Membangun Jejaring dengan Visi: Catatan Kecil FGD di STAIM Bandung

Muhammadiyah berkemajuan tidak bisa bergerak sendirian untuk mewujudkan visinya. Di tengan tantangan zaman yang semakin komplek, Muhammadiyah harus membangun jejaring dalam berbagai hal, baik swasta maupun pemerintah.

Di sesi kelima Focus Group Discussion (FGD) di STAI Muhammadiyah Bandung yang mengangkat tema “Narasi Alternatif Sistem Jaringan Muhammadiyah ke Depan,” bahkan banyak peserta meyakini jika organisasi saat ini akan mati jika tidak bekerjasama dengan pihak lain.

Kebesaran Muhammadiyah yang telah melahirkan amal sosial yang terhampar luas hingga ke mancanegara adalah contoh bagaimana gerakan ini telah beramal nyata bagi masyarakat tanpa pandang bulu. Semuanya tentu tidak diraih sendiri, tetapi melalui kerjasama dengan berbagai pihak.

Kepercayaan publik atas gerakan dakwah Muhammadiyah karena ada potensi besar di dalamnya. Soliditas internal Muhammadiyah melahirkan kepercayaan publika baik lembaga maupun personal. Bahwa Muhammadiyah dibangun dengan semangat dakwah untuk kepentingan ummat.

Namun apa yang menjadi strategis bagi Muhammadiyah dalam membangun jejaring adalah ada pada kekuatan visinya. Muhammadiyah memiliki imajinasi melampaui zamannya, bermimpi tentang sebuah masyarakat utama, masyarakat ideal, damai dan sejahtera.

Kehadiran Muhammadiyah bukan semata untuk memuaskan pihak-pihak tertentu, tetapi menjadi penentu arah peradaban lewat gerakan-gerakan nyata. Muhammadiyah mengurus semua hal kehidupan. Kebesaran Muhammadiyah bukan hanya pada jumlah orang tetapi juga pada karya nyata, yang dengannya Muhammadiyah memberikan pelayanan kemanusiaan tanpa melihat suku dan agama.

Jejaring internal Muhamamdiyah sangat lengkap. Muhammadiyah dapat mengurus berbagai hal karena di dalamnya ada Majelis dan Lembaga termasuk organisasi otonom. Semua segmen tidak ada yang lepas dari garapan Muhammadiyah.

Menjadi tidak aneh jika pemerintah pusat begitu perhatian terhadap Muhammadiyah. Sebab bagaimanapun, Muhammadiyah telah banyak sekali membantu pemerintah dalam membangun visi bangsa ini. Bersama Muhammadiyah, pemerintah terus meningkatkan kualitas SDM, di bidang pendidikan, sosial, ekonomi, kesehatan, dan yang lainnaya.

Di Jawa Barat, di kepemimpinan Ridwan Kamil dan Uu Ruzanul Ulum, telah menetapkan visi misinya, merumuskan perogramnya, menentukan prioritas programnya dan merancang pola kerjanya. Untuk mensukseskan Jawa Barat Juara Lahir Batin, Pemprov membuka kesempatan yang luas kepada masyarakat baik lembaga maupun individu yang siap dan mau bekerjasama dengan pemerintah provinsi.

Aisyiyah Jawa Barat sudah bergerak lebih jauh membangun kemitraan strategis. Strategis karena masuk pada substansi persoalan Jawa Barat yaitu ketahanan keluarga dan kesejahteraan masyarakat. Bukan hanya karena ada SDGs, bahwa pola kerja Aisyiyah yang sudah dilakukan sejak lama mencerminkan pola kerja sebuah Ormas besar dan terdidik. Hadir dengan konsep pembangunan dengan visi dan strategi.

Pola kemitraan yang dilakukan Aisyiyah bersifat massif dan berkelanjutan. Bukan hanya denga Pemrov Jabar, tetapi juga dengan Kementrian, industri, dan donor asing. Pointnya adalah bahwa kepercayaan tidak hadir tiba-tiba. Bantuan dana bukan target utamanya. Tetapi jika lembaga sudah menggoreskan visinya, menentukan program dan kegiatannya, jawaban terhadap persoalan kemanusiaannya, maka menjadi tidak sulit untuk mengajak pihak lain untuk bekerjasama. Bahkan dalam konteks ini, pemerintahlah yang sebenarnya butuh terhadap Aisyiyah.

Menoleh ke Induk persyarikatan (PWM Jabar), forum belum melihat sebuah visi besar yang ditawarkan. Pola kerjasama yang selama ini dibangun belum optimal, kurang strategis dan mendasar. Bantuan-bantuan pemerintah (cenderung) hanya pendekatan materi dan tidak berkelanjutan. Belum optimal melakukan kemitraan permanen dalam konteks pekerjaan program yang saling menguntungkan.

Kebutuhan mendasar kita khususnya di Jawa Barat adalah terumuskannya visi, sehingga menjadi tidak kelu ketika harus berbicara dengan pihak lain. Program-program yang berjalan tidak lagi formalisme dan harus terintegrasi. Problem ini yang membuat pihak luar kesulitan untuk menjadikan Muhammadiyah Jawa Barat sebagai mitra strategis untuk jangka panjang.

Akhirnya, apa yang menjadi kesepakatan adalah melakukan langkah-langkah konstruktif pada tiga hal.

Pertama, membangun soliditas internal. Dari mulai pimpinan, majelis/lembaga dan Ortom harus berada dalam satu tarikan nafas yang sama. Semuanya harus satu irama, dan ini menjadi kunci untuk bergerak. Jika secara internal sudah selesai, membangun jejaring keluar lebih mudah.

Kedua, merumuskan visi-misi, program, kegiatan dan strategi implementasi. Inilah yang akan manjadikan Muhammadiyah lebih terang tentang orientasi gerakannya. Semua elemen yang ada di dalamnya harus komitmen, militan dan konsisten menjalankannya.

Ketiga, Muhammadiyah perlu melakukan advokasi dan pendampingan terhadap cabang dan ranting untuk terlibat dalam penyusunan program pembangunan, mulai dari pemerintahan desa, kecamatan, kota/kabupaten, provinsi hingga nasional.

Dengan demikian, membangun jejaring bukan dalam konteks siapa dapat berapa, tetapi apa yang ditawarkan Muhammadiyah dan bagaimana pola kemitraan yang dibangunnya. Jika hal ini sudah selesai maka ke manapun Muhammadiyah Jabar melangkah akan lebih mudah menarik pihak lain untuk menjadi mitranya. (Roni Tabroni)