Menyoal Al-Qur’an dan Literasi Arab

Tradisi literasi (membaca dan menulis) Arab menempati posisi penting dalam perkembangan dunia ilmu pengetahuan Islam. Ia menjadi jembatan penghubung antara ajaran Islam (wahyu al-Qur’an) dengan peradaban-peradaban (terutama khazanah intelektual) pra-Islam.

Tradisi literasi juga sangat berguna, karena mampu mendokumentasikan wahyu dalam bentuk teks tertulis, yang memungkinkan untuk dikaji oleh generasi Islam pada masa-masa selanjutnya. Bermula dari berkembangnya tradisi literasi di tengah umat Islam, kelak lahir ribuan bahkan jutaan ribu jilid buku ilmu pengetahuan Islam dan mewariskan beragam bangunan peradaban yang agung tak ternilai harganya.

Tradisi literasi Arab pada masa setelah lahirnya Islam menggantikan tradisi lisan (oral) dan hafalan yang sangat populer dan bahkan dibanggakan oleh orang-orang Arab kala itu. Al-Qur’an melalui wahyu pertamanya (QS. al-’Alaq/96:1-5), menawarkan tradisi selain oral dan hafalan, yaitu membaca dan menulis.

Menurut Ibn Khaldûn, dengan berbudaya baca-tulis akan memungkinkan seseorang untuk bisa mengakses (menjangkau) informasi yang lebih luas dan mendalam, selain juga bisa membantu mengutarakan maksud seseorang dengan lebih detail. Namun demikian, bukan berarti tradisi lisan dan hafalan tidak berguna sama sekali. Dalam kondisi tertentu, sistem orang dan hafalan tetap diperlukan dan memiliki keunggulan dan sifat praktis tersendiri.

Tesis ini bermaksud menjawab, apa yang mempengaruhi perkembangan tradisi literasi Arab. Berdasarkan penelusuran data-data sejarah, tesis ini membuktikan bahwa faktor yang mempercepat perkembangan tradisi literasi Arab adalah turunnya al-Qur’an, serta beragam kebutuhan umat Islam untuk mempelajari kandungan pesan al-Qur’an.

Kebutuhan untuk mencatat wahyu sehingga al-Qur’an terdokumentasi dalam wujud lembaran kertas (mushaf), ghirah dan dedikasi yang amat tinggi dari umat Islam untuk mempelajari al-Qur’an, serta tindakan nyata Nabi Muhammad s.a.w. dalam mempelopori gerakan baca-tulis telah menjadi media dan momentum yang sangat tepat bagi perkembangan tradisi literasi Arab.

Berkat tuntunan wahyu, kerja keras Nabi sebagai interpretasi dan pengejawantah wahyu, di tengah-tengah umat muslim telah terjadi ‘kompetisi’ dalam mendalami tradisi literasi. Dengan demikian, tesis ini membuktikan kelemahan pendapat yang menyatakan bahwa perkembangan tradisi literasi Arab diakibatkan adanya kontak budaya yang terjadi melalui aktifitas ekonomi dan perdagangan, sebagaimana dikemukakan Muhammad Hadi Ma’rifat dalam Sejarah al-Qur’an (Jakarta, 2007).

Menurut Hadi Ma’rifat, sebagian dari orang-orang Arab Hijaz melakukan perjalanan ke Syam dan Irak untuk tujuan perdagangan. Lambat laun mereka bersentuhan dan terpengaruh dengan budaya masyarakat setempat yang sudah maju dan beradab. Mereka kemudian belajar etika dan ilmu baca-tulis kepada orang-orang Syam dan Irak. Sejak itu tradisi literasi Arab mulai populer.

