Presiden dan Wakilnya Seumpama Berdansa Tango

PRIBAHASA yang kerap saya kutip saat khutbah nikah, “It takes two to tango” – perlu dua orang untuk berdansa tango – layak kita renungkan. Pribahasa ini cocok dibahas saat media banyak membicarakan sosok Presiden RI ke-7, Pak Jokowi; yang selalu menekankan bahwa para menterinya harus bergerak bersama dan bekerja keras.

Secara filosofis, dansa Tango bila dibandingkan dengan sistem kepemimpinan Indonesia agak mirip, tetapi tidak kembar identik. Seseorang yang hendak ber-tango ria membutuhkan keselarasan dan harmonitas dengan pasangannya, agar gerakan mereka berdua terlihat indah dan memukau.

Pun begitu dengan Presiden dan wakilnya, harus selaras dan saling melengkapi agar kinerjanya mengagumkan publik. Di negara asalnya, Argentina, dansa Tango menjadi kebudayaan ngepop yang tak sekadar subkultur, yang tak mungkin dilakukan seorang diri. Untuk bisa berdansa tango seseorang harus memiliki partner yang saling mengerti satu sama lain.

Begitu juga dengan Presiden kita, Pak Jokowi; tidak mungkin ia bisa bekerja seorang diri. Disamping seorang Presiden dibutuhkan wakil yang tak sekadar jadi “ban serep”. Tapi ikut menari – atau bekerja – bersama Presidennya.

Presiden dan wakilnya, harus saling melengkapi untuk memajukan Indonesia. Tidak mungkin, seorang diri Presiden dapat bertepuk tangan jika hanya menggunakan sebelah tangan. Tidak mungkin, Presiden dapat memajukan Indonesia yang sedemikian luas dan dipenuhi kompleksitas permasalahan, hanya dengan seorang diri saja.

Selain harus bekerjasama dengan rakyat, Presiden tentunya harus bekerja secara serasi dengan wakilnya. Sehingga tidak ada kesan, bahwa terjadi disharmoni kinerja antar mereka berdua, meskipun pada saat kampanye mereka terlihat serasi.

Para menterinya juga tak sekadar mampang nama saja, tapi mampu menafsirkan kebijakan Presiden dan wakilnya hingga ke tataran praktis kementerian sehingga lahir kebijakan pro rakyat.

Dalam mengemban tugas sebagai orang nomor satu di Indonesia, Pak Jokowi tidak mungkin hanya seorang diri memajukan negeri ini. Ingat, Jokowi bukan Superman, yang dengan gagahnya dan sakti mandraguna bertarung sendirian melawan kebatilan.

Pak Jokowi hanya manusia biasa yang memerlukan pasangan hidup – selain istrinya – untuk memajukan negeri ini. Sebagai seorang bapak bangsa, pak Jokowi harus memiliki prinsip interaksi kepolitikan “saling melengkapi”, sehingga apa yang dijanjikannya saat kampanye dapat terealisasi.

Akan tetapi, mencari passangan itu ternyata sulit. Kendati sudah memiliki pasangan hidup dengan satu istri dan wakil presiden, Pak Jokowi seolah sedang kesulitan mencari pasangan yang sesuai dengan janji kampanye dulu, karena memilih menteