Kerja Keras ialah Ekspresi Kecintaan Muhammadiyah Pada Indonesia

BANDUNG – Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Yunahar Ilyas mengatakan, Muhammadiyah saat ini mentargetkan dakwah kultural agar massif berkembang di masyarakat. Karena kultural adalah aspek yang jarang dijamah oleh para mubaligh.

“Untuk itu, tujuan dakwah harus diletakkan dibelakang dulu agar dapat dirangkul dengan baik. Konsep dinamisasi inilah yang harus terpatri pada jiwa para mubaligh. Kita harus menerjemahkan Alquran dan assunah menjadi sebuah solusi dan aktualisasi untuk persoalan zaman. Ini tantangan bagi kita semua,” tutur Yunahar pada Sabtu, 12 Januari 2019, dalam acara Musyawarah Wilayah Muhammadiyah Jawa Barat.

Selain itu, Yunahar dalam paparannya juga menyampaikan posisi Muhammadiyah yang menjadi washatiyah, ata ditengah-tengah.

“Washatiyah yang dilakukan oleh Muhammadiyah ini bukan tidak memilih, namun memiliki sikap terhadap permasalahan yang dihadapi. Dengan demikian Muhammadiyah itu tidak ghuluw (berlebihan) dan tidak itraf atau liberal (serba boleh). Jadi Muhammadiyah pada hakikatnya tidak ghuluw maupun liberal,” jelas Yunahar.

Konsep-konsep inilah yang harus dipahami oleh para kader persyarikatan dan harus disampaikan ke semua kalangan.

Yunahar juga menuturkan, dalam menyikapi NKRI pun Muhammadiyah menganggap Indonesia adalah Darul Ahdi Wasyahadah. Negeri hasil konsensus atau kesepakatan bersama dalam membentuk NKRI.

“Muhammadiyah harus menjadi rujukan dalam menyikapi negara. Muhammadiyah memiliki ciri tersendiri dalam mengekspresikan diri dalam mencintai negara. Bekerja keras mendidik anak bangsa, bekerja keras membangun negara Indonesia ini. Jadi jangan dianggap yang tidak suka teriak-teriak itu tidak mencintai Indonesia,” pungkas Yunahar.