukan dokter Avicenna. Dia mengambil teori-teori kedokteran dari Barat dan Timur, sehingga melahirkan ilmu kedokteran yang inklusif. Bahkan, banyak pasien-pasien Ibn Sina yang berasal dari penganut agama Kristen, Yahudi, dan Panteisme. Pemahaman keagamaan Avicenna yang inklusif menjadikannya piawai dan ahli dalam hal penyembuhan dan pengobatan baik menggunakan herbal ataupun obat-obat medis.

Artinya, Avecinna tidak fanatik terhadap salah satu metode pengobatan, meskipun ia seorang muslim. Dalam praktik kehidupan sehari-harinya pun, ia terkenal sebagai dokter yang bersahabat dengan berbagai latar keagamaan yang berbeda dengan dirinya.