Langkah Mengetahui Suatu Perkara Itu Bid’ah Atau Bukan!

Sebagai pengajar Ushul Fiqh di pesantren Al-Furqon MBS Cibiuk, kadang saya sering mengalami kebingungan dalam menyampaikan suatu perkara mengenai hukum-hukum Islam, khususnya hal-hal yang tidak pernah terjadi di masa Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam dan para Sahabat Rodhiyallahu ‘anhum. Bukan bingung karena tidak tahu pokok persoalannya (bukan artinya saya tahu segalanya, tidak sama sekali).

Namun bingung cara menyampaikannya, sebab santri di pesantren lumayan beragam dan memiliki latar belakang pengetahuan Islam beragam pula. Bahkan, diantara santri ada yang sudah memiliki pemahaman agama yang tengah diajarkan oleh keluarga atau guru sebelumnya, yang dia memagang teguh pemahaman itu. Dan hal yang paling sulit disampaikan atau diterangkan adalah perkara-perkara yang sudah jadi kebiasaan santri, bahkan keluarga dan masyarakatnya.

Rata-rata santri yang mengaji ushul fiqh, memiliki pemikiran yang terbuka. Sebab, di ranah pelajaran ini, santri justru memang dibuka pemikiran dan pemahamannya terhadap pelaksanaan hukum Islam meskipun banyak perbedaannya. Ushul Fiqih diberikan pada santri memang salah satu tujuannya itu, agar santri mampu memahami perbedaan dan tidak mudah menyalahkan orang lain, dan jangan goyah pula apabila disalahkan orang lain jika sudah jelas dasar dalil yang ia pegang teguh. Ingat ya, dasar dalil, bukan karena mengikuti guru tanpa tahu dalil.

Salah satu hal yang paling sensitif dibahas adalah mengenai perkara-perkara bid’ah. Bid’ah yang saya maksud tentunya suatu praktek tertentu yang tidak pernah ada di masa Rasulullah dan mereka menganggap hal itu ibadah. Memang itu pokok permasalahan bid’ah, anggapan yang dilakukannya adalah ibadah. Jika saja hanya dianggap perkara duniawi, selama tidak ada dalil yang melarangnya, hukumnya boleh. “segala sesuatu yang ada di dunia ini asalnya boleh”. Jadi, untuk urusan duniawi, tinggal ketahui saja apa yang dilarang Allah. Untuk hal-hal lain yang tidak ada larangan, maka nikmati dan syukurilah, sebab dunia dan seisinya memang diciptakan Allah untuk manusia (QS. Al-Baqoroh ayat 29).

BACA JUGA:   Hei, Tahun Baru Ini Semangat Kudu Baru Juga

Nah, untuk perkara yang dianggap ibadah, ini beda prinsipnya. Sebab, asal melaksanakan ibadah itu hukumnya haram, kecuali kalau ada dalil/ petunjuk/ contoh terhadap pelaksanaannya. Jadi, suatu perkara yang dianggap ibadah jika alasannya karena tidak ada dalil yang melarangnya, justru itu dasar keharamannya. Pelaksanaan ibadah harus jelas bersumber dari dalil/ petunjuk/ contoh.

Karena itu, untuk menanggapi pertanyaan bagaimana cara mengetahui suatu perkara itu bid’ah atau bukan, maka saya jelaskan caranya pada santri. Ini lebih ke metode tanya jawab. Sebab memang harus ditanya dulu pada pelaku. Meskipun tujuannya bukan untuk mendebat atau langsung merubah praktek bid’ah, setidaknya untuk kehati-hatian diri sendiri saja agar tidak ikut-ikutan.

Untuk mengetahui suatu perkara bid’ah atau bukan, maka;

1. Tanya pada pelaku apakah yang dilakukannya ibadah atau, bukan?

2. Jika jawabannya ibadah, berikutnya tanya hukumnya. Sebab ibadah itu punya hukum, kalau tidak wajib ya pasti sunnah. Tanya juga rukun dan syaratnya. Ibadah punya rukun dan syarat.