Hampir senada dengan Hadi Ma’rifat, Taufik Adnan Amal dalam Rekonstruksi Sejarah al-Qur’an (Jakarta, 2005), tidak secara langsung menyebutkan faktor yang mempercepat perkembangan tradisi literasi Arab, namun dia menyebut-nyebut aktifitas perdagangan (orang-orang Arab) sebagai suatu yang berkaitan erat dan identik dengan tradisi baca-tulis (Arab). Dengan demikian, Adnan Amal sebenarnya sepakat bahwa aktifitas perdagangan (masyarakat Arab) memiliki andil yang besar dalam mempercepat perkembangan literasi Arab.

BACA JUGA:   Apakah Disunahkan Mengangkat Tangan Ketika Berdoa?

Dalam konteks ini, ada banyak interpretasi mengenai dari mana asal mula tradisi literasi Arab, sejak kapan tradisi lietrasi berkembang di dalam lingkungan Arab, dan siapa yang pertama kali memulainya. Namun, sejarah membuktikan, bahwa kemampuan baca-tulis yang dimiliki orang-orang Arab (sahabat Nabi) masih belum mampu mewadahi wahyu al-Qur’an.

Terbukti, generasi muslim pada masa setelahnya masih harus bekerja keras untuk melengkapi, menyempurnakan dan bahkan menciptakan metode baru sistem membaca dan menulis al-Qur’an (Arab). Ini artinya, hubungan dagang yang terjalin antara orang-orang Quraisy dengan pedangang di sekeliling Jazirah Arab tidak menyebabkan perubahan yang mendasar bagi perkembangan tradisi literasi Arab. Faktor yang menyebabkan perkembangan literasi Arab adalah ajaran Islam dan kebutuhan umat Islam untuk mengakses pesan-pesan wahyu.

Tesis ini juga membantah pendapat yang menyatakan, bahwa perkembangan tradisi literasi bahasa tertentu mensyaratkan adanya kemapanan dalam bidang ekonomi, sebagaimana dikatakan Ibn Khaldûn (732-808 H/1332-1406 M) dalam Muqaddimah-nya. Temuan riset ini menunjukkan, bahwa masyarakat muslim Arab saat itu masih jauh dari kemapanan ekonomi. Peralatan yang digunakan untuk mempopulerkan budaya baca-tulis pun masih sangat sederhana, bahkan cenderung identik dengan kemiskinan, seperti tulang unta, pelepah kurma, kulit kayu, dan benda-benda yang bisa ditulisi lainnya.

Dengan demikian, masyarakat Islam Arab masih belum mapan dari ukuran materi, namun berhasil mengembangkan budaya literasi. Modal yang dimiliki umat Islam adalah semangat keislaman, keberagamaan, keimanan dan dedikasi untuk mengambil pesan wahyu. Dan dengan ini mereka berhasil.

Namun begitu, pendapat Ibn Khaldûn yang mensyaratkan adanya kompetisi dan komunitas sosial untuk perkembangan tradisi literasi sangatlah tepat. Dalam konteks masyarakat Islam, dua hal ini jelas ada. Masyarakat yang dibentuk Nabi adalah kelompok sosial yang kondusif, stabil dan memungkinkan untuk diajak berfikir progresif. Dia antara mereka juga terdapat kompetisi yang sehat, yaitu ingin mengetahui pesan wahyu, mendapat perhatian dari Nabi s.a.w., dan menjadi muslim yang mulia.

Selanjutnya, tesis ini memperkuat pendapat yang mengemukakan bahwa faktor yang mempengaruhi perkembangan tradisi literasi Arab adalah turunnya al-Qur’an. Pakar-pakar yang menyetujui pendapat ini cukup banyak, antara lain: Isma’il R. al-Faruqi dan Lois Lamya’ al-Faruqi dalam The Cultural Atlas of Islam (New York, 1986), Mustafa al-A’zami dalam Sejarah Teks Al-Qur’an (Jakarta, 2005), Bernard Lewis dalam The Arabs in History (New York, 1960), Ibrahim Hasan dalam Sejarah dan Kebudayaan Islam (Jakarta, 2006), Quraish Shihab dalam Membumikan Al-Qur’an (Bandung, 1999), dan Philip K. Hitti dalam History of The Arabs (London, 1970).

