Luasnya wawasan dan kuatnya pendirian sangatlah penting bagi seorang warga Muhammadiyah. Karena hanya dengannya, kita akan mampu berperan sebagai manusia unggul di zaman berkemajuan ini. Wawasan yang luas, menurut pakar pendidikan, merupakan kebutuhan yang tidak lagi bersifat tersier; melainkan sudah menjadi kebutuhan primer untuk setiap warga dalam mengisi kemajuan peradaban di Negara kita, Indonesia.

Apa jadinya kalau kemajuan peradaban, diisi hanya oleh orang-orang yang kudet (kurang update), buruk perangai, dan sempit wawasan?

Memang sekolah dapat dijadikan sebagai alternatif bagi proses pemupukan wawasan kita, tetapi tetap saja diperlukan kualitas waktu yang disediakan hanya untuk memperluas wawasan dengan aneka kegiatan bermanfaat.

Mari kita lihat beberapa cara agar dapat memperluas wawasan di dalam kehidupan yang serba canggih ini.

  1. Rajin Membaca

Jangan Anda kira bahwa kewajiban membaca hanya berlaku bagi mereka yang sedang menuntut ilmu di lembaga pendidikan formal. Jika Anda sudah tidak menganggap membaca adalah kegiatan penting, misalnya karena Anda bukan lagi anak sekolahan, maka sejatinya anggapan Anda itu sangat salah.

Jangan dilupakan juga bahwa kemerdekaan Indonesia bukan sekedar atas jasa mereka yang gigih mengkat senjata. Tetapi juga berkat jasa mereka yang cerdas dan mahir dalam “memainkan pena”.

Prolamator kemerdekaan Indonesia, Soekarno-Hatta, adalah dua orang teladan manusia yang rajin membaca. Keduanya tidak pernah berhenti membaca, sekalipun berada dalam ruang tahanan atau di tanah buangan. Bung Hatta bahkan sampai berpendirian; sekalipun tubuhnya dikurung di dalam ruangan yang terkunci rapat, selama di sana ada buku, maka sejatinya ia berada dalam kondisi bebas.

BACA JUGA:   Kasih Sayang Allah Mendahului Murka-Nya

Oke, perhatikanlah teladan dalam diri Susi Pujiastuti! Sebelum terpilih menjadi Menteri Kelautan dan Perikanan dalam “Kabinet Kerja”-nya Presiden Jokowi, Susi Pujiastuti mengenyam pendidikan formal tidak sampai tamat SMA.

Tetapi kegigihan Susi Pujiastuti untuk tidak “membuang” kebiasaannya membaca—serta yang dibacanya berhasil memberi bekas pada pendiriannya yang kuat—telah mengantarkan dirinya menjadi salah satu perempuan yang luar biasa.

Buku apa yang dibaca oleh Susi Pujiastuti?

Katanya, sih, buku apa saja, termasuk novel-novel berbahasa Inggris. Mata tak heran jika Menteri Susi dikenal sebagai sosok perempuan berwawasan luas dan fasih berbahasa Inggris.

Tentu termasuk warga Muhammadiyah yang baik, mereka yang dalam kesehariannya masih menyempatkan diri untuk membaca. Toh, membaca dapat Anda lakukan di mana dan kapan saja. Misalnya saat Anda berada di dalam mobil, mall, kereta, bus, kantor, apalagi di rumah. Yang penting, di mana Anda memiliki waktu luang, isilah salah satunya dengan kegiatan membaca.

  1. Mampu Mendengarkan dengan Baik

Anda boleh setuju, boleh juga tidak; selain menunggu, kegiatan atau pekerjaan yang paling membosankan adalah mendengarkan ocehan orang lain. Kadang ada juga yang bersikap curang, saat ia berbicara ingin didengarkan oleh orang banyak, giliran orang lain yang berbicara malah tidak diperhatikannya. Orang curang seperti itu pastinya tidak memahami ungkapan, “pembicara yang baik adalah pendengar yang baik.”

BACA JUGA:   Seputar Hukum Pakai Celana Cingkrang, Ini Pendapat Muhammadiyah

Fungsi dari mendengarkan perkataan orang lain dengan baik tidak jauh berbeda dengan kegiatan membaca berbagaimacam literatur. Di mana ada sisi positif pantas untuk Anda serap, sementara sisi negatif sebaiknya Anda jadikan peringatan agar tidak sampai Anda lakukan.

Maka, manakala orang lain menyampaikan argumentasi, dengarkanlah dengan baik! Itulah tanda bahwa Anda mengapresiasi dan menghargai argumentasi yang orang itu miliki. Sama halnya dengan membaca juga, mendengar bisa dilakukan di mana dan kapan saja. Bisa di sekolah, di jalanan, di kebun, di tempat seminar, atau di tempat lainnya.

Ayolah.., tidak ada salahnya mendengarkan nasihat atau wejangan orang lain. Pelajaran berharga, pengetahuan, dan petunjuk hidup ke arah yang lebih baik dapat Anda dapatkan dari siapa saja, sepanjang ada memiliki kerelaan untuk mendengarkan semuanya.

  1. Jadikan Diskusi dan Tukar Pendapat sebagai Kegiatan Rutin

Jika membaca dan mendengar terkesan sebagai kegiatan satu arah, diskusi dan tukar pendapat justru menjalin komunikasi dua arah. Melalui diskusi dan tukar pendapat Anda bisa saling koreksi satu sama lain: saling dukung dalam hal kebaikan dan saling kritik dalam hal keburukan. Dengan demikian, Anda akan selalu diingatkan agar terus tumbuh menjadi pribadi yang baik.

BACA JUGA:   3 Hal yang Harus Warga Muhammadiyah Lakukan Saat Menggunakan Medsos

Untuk berdiskusi atau tukar pendapat, sebaiknya Anda tidak pilih-pilih orang. Lakukan sengan siapa saja dan di mana saja, sepanjang yang Anda diskusikan adalah hal-hal positif.  Jauh lebih baik Anda berdiskusi dengan banyak orang, ketimbang hanya ngobrol berduaan. Apalagi kalau Anda berdikusi dengan orang yang memiliki pola pikir berbeda, dijamin akan lebih seru jadinya.

  1. Selalu Meng-update Informasi Secepat Kilat

Membaca, mendengar, dan bertukar pendapat jelas tiga hal penting dalam upaya memupuk wawasan Anda. Tapi, Anda juga jangan lupa, bahwa laju informasi berlangsung begitu cepat. Dan, selalu meng-update informasi kekinian jauh lebih penting ketimbang membangga-banggakan diri karena memiliki begitu banyak informasi yang uptodate.

Untuk meng-update informasi secepat kilat, di mana lagi kalau bukan di internet? Selain di sana sudah segala ada, juga hemat biaya ketimbang membeli buku. Lagipula Anda memiliki perangkat elektronik yang selalu terkoneksi dengan jaringan internet, bukan? Salah satunya handphone yang kamu genggam!

Informasi apa yang Anda butuhkan: politik, ekonomi, sosial, budaya, lingkungan, gaya hidup, pendidikan, kesehatan, olahraga, resep masakan, parenting, agama?

Jangan khawatir, berikan saja key word-nya, internet akan kasih jawabannya!