Kita Harus Menjadi Manusia Bermartabat, Ini Landasan Al-Qurannya

Manusia bermartabat seharusnya merupakan replika asli dari keberadaban penduduknya. Tanpa adanya orang-orang beradab, sebuah negara bermartabat hanyalah harapan menggapai fatamorgana yang takan pernah kesampaian. Tanpa orang beradab, bangsa ini akan menjadi biadab.

Dalam kesempatan lain, saya membaca ajaran Islam yang begitu kukuh mengajarkan untuk berlaku sopan-santun. Jangankan terhadap sesama manusia, terhadap hewan dan tumbuhan pun ada tatakramanya. Salah satu contoh perilaku sopan-santun adalah menghormati tamu. Sebab, penghormatan adalah inti dari kehidupan manusia bermartabat.

Dalam konteks hubungan sosial orang Sunda, ada ungkapan popular “someah hade ka semah.” Artinya; sopan, santun, dan ramah terhadap orang yang bertamu ke rumah (daerah)-nya.

Itulah kiranya wujud dari kebijaksanaan tertinggi manusia bermartabat; menghargai kedirian orang lain. Caci-maki, sumpah serapah, dan menganggap orang lain tak bernilai ketika berinteraksi; merupakan aktivitas yang tidak layak dilakukan masyarakat kota bermartabat.

Di sini, kota bermartabat tidak dapat dipisahkan dengan kebaikan perilaku masyarakatnya. Artinya, kita mesti menyuarakan nilai-nilai kebaikan yang saat ini seakan lekang dari aksi sosial. Sebab, seseorang bisa dikatakan bermartabat kalau saja tidak terjajah jiwa dan raganya, sehingga mampu berotonomi untuk berbuat kebajikan.

BACA JUGA:   Islam Itu Agama Hanif

Karena itu, orang bermartabat akan senantiasa membebaskan diri dan umat lainnya dari gurita ketertindasan hak-hak asasi manusia (human rights). Pembebasan dari penindasan struktural, seperti kemiskinan, adalah salah satu upaya pemenuhan hak warga untuk sejahtera.

Martabat, tentu saja berbeda dengan martabak.

Martabat merupakan tujuan inti dari diturunkannya Al-Quran. Selaras dengan tujuan pengutusan sang Baginda Nabi Muhammad (penerima wahyu Al-Quran) ke muka bumi yang untuk menyempurnakan martabat manusia. “Innamaa buistu liutammima makaarimu al-akhlaq.”

Sedangkan martabak adalah panganan bebas santap yang bisa dibolak-balik di tempat penggorengan. Martabat dan martabak, tentu saja memiliki aroma rasa masing-masing.

Salah satu monument kota bermartabat adalah Kota Madinah pada zaman Rasul Saw. Kota yang wilayahnya diduduki oleh orang-orang bermartabat; saling menghargai satu sama lain. Bahkan, ketika rombongan muhajirin tiba di perbatasan Madinah, penduduk setempat (kaum anshar) menyambut mereka dengan suka cita. Meski berupa kota yang dipenuhi keragaman, Madinah tidak membuat masyarakatnya gelap mata, jauh dari perilaku hidup barbarian.

Al-Quran Al-Karim, dengan jelas menganjurkan: “Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, karena boleh jadi mereka yang diolok-olok lebih baik dari mereka yang mengolok-olok,” (Q.S. Al-Hujurat [49]: 11). Artinya, merendahkan derajat orang lain adalah perilaku tak bermartabat. Alhasil, tatkala penduduk di marcapada mampu menghargai dan mau mengakui eksistensi manusia lain, cita-cita bermartabat niscaya dapat diraih secara gilang-gemilang.

BACA JUGA:   Kerukunan Hidup Beragama Dalam Perspektif Al-Qur’an

Selanjutnya, pola hidup tentran, nyaman, dan rukun dapat dinikmati bersama. Ibarat gambaran kehidupan orang tempo dulu, tiis ceuli herang panon dan ngaheunang-ngaheuning, estuning teu aya banca pakewu.

Itulah semestinya suasana kota dengan gelar bermartabat. Tidak ada kesemrawutan, tidak ada penyimpangan moral, dan tidak ada ketidakpastian kebijakan yang membuat kita nyinyir.

Hemat saya, membina hubungan yang harmonis dengan orang lain, memelihara alam kita dengan penuh kasih-sayang; merupakan inti dari disyari’atkannya ibadah kepada Allah SWT. Manusia, alam, dan Tuhan; bagaikan tiga titik kosong yang mesti kita isi.

Lantas, sudah terpeliharakah hubungan kita dengan alam sekitar? Hubungan kita dengan sesama manusia? Dan yang paling penting lagi, hubungan kita dengan Allah?

Jika semua itu telah terwujud, maka, kita adalah kumpulan dari generasi terbaik (baca: bermartabat) yang digambarkan Allah dalam firman-Nya:“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah,” (Q.S. Ali-Imran [3]: 110).

BACA JUGA:   Muhammadiyah Sempurnakan Buku Fikih Kebencanaan

Andai saja hendak menjuluki diri dengan bermartabat, keberadaban perilaku adalah pekerjaan rumah yang wajib segera diselesaikan. Sebab, ketika kita beradab dan menebarkan nilai-nilai kebaikan (al-khair) dalam perilaku, niscaya julukan sebagai manusia bermartabat memang pantas disandang. Ketika perilaku keseharian penuh dengan kebebalan moral, kota yang kita huni selamanya tak akan bermartabat.

Namun, jika kita berusaha menghilangkan ketidakberadaban sikap dan tindakan, kota bermartabat akan dapat diwujudkan. Allah SWT berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, rukuklah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu, dan berbuat baiklah. Supaya kamu mendapat kemenangan,” (Q.S. Al-Hajj [22]: 77).

Ya, kemenangan itu adalah memeroleh gelar bermartabat yang tidak hanya berdatangan dari pandangan segelintir orang saja. Melainkan; Allah, manusia lain, bahkan alam sekitar, turut menganugerahkan pandangan baik pada kita. Tentu berkat upaya kita dalam menjaga eksisnya martabat kemanusiaan dalam diri. Wallahua’lam