BACA JUGA:   Kunut Muhammadiyah Kota Bandung, Bukan Qunut dalam Shalat, Tapi...

Namun, perlu disampaikan di sini bahwa pendapat-pendapat di atas masih berupa statement yang belum didukung dengan bukti historis serta analisa yang mendalam. Posisi riset ini adalah menguatkan pendapat-pendapat ini dengan menunjukkan bukti-bukti historis untuk mendukung kesimpulan tersebut. Selain itu, juga menegaskan, bahwa kontak budaya melalui perdagangan tidak mempengaruhi secara signifikan perkembangan literasi Arab.

Tesis ini juga menjelaskan bahwa pada masa sebelum turunnya al-Qur’an, tradisi literasi sudah berlaku di lingkungan masyarakat Arab, tetapi masih dalam lingkup yang sangat terbatas, dan hanya sebagian kecil saja masyarakat Arab yang berbudaya baca-tulis. Di sini, tradisi literasi Arab tidak berkembang hingga dalam waktu yang cukup lama. Al-Qur’an—melalui motivasi, perumpamaan (tamtsîl), serta perintah baca-tulis—dan kerja keras Nabi Muhammad s.a.w. berperan penting dalam mempopulerkan tradisi literasi Arab.

Karena al-Qur’an juga, sistem tulisan Arab menjadi sempurna. Indikatornya adalah: terjadikan kodivikasi jumlah dan bentuk huruf (abjad) Arab, penyempurnaan sistem huruf Arab dengan digunakannya syakl/nuqthah, dan dibukukannya ilmu nahwu.

Sejak saat itu, tidak hanya syakl, nuqthah, dan nahwu yang menjadi perbincangan hangat di tengah-tengah masyarakat intelektual muslim, tetapi juga muncul kesadaran baru dan semangat mempelajari ilmu pengetahuan (wahyu). Maka, bisa kisa saksikan, bermunculan disiplin ilmu baru dalam dunia keislaman awal, misalnya, kesadaran mempelajari dan membukukan ilmu-ilmu al-Qur’an (ulûm al Qur’ân), ilmu tafsir (ulûm al-tafsîr), penulisan kitab tafsir, dan lain-lain.

Kemajuan tradisi literasi Arab pada masa setelah turunnya al-Qur’an juga bisa dilihat dari populernya kebiasaan menuliskan hadis-hadis Nabi, Sirah Nabi, penerjemahan buku-buku karya para filsuf Yunani, dan lahirnya generasi pemikir dan penulis produktif dari kalangan Muslim.

Ada dua sumber (data) yang dikaji dalam riset ini.

Pertama, Ayat-ayat al-Qur’an yang berbicara tentang perintah, motivasi dan tamtsîl tradisi baca-tulis. Ayat-ayat ini diposisikan sebagai embrio dimulainya tradisi baca-tulis Arab. Ayat-ayat ini dikaji dengan pendekatan tafsîr maudhû’i, kemudian dicari pengaruh dan relevansiya dengan kondisi sosio-historis saat itu.

Kedua, buku-buku ulumul Qur’an, sejarah al-Qur’an (târîkh al-Qur’ân) dan sejarah masyarakat Arab, terutama yang menceritakan perkembangan tradisi literasi di lingkungan masyarakat Arab, mulai dari kodivikasi jumlah dan bentuk huruf (abjad) Arab, penyempurnaan sistem huruf dengan digunakannya syakl dan nuqthah, sampai dibukukannya ilmu nahwu.

Di sini, semua data yang sudah terhimpun kemudian dikaji dengan pendekatan sosial historis. Selain itu, gambar-gambar bentuk tulisan Arab kuno yang ada dalam buku-buku tersebut akan dibandingkan dengan perkembangan tulisan Arab pasca turunnya al-Qur’an. Begitu juga dengan peristiwa pembukuan ilmu nahwu, diposisikan sebagai indikasi penting atas perkembangan literasi Arab.

