Kasih Sayang Allah Mendahului Murka-Nya

Dalam sebuah riwayat dikisahkan, suatu hari, seorang Arab badui yang sudah tua usianya masuk ke Masjid Nabi kemudian melaksanakan shalat.

Lalu dia berdoa dengan suara yang keras, “Ya Allah, kasih sayangilah aku dan Nabi Muhammad, dan janganlah Engkau sayangi seorangpun yang lain melainkan kami berdua saja.”

Mendengar doa itu, maka Nabi Saw., berpaling kepadanya seraya berkata, ”Sungguh engkau telah menyempitkan rahmat Allah yang luas itu!” (HR. Turmidzi).

Memang betul perkataan Rasulullah Saw., dalam hadits tersebut. Sebab, Allah menegaskan dalam Al-Quran, “Wahai Tuhan kami, rahmat dan ilmu-Mu meliputi segala sesuatu.” (QS. Ghafir: 7).

Rahmat (kasih sayang) Allah juga dirasakan oleh segala sesuatu sebab Allah menggandengkan antara ilmu-Nya dan rahmat-Nya. Kasih sayang jenis ini dirasakan oleh badan selama di dunia, seperti terpenuhinya kebutuhan phisikal: makan, minum, pakaian, tempat tinggal, dsb.

Allah Swt., ialah Rahman dan Rahim (Maha Pengasih sekaligus Maha Penyayang). Perbedaan kedua sifat ini menurut sebagian ulama tafsir terletak pada fungsinya.

  • Ar Rahman (Maha Pengasih) meliputi seluruh makhluk Allah baik yang beriman maupun yang tak beriman. Allah memberikan alam semesta ini seperti air, udara, bumi,  panas matahari, Rizqi dan sebagainya ke semua makhluknya tanpa pandang bulu.
  • Ar Rahim (Maha Penyayang) itu adalah khusus bagi hamba-hamba Allah yang beriman dan Hamba Allah yang shaleh saat berada di alam akhirat. Begitu cinta dan sayangnya Allah Swt. kepada Hamba-hamba-Nya, sampai-sampai Rasulullah menegaskan dalam sebuah riwayat, bahwa: “Sungguh Allah lebih penyayang terhadap hamba-hamba-Nya dari pada seorang ibu terhadap anak bayinya.” (HR Bukhari dan Muslim).
BACA JUGA:   Mahasiswa UMM: Serapan Pekerja di Industri Wisata Kota Batu Hanya 30 Persen

Sunnguh luar biasa kasih sayang Allah kepada hamba-Nya; kita bisa bayangkan bagaimana besarnya cinta dan kasih sayang seorang ibu kepada anaknya. Apapun akan dilakukan seorang ibu demi kebaikan dan kualitas hidup sang anak.

Walaupun kadang sutau saat kebaikan dan kasih sayang ibu dibalas dengan kejahatan dan kedurhakaan seorang anak. Tapi yang namanya seorang Ibu; mereka akan tetap menyayanginya sampai kapan pun.

BACA JUGA:   Muhammadiyah Jakpus Optimalkan AUM untuk Dakwah Islam Berkemajuan

Kalau kasih sayang seorang Ibu begitu luar biasa, lantas bagaimana dengan kasih sayang dan Rahmat Allah yang tak terbatas?

Sungguh kasih sayang Allah kepada Hamba-Nya melebihi apapun dan siapa pun.

Meskipun hamba-hamba-Nya membalas dengan kemaksiatan dan kekufuran, Dia (Allah) akan tetap memberikan Rahmat-Nya. Di dalam hadits qudsi, Allah Swt. berfirman, “Rahmat-Ku mendahului Murkaku.” (HR. Muslim).

Rasulullah Saw., pun bersabda, “Sesungguhnya Allah telah menetapkan nilai kebaikan dan kejahatan, kemudian Dia menjelaskannya. Maka siapa berniat mengerjakan kebaikan tetapi tidak dikerjakannya, Allah mencatatnya sebagai satu kebaikan yang sempurna. Jika ia berniat untuk berbuat kebaikan lalu ia mengerjakannya, Allah mencatatnya sebagai 10 sampai 700 kali kebaikan atau lebih banyak lagi. Jika ia berniat melakukan kejahatan, tetapi ia tidak mengerjakannya, Allah mencatatkan padanya satu kebaikan yang sempurNa. Jika ia berniat melakukan kejahatan lalu dikerjakannya, Allah mencatatnya sebagai satu kejahatan.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Coba kita bayangkan, Jika Allah tidak penyayang dan sekadar membalas 1 kebaikan dengan 1 pahala, hanya berapa banyak manusia yang masuk surga ? Jika Allah tidak Penyayang, maka semestinya niat kejahatan kita ditulis dan dibalas dengan 1 dosa dan kejahatan yang dilakukan dibalas 10 sampai 700 dosa.

BACA JUGA:   Gerakan Suluh Kebangsaan Menjaga Indonesia sebagai Rumah Bersama

Tapi kenyataannya, Allah begitu sayang kepada kita. Kasih sayang-Nya mendahului murka-Nya terhadap hamba-Nya yang durhaka sekalipun.

Oleh karenanya, marilah kita menjadi hamba-hamba yang penuh dengan kasih sayang, peduli terhadap kesulitan sesama mahluk Allah, dan menyayangi apa pun  semata-mata karena kecintaan kita kepada Allah. Karena pada hakikatnya, Allah akan menyayangi kita sebagai hamba-Nya kalau kita juga menyayangi sesama mahluk Allah.

Rasulullah Saw., bersabda, “Orang yang belas kasihan akan dikasihi Ar-rahman (Yang Maha Pengasih), karena itu kasih sayangilah yang di muka bumi, niscaya kamu dikasih-sayangi mereka yang di langit.” (HR. Bukhari). Dan, sabdanya yang lain, “Barang siapa tidak menyayangi manusia, maka Allah tidak akan menyayanginya.” (HR. Muslim).

Demikianlah kasih sayang dan Rahmat Allah tak terbatas bagi hamba-hamba-Nya.