Kita Perlu Presiden yang Mampu “Membakar Semangat”

SEBAGAI seorang rakyat, tentunya kita akan begitu bangga ketika pemimpin kita berbicara dengan gagah di hadapan tamu Negara lain. Secara historik, Bung Karno ketika berorasi di atas mimbar, siapa pun yang mendengarkannya akan begitu kagum dan terpana. Mendiang presiden Soeharto juga adalah seorang orator ulung. Dia dengan begitu bangga selalu menggunakan bahasa Indonesia di mana pun – dalam forum internasional sekali pun – sehingga bahasa Indonesia dikenal dunia.

Lantas, kaitannya dengan Pilpres 2019 apa?

Adalah soal gesture tubuh yang kaku dan kemampuan berorasi Capres Jokowi yang menarik untuk dibahas dalam artikel ini. Ketika dilangsungkan deklarasi Pilpres damai, seorang Prabowo memperlihatkan kemampuan berorasi di atas rata-rata, mengalahkan seorang Jokowi yang terlihat agak sedikit kaku dan kikuk.

Maaf, bukan berarti saya menyepelekan prestasi Jokowi. Namun, sebagai seorang Capres seharusnya Jokowi memiliki kemampuan berpidato di depan khalayak karena berkaitan dengan citra sebuah bangsa dan Negara. Ketika para pakar komunikasi politik mengkritisi kemampuan orasi Jokowi ini, Cahyo Kumolo, salah satu pengurus PDIP mengatakan bahwa Jokowi lemah ketika berorasi, tetapi rakyat tentunya melihat kerja dan prestasi; bukan pidato yang berapi-api.

Rakyat ialah sebuah komunitas para pendengar yang baik. Menjadi pendengar yang baik adalah seni dari ilmu komunikasi. Konon kabarnya bangsa Jepang adalah pendengar yang baik. Tentu saja pendengar yang baik itu tak sekadar mendengar, melainkan menyimak dengan baik dan benar; kemudian lahir perubahan diri. Untuk mengubah mental kita, sangat memerlukan hadirnya pemimpin yang mampu membangkitkan semangat.

BACA JUGA:   Netralitas Politik Muhammadiyah Pasca Khittah 1971 dan 2002

Dan, hal itu tentunya dapat diberikan oleh Capres dan Cawapres yang pandai berorasi, piawai menjabarkan visi dan misi, sehingga tak heran jika secara psikologis, orang yang pandai mengutarakan gagasan secara sistematis; maka orang tersebut selalu dipenuhi dengan semangat untuk memberikan arti bagi sesama. Bung Karno adalah salah satu tokoh historik yang pandai membangkitkan semangat rakyat dari atas podium. Tentunya kritik terhadap Jokowi yang selalu berbicara singkat harus selalu menjadi perhatian Tim kememenangan Jokowi-Ma’ruf.

Karena itu, benar bila seorang pakar public speaking menyarankan Jokowi untuk kursus kilat “Public speaking, sebab kelebihan seseorang akan hancur bila tidak bisa mengubah kelemahan. Ketika rakyat mendengarkan pemaparan Capres dan Cawapres yang menggugah dan sistematis, tentunya akan melahirkan empati. Saya memahami kemampuan berorasi ini sangat penting dan yang lebih penting lagi adalah kemampuan bekerja untuk rakyat. Karena itu, kita tidak bisa menyepelekan orasi karena dengannya citra bangsa dan negara akan terbangun secara kokoh di dunia.

BACA JUGA:   Ketum PP Pemuda Muhammadiyah: Pilih Jokowi "Monggo", Pilih Prabowo "Monggo"

O Jeff Harris, dalam buku People of Work (1976) mengatakan bahwa memilih seorang pemimpin yang mempunyai kualifikasi berikut: pertama, kemauan memikul tanggung jawab. Seorang pemimpin harus berani memikul tanggung jawab ketika terpilih sehingga ia dengan cermat dan telaten dapat mengerjakan tugas kenegaraan.

Kedua, pemimpin juga harus mampu menjadi seorang yang perseptif. Artinya, ia bisa melihat realitas kehidupan rakyat dan menanggulanginya secara tepat dan cepat.

Ketiga, seorang pemimpin harus mampu melihat persoalan secara objektif. Ketika ada masalah yang menimpa rakyat, ia mampu melihatnya dengan hati dan pikiran.

Keempat, bisa memprioritaskan sesuatu secara tepat. Dengan kemampuan ini, seorang Presiden, umpamanya, dapat memilih mana yang lebih penting dalam melaksanakan tugas kenegaraannya. Ia dapat menempatkan diri bahwa kepentingan rakyat adalah segala-galanya.

Kelima, seorang pemimpin juga harus memiliki kemampuan berkomunikasi. Dengan kemampuan ini, apa yang menjadi gagasannya dapat tersampaikan secara cepat dan tepat sasaran sehingga kebijakannya akan adil dan bertanggungjawab.

Tak hanya itu, kemampuan berkomunikasi juga dapat meningkatkan harkat dan martabat bangsa di mata dunia. Coba kita bayangkan apabila seorang presiden yang berkunjung ke luar negeri tidak menaati protokoler dan tidak mau menjunjung seni berpidato, tentunya sebuah negara akan direndahkan oleh bangsa lain.

BACA JUGA:   Forum Rutin "Sekolah Politik Muhammadiyah"

Tanpa mengurangi rasa hormat, kepada dua pasangan Capres dan Cawapres yang sedang berkampanye hingga tanggal April nanti, kita semua, sebagai rakyat, tentunya mengharapkan pemimpin yang terpilih nanti adalah putra terbaik yang berkualitas. Utamanya, dapat dijadikan sebagai simbol kedaulatan dan kesejahteraan bangsa Indonesia.

Siapakah dia? Anda pasti mempunyai jawaban masing-masing.

Yang pasti, pilihlah calon yang memiliki citra komunikasi yang terbaik di antara calon presiden RI ini. Sebab, tidak bisa dipungkiri, bahwa gaya komunikasi calon dapat mengangkat harkat dan martabat kita di dunia. Kita pun menjadi rakyat yang percaya diri karena memiliki pemimpin yang kemampuan berkomunikasinya di atas rata-rata. Selamat berkampanye dengan damai, kawan-kawan.

Ingat, masa kampanye ini jangan dijadikan sebagai ajang perang yang menghancurkan citra diri dari dua pasangan Capres dan Cawapres. Karena, kita adalah bangsa beradab; bukan bangsa biadab yang tak mengindahkan aturan-aturan kemanusiaan yang adil dan beradab. ***

Penulis: H. IDAT MUSTARI, Calon Legislatif Partai Demokrat Dapil 4 [Rancaekek, Cikancung, Cicalengka, Nagreg] Nomor 3.