BACA JUGA:   Kerukunan Hidup Beragama Dalam Perspektif Al-Qur’an

Selain itu, kerja penelitian penulis juga dibantu dengan buku-buku yang menghimpun para penulis keislaman dan karya intelektualnya, di antaranya adalah al-Fihrist (Baerut, 1996) karya al-Nadîm (w. 380) dan Kasyf al-Zhunûn (Beirut, 1994) karya Hâjî Khalîfah (1017-1067) dan buku-buku sejenis lainnya. Buku seperti ini cukup penting untuk mengetahui sejauh mana (pada waktu tertentu) perdaban literasi Arab telah berkembang.

Selain data-data di atas, literatur yang digunakan dalam penelitian ini dikategorikan sebagai data penunjang (sumber sekunder), yang meliputi buku-buku tentang sejarah literasi dunia, tema-tema menarik terkait ulumul Qur`an, serta literatur yang mengulas tentang sejarah kebudayaan Arab. Di sini, buku-buku yang memuat para inteletual dan karyanya akan dijadikan tolok ukur perkembangan dunia akademik sebelum dengan sesudah turunnya al-Qur’an.

Riset ini sangat penting dan menarik, karena pembahasan tradisi literasi Arab kurang mendapat perhatian dalam disiplin ulumul Qur’an. Padahal, sejak awal peran literasi Arab begitu penting bagi proses perkembangan ulumul Qur’an (di satu sisi) serta peradaban Islam secara umum (di sisi yang lain). Karena perkembangan literasi Arab—yang dikawal sendiri oleh Nabi sendiri—pula, kekayaan ilmu pengetahuan Islam bertahan hingga saat ini. Kajian ini dimaksudkan sebagai tawaran baru bagi perkembangan dan perluasan pembahasan ulumul Qur’an, dengan memberi perhatian lebih terhadap tradisi literasi Arab.

Oleh karena itu, ada beberapa hal yang menurut penulis penting untuk direkomendasikan, terkait dengan temuan dalam tesisi ini.

Pertama, kajian terhadap literasi Arab yang di dalamnya mencakup jam’ al-Qur’ân (terutama dalam arti penulisannya), penyempurnaan sistem bacaan, penyempurnaan sistem tulisan Arab hendaknya mendapat perhatian lebih dalam diskursus ulumul Qur’an dan kajian keislaman. Karena hal ini menjadi embrio lahirnya peradaban ilmu pengetahuan dalam Islam.

Kedua, orientasi belajar di dunia Islam yang cenderung berorientasi menghafal hendaknya dirubah dengan mementingkan aspek analisis secara mendalam. Kecenderungan memahami teks keagamaan dengan cara apa adanya (harfiah) tanpa ada upaya pembacaan kritis sebenarnya sudah diperangi Nabi Muhammad s.a.w.—sesuai dengan pesan wahyu yang pertama kali turun. Konsep ini juga sudah dibuktikan oleh generasi Islam pada masa-masa selanjutnya, yaitu dengan digagasnya program pembacaan ulang dan alisis mendalam terhadap karya keilmuan Yunani kuno oleh kaum intelektual Islam pada masa tertentu. Prestasi luar biasa pun berhasil diraih umat Islam dengan berkembang pesatnya dunia intelektual Islam.

Menurut hemat penulis, kesuksesan dunia Islam bisa terulang kembali kalau kita mentradisikan membaca-menulis (tradisi literasi). Dengan tradisi literasi, memungkinkan kita untuk menganalisis satu tema tertentu secara mendalam. Wallâh a’lam bi al-shawâb

Penulis: ALI ROMDHONI

Editor: SUKRON ABDILAH

Source: Facebook QSOFT DATA

Redaksi
MuhammadiyahGoodNews.id adalah media yang memuat kabar baik dari persyarikatan Muhammadiyah. Media ini juga menghadirkan artikel yang mencerahkan, berkemajuan, dan berperadaban.