3. Jika jawabannya wajib atau sunnah, selanjutnya tanya mana dalil yang mewajibkan atau mensunahkannya. Jika itu memang bid’ah sampai sini juga bisa diketahui. Untuk mengetahui dalil wajib, pasti ada dalil yang memerintahkan disertai ancaman meninggalkan. Jika hanya ada perintah tanpa ada ancaman meninggalkan, berarti sunnah. Sebab, yang wajib pasti ada ancaman mendapat siksa kalau tidak dilaksanakan.

BACA JUGA:   Hibah & Wasiat untuk Anak Beda Agama

4. Jika pada prinsipnya yang dilakukannya memang ibadah, karena ada dalil perintah atau anjurannya, selanjutnya, sebagai yang terakhir, tanya juga rincian pelaksanaannya. Apakah sesuai dengan contoh dari Rasulullah, atau tidak? Sebab syarat ibadah diterima itu harus ikhas, ada dalil dan sesuai contoh dari Rasulullah. Hal ini tidak akan pernah berubah sepanjang zaman.

Harus diketahui, Islam itu selalu relevan/ sesuai dimanapun dan sampai kapanpun. Hanya saja, kita harus tahu mana yang dimaksud syari’atnya.

Syari’at itu tidak berubah. Contoh, syari’at berpakaian adalah menutup aurat (ini ibadahnya, ada dalil dan contohnya), sedangkan jenis pakainnya bukan, itu hal-hal duniawi. Jadi pakaian apapun yang menutup aurat (selama bukan jenis yang dilarang) maka itu pakaian syar’I, dan itu ibadah.

Contoh lagi, dalam hal hisab menentukan awal dan akhir Ramadhan. Ingat, yah. Islam tidak berubah, sedangkan hal-hal duniawi berubah, dan selama tidak ada dalil yang melarang, hukumnya boleh. Jika dalam hisab yang jadi syari’atnya adalah cara melihat hilal sesuai zaman Rasulullah, maka cara apapun selain itu dilarang. Sebab memang syari’atnya cara melihat hilal. Namun, jika yang dimaksud syari’atnya adalah “munculnya hilal”, bukan cara melihatnya. Berarti, upaya apapun boleh dilakukan untuk menentukan kemunculan hilal, termasuk menggunakan teleskop/ teropong/ atau hisab.

BACA JUGA:   Menyoal Al-Qur’an dan Literasi Arab

Terakhir, ini contoh kasus yang menarik. Saya pernah didatangi seorang ustadz, dan beliau meminta saya jadi panitia muludan/ maulidan. Sebagai warga Muhammadiyah, saya tidak kaget, dan tidak juga bingung. Sebab saya pribadi (saya pribadi yah) tidak menganggap muludan bagian ibadah praktis, saya hanya menggolongkan hal itu sebagai salah satu bentuk upaya mencari ilmu dan menyebarkan ilmu (dakwah). Dalam mencari ilmu, tidak ada dalil terperinci yang menjelaskan cara-caranya. Syari’atnya adalah carilah ilmu (agama dan dunia), adapun caranya, tidak dirinci.

Jadi, upaya apapun untuk mencari ilmu, itu suatu hal yang sangat leluasa dilakukan. Dan upaya untuk mencari ilmu itu adalah ibadah. Baca buku, bertanya, mengadakan pengajian, sekolah, mesantren, di laut, di gunung, di luar negeri, mengadakan acara pengajian tahunan, seperti maulid sekalipun, selama tidak menganggap itu ibadah praktis, namun menjadikannya sebagai upaya tolabul ‘ilmi, memperkuat silaturahim, memperkuat persatuan, hal itu semuanya memiliki landasan dalil umum, dalilnya ada yang wajib dan sunnah.

Namun, muludan bisa jadi bid’ah, jika hal itu dianggap ritual ibadah. Kenapa bisa jadi? Sebab urusan berkumpul dan mengadakan acara itu hal-hal duniawi. Tapi, kalau kumpul-kumpul mengadakan acara ini dianggap ritual ibadah, berarti harus jelas hukum, dalil, dan contohnya. Ditambah juga harus punya rukun dan syaratnya. Ibadah kan seperti itu. Wallahu A’lam.

Saya sangat senang jika ada yang menasehati kesalahan saya.

 

Untuk menambah wawasan:

Fatwa Tarjih: http://www.fatwatarjih.com/2011/09/peringatan-maulid-nabi-muhammad-saw.html

Ust. Adi Hidayat