Tidak semata-mata Allah mengaruniakan Anda dengan akal, jika didalamnya tidak pula diikuti dengan kewajiban untuk berpikir. Maka, bagi makhluk yang dikaruniai akal, menjadi keniscayaan tak nisbi bila harus menggunakan potensi pikir yang dimiliki.

Yakinlah…

  • Dengan berpikir, hidup Anda tidak akan terasa sesak.
  • Dengan berpikir, terhadap ujian, rintangan, maupun tantangan yang menghadang; Anda akan dapat mengelak.
  • Bagi seorang manusia yang berpikir; ujian, rintangan, dan tantangan tidak lebih dari sekadar alat pengasah daya pikir supaya semakin dewasa.
  • Bagi manusia berpikir, liku kehidupan, yang sesekali penuh dengan teka-teki, justru akan memperkaya pembendaharaan solusi bagi setiap permasalahan.

Lantas, sebagian dari Anda ada yang bertanya, apa saja yang harus dipikirkan? Jawabannya, tentu saja, banyak hal yang dapat Anda pikirkan! Tapi, untuk tahap awal mulailah dari memikirkan rahasia diri sendiri.

Allah Swt., berfirman, “Dan Mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka? Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang ditentukan. Dan sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Tuhannya.” (QS. Ar-Ruum [30]: 8)

Mungkin, memikirkan hakikat dari diri dendiri adalah pekerjaan yang sangat sulit dan rumit, terutama untuk bersikap positif dan objektif. Misalnya, karena demi kepentingan diri sendiri, Anda sulit mengakui nila setitik yang pastinya ada dalam diri Anda. Bahkan, ketimbang mengakui kesalahan, Anda malah cenderung suka menutup-nutupi kesalahan.

Adalah kecenderungan setiap pribadi, karena tidak mau tampak tercela di hadapan orang banyak, sampai “tega” mendustai hati nurani. Padahal, tidak ada yang dapat bersikap lebih jujur dan objektif, kecuali hati nurani diri sendiri. Tidak ada salahnya, bukan, jika Anda menggunakan prinsip pemikiran sains, sekalipun hanya untuk memikirkan diri sendiri?

Maksudnya…

Memikirkan diri sendiri sekalipun harus dengan pikiran terbuka, jujur, selalu mencari tahu, serta tidak memihak kepada selain dari kebenaran. Misalnya, ketika memikirkan permasalahan hidup, sadari dan akui dulu, bahwa sumber permasalahan itu barangkali berasal dari diri sendiri. Apabila ada di antara Anda yang jatuh miskin, maka sebaiknya tengoklah dahulu ke dalam diri sendiri, sebelum menuduh dan menyalahkan orang lain.

  • Ajukan beberapa pertanyaan penting pada diri pribadi, seperti: apakah Anda sudah cukup memiliki etos kerja yang baik?
  • Jika jawabannya, iya, maka ajukan pertanyaan susulan; apakah pekerjaan yang Anda jalani itu sudah sesuai dengan bidang keahlian Anda?
  • Jika jawabannya ternyata juga, iya, maka jangan bosan untuk mengajukan lagi pertanyaan; apakah Anda sudah bekerja di tempat yang tepat?
  • Begitulah, terus ajukan pertanyaan-pertanyaan kunci, sebagai bahan evaluasi.
  • Jawablah setiap pertanyaan itu dengan jujur, sampai Anda benar-benar mengetahui penyebab hadirnya permasalahan hidup yang Anda alami.
BACA JUGA:   Kader Muhammadiyah Milenial Perlu Tahu! Inilah Cara Manfaatkan Teknologi

Warga Muhammadiyah yang dirahmati Allah, mengajukan pertanyaan-pertanyaan kunci setiap kali Anda menghadapi permasalahan adalah suatu langkah untuk mengevaluasi diri. Sebab, hanya dengan proses evaluasi, Anda dapat mencari dan menentukan solusi.

Ingat…

  • Jangan sesekali memanjakan diri Anda dengan mencari-cari jawaban palsu atas setiap pertanyaan yang Anda ajukan!
  • Jika Anda masih merasa menjadi pribadi pemalas, atau belum melakukan pekerjaan yang sesuai dengan keahlian di tempat yang tepat; maka akui dan ridlalah jika hidup sejahtera masih jauh dari harapan Anda.
  • Memang ada sebagian orang, yang mendapatkan harta berlimpah, berkat warisan dari orang tuanya yang sudah terlanjur kaya raya.
  • Tapi, ketahuilah, sebaik-baik kekayaan adalah yang Anda raih melalui proses jerih, keahlian, dan dari tempat yang tepat.

Proses mengajukan pertanyaan-pertanyaan kunci juga dapat dilakukan manakala Anda menghadapi masalah lain. Seperti…ketika ada sebagian teman, saudara, atau tetangga yang tiba-tiba membenci Anda; arahkan dulu telunjuk Anda ke dada diri sendiri, sebelum menunjuk dan melayangkan caci maki kepada mereka yang membenci.

Siapa tahu, mereka membenci Anda justru karena kesalahan yang Anda lakukan. Toh, tidak akan ada asap, jika tidak ada api, bukan?

