Lawan Stigma Negatif Terhadap Difabel, PPNA Wujudkan PASHMINA Inklusi

YOGYAKARTA – Minimnya akses dan informasi tentang disabilitas memunculkan dampak cukup serius dalam kehidupan bermasyarakat, diantaranya timbul pemahaman dan stigma negatif yang disematkan pada kaum difabel. Pemahaman dan stigma negatif ini tidak saja muncul dalam bentuk ucapan dan pemikiran saja, tetapi sudah mengarah pada sikap dan perlakuan, misalnya pelecehan seksual.

Berdasarkan kenyataan tersebut, Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah (PPNA) sebagai organisasi perempuan muda berkemajuan Muhammadiyah menyelenggarakan Pembekalan Tim Pashmina Inklusi pada Minggu, 13 Januari 2019 di Aula Kantor PP Muhammadiyah Cik Ditiro Yogyakarta.

Ro’fah, Pembina Pusat Layanan Difable UIN Sunan Kalijaga dalam kesempatan itu mengatakan salah satu hambatan terkait disabilitas adalah bahasa atau komunikasi.

“Bagaimana memposisikan diri saat berhadapan dengan kaum difabel perlu terus diupayakan jalan keluarnya, sehingga tidak ada lagi istilah-istilah yang merendahkan dan tidak memberdayakan, semisal kata ‘cacat’,” ujarnya.

Sementara Dody Hartanto, Pakar Pendidikan Inklusi FKIP Universitas Ahmad Dahlan mengatakan, laiknya manusia istimewa, kaum difabel harus mendapat perlakuan yang istimewa, karena sebagaimana Tuhan menciptakan mahluknya, masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan, maka pada kaum difabel pun tak ada pengecualian.

“Kaum difabel sebagaimana manusia lainnya, juga mempunyai pertumbuhan dan psikologis yang sama hanya kadarnya saja yang berbeda,” tuturnya.

Sementara itu, Putri Rahmasari, dosen kebidanan UNISA, berharap semakin banyak relawan yang mau dan peduli mempelajari dan memperhatikan hal ini.

“Mereka juga berhak dan layak hidup sehat karena itu menjadi penting memberi pengetahuan mendasar tentang kebutuhan sehari hari, semisal cara menghadapi situasi saat menstruasi, mengganti pembalut, membersihkan diri, termasuk hal hal lain yang sifatnya privasi,” jelasnya.

Sedangkan, Sukinah, Pakar Komunikasi dengan Difable dari Pendidikan Luar Biasa UNY, menyampaikan keprihatinannya pada sikap dan perilaku masyarakat, alih-alih memberikan dukungan sosial yang terjadi justru sebaliknya, kaum difabel seringkali dijadikan bahan candaan atau ejekan.

PASHMINA sebagai layanan kesehatan berbasis Holistic Integrated sangat diharapkan mampu menjadi  PASHMINA inklusi. Hal ini adalah wujud realisasi dari kepedulian PPNA untuk concern pada permasalahan perempuan dan anak, tak terkecuali untuk disabilitas.

Ketua Umum PPNA Diyah Puspitarini berharap kader Nasyiah semakin membuka diri dan responsif terhadap permasalahan disekitar. Dia berharap momen ini bisa menambah referensi untuk persiapan Jambore Pashmina, program kegiatan Departemen Pendidikan yang akan berlangsung beberapa bulan mendatang.