BANTUL – Berbagai kejadian bencana yang melanda tanah air menjadi perhatian bersama. Sementara itu masih ada pandangan masyarakat dan fakta penyebab terjadinya bencana yang keliru.

Untuk meluruskan cara pandang atau persepsi masyarakat yang keliru terhadap penyebab terjadinya bencana, Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah menggagas Buku Fikih Kebencanaan. Akan tetapi Buku Fikih Kebencanaan itu perlu disempurnakan dengan peninjauan dan resistematisasi.

“Memandang perlu melakukan kajian dan resistematisasi terhadap Buku Fikih Kebencanaan yang dinilai sebagai ikhtiar dalam memberikan perhatian kepada masyarakat dan menunjukkan keberpihakannya pada kaum dhuafa dan kelompok-kelompok yang berpotensi terekploitasi dan terpinggirkan,” ungkap Ketua MTT PP Muhammadiyah Syamsul Anwar.

BACA JUGA:   Muhammadiyah Reborn, Lahirkan Karakter Islam Berkemajuan Zaman Now!  

MTT PP Muhammadiyah menggelar Workshop Resistematisasi Buku Fikih Kebencanaan di Gedung AR Fakhruddin A Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Sabtu (12/1). Menurut Syamsul, tujuan workshop tersebut diantaranya menambah pembahasan aspek-aspek fikih yang belum tertampung serta mengumpulkan ide dan gagasan kritis dari para ahli.

“Buku ini juga dimaksudkan agar menjadi pedoman bagi masyarakat dalam upaya menghindari perilaku yang dapat merusak lingkungan dan mendatangkan bencana serta dapat juga berperilaku dalam rangka memulihkan dan menormalkan kembali kepada aktivitas kehidupan sehari-hari bagi terdampak bencana,” tambah guru besar Fakultas Syariah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta itu.

BACA JUGA:   Nasyiatul Aisiyah: Trend Jilbab Syar’i yang Justru Nggak Nyar’i

Workshop Resistematisasi Buku Fikih Kebencanaan dibuka oleh Direktur Pascasarjana UMY Sri Atmaja P Rosyidi. Dalam penyampaian pidato kuncinya, Sri Atmaja menyampaikan tentang bagaimana pendekatan elaboratif struktural dalam penyadaran bencana secara holistik.

Menurutnya melihat bencana secara cermat dan terstruktur yaitu memahami bencana secara utuh dan menyeluruh dari berbagai perspektif. “Setelah memahami bencana secara elaboratif, maka perlu disusun kerangka penyadaran bencana yang memuat pelbagai aspek tersebut secara holistik menyeluruh dan proporsional,” kata Sri Atmaja.

BACA JUGA:   Akar Bencana di Indonesia ialah Perusakan Manusia Terhadap Lingkungan

Hadir dalam Workshop tersebut sebagai narasumber yaitu Hamim Ilyas (perspektif fikih-tarjih), Agus Setyo Muntohar (perspektif kebencanaan), Djafnan Taan Afandie (perspektif kebencanaan), dan Taqwadin (perspektif hukum). Workshop diikuti Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), Majelis Pembina Kesehatan Umum (MPKU) PP Muhammadiyah, Lazismu, Pusat Studi Bencana UMY, perwakilan dari majelis dan lembaga PP Muhammadiyah serta para pakar lainnya.