MPM Sebagai Pilar Strategis Pemberdayaan Muhammadiyah bagi Indonesia

YOGYAKARTA – Setiap kali kita memasuki tahun politik yang jatuh pada 2019, sejatinya bangsa Indonesia belajar menjadi pemilih yang cerdas dan cermat dalam menentukan keputusan politiknya. Momentum politik tahun ini, tak boleh dijadikan bahan retorika semata, tapi menjadi ajang peningkatan kesejahteraan dan kebaikan untuk masyarakat.

Hal tersebut disampaikan Nurul Yamin, Ketua Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) PP Muhammadiyah dalam acara “Outlook MPM for Indonesia 2019” pada Selasa, 8 Januari 2019 di Meeting Room Lantai 4 Graha Suara Muhammadiyah Yogyakarta.

Yamin menuturkan, proses politik yang memakan banyak modal harusnya berakhir dengan mensejahterakan rakyat. Tapi kenyatannya, politisi seringkali menjadikan isu kesejahteraan untuk materi kampanye semata, setelah menjabat tidak diteruskan ke dalam suatu aksi nyata.

“Hal ini akhirnya berkaitan dengan pemberdayaan masyarakat. Jalur pemberdayaan masyarakat ada dua yakni melalui jalur politik dan jalur pendampingan secara kultural. MPM masuk ke jalur kultural,” jelasnya.

MPM dalam program kerjanya, konsisten mendampingi masyarakat sekaligus melakukan pemberdayaan terhadap kelompok petani, pemulung, pedagang asongan, hingga difabel; agar mereka mampu hidup berdaya saing.

“Kelompok-kelompok ini adalah golongan yang termarjinalkan di struktur pemerintahan. Saat ini, rakyat miskin masih menjadi bagian dari retorika permainan politik. Kami ingin ada untuk para kelompok yang belum tersentuh oleh pemerintah. Karena MPM adalah pilar strategis Muhammadiyah dalam hal pemberdayaan,” tegasnya.