  • Evaluasilah diri Anda, lalu berusahalah untuk memperbaiki pergaulan sehari-hari.
  • Awalilah dengan memperanggun perilaku dan memperhalus tutur kata.

Warga Muhammadiyah yang dicintai Allah…,

BACA JUGA:   Nasyiatul Aisiyah: Trend Jilbab Syar’i yang Justru Nggak Nyar’i

Ketahuilah juga bahwa…

  • Memperlakukan diri sendiri dengan cara berpikir objektif begitu besar manfaatnya.
  • Berpikir objektif dapat memberi Anda kemampuan untuk mengenali diri sendiri.
  • Hakikat dari kemampuan mengenali diri sendiri adalah jalan lapang untuk menuju derajat sebaik-baiknya manusia.
  • Sebab manusia yang mengenali dirinya sendiri niscaya akan mengenal Tuhan.
  • Barang siapa yang mengenal Tuhan, pasti akan selalu berjuang untuk berada pada golongan orang-orang bertaqwa.
  • Tidak ada tempat yang paling indah bagi orang bertaqwa, kelak, selain daripada syurganya Allah.

Memang, warga Muhammadiyah yang dicintai Allah, pada prinsipnya manusia yang berpikir rasional, objektif, dan positif cenderung akan lebih mudah menuju ketaqwaan. Sebab, pikiran yang jernih akan senantiasa mengusir rasa was-was, di mana perasaan was-was itu adalah salah satu dari tipu daya syetan.

Sementara syetan selamanya akan menjerumuskan Anda ke “lubang” api neraka.

Allah berfirman, “Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan syaitan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Mahamendengar lagi Mahamengetahui. Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya. Dan teman-teman mereka (orang-orang kafir dan fasik) membantu syaitan-syaitan dalam menyesatkan dan mereka tidak henti-hentinya (menyesatkan).” (QS. Al-A’raaf: 200-202).

Karena itu, wahai warga Muhammadiyah yang diliputi rahmat Allah…

  • Mulailah dari sekarang juga, Anda untuk tidak lagi terlalu bertumpu pada dominasi perasaan. Terutama sekali jangan Anda malah terus dikalahkan oleh perasaan yang cenderung memanjakan diri sendiri, seperti selalu menganggap orang lain kalah baik dari Anda.
  • Buktikanlah segera, anggapan yang mengatakan bahwa “perempuan adalah semata-mata makhluk perasa”, sesungguhnya tidak sepenuhnya benar. Perempuan juga, termasuk Anda, memiliki potensi kemampuan untuk berpikir yang sama besarnya dengan potensi kemampuan untuk berpikir kaum pria.

Warga Muhammadiyah yang berhati ramah…

Selain untuk memikirkan diri sendiri, gunakanlah kemampuan akal Anda yang sedemikian hebat itu untuk juga memikirkan hal-hal di luar diri pribadi. Tunjukkanlah, bahwa kita yang berpikir tidak akan membiarkan setiap ciptaan Allah menjadi sia-sia. Sebab, tidaklah Allah menciptakan sesuatu, kecuali memiliki berbagai macam fungsi, salah satunya sebagai penopang kehidupan manusia.

BACA JUGA:   Kader Muhammadiyah Milenial; Hidup Jadi Mudah Bersama Teknologi

Dia berfirman, “Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: ‘Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia, kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu).’ Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan.” (QS. An-Nahl: 68-69).

Subhanallah.., berapa banyak dari mereka yang hendak berpikir, kemudian tumbuh menjadi orang kaya raya, salah satunya karena mereka memanfaatkan madu lebah sebagai sumber perekonomian.

Jika mereka bisa, tentu Anda juga bisa. Sebab setiap orang memiliki peluang yang sama, baik untuk sukses maupun untuk gagal. Orang bijak selalu mengatakan, bahwa “masing-masing dari kita Allah beri ukuran waktu yang sama, yakni sehari-semalam sebanyak 24 jam. Sementara kesuksesan dan kegagalan adalah masing-masing dari Anda yang dapat menentukannya.”

Gambar (muslimah.or.id)

Karena itu janganlah sesekali merasa berputus asa, sebab jalan lapang menuju kesuksesa atau kegagalan selalu ada di hadapan Anda, tiada lain untuk Anda tempuh dengan sungguh-sungguh. Cara menuju kesuksesan sangatlah sederhana, tetapi tentunya memerlukan ketekunan dan keuletan dari diri Anda pribadi.

Maka…

  • Mulailah sejak hari ini, jam ini, menit ini, bahkan kalau bisa detik ini juga, untuk memanfaatkan akal sebagai “senjata” untuk memikirkan ayat Allah dalam wujud ciptaan.
  • Latih dan asahlah potensi diri Anda masing-masing, supaya Anda tumbuh menjadi pribadi muslimah yang mandiri.
  • Anda tentu tahu, madu lebah hanyalah secuil permisalan dari sekian banyak ayat-ayat kauniah Allah yang dapat “diterjemahkan” oleh mereka yang berpikir.

Hapalkan dan selalu ingatlah salah satu firman Allah berikut ini:

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” (QS. Shaad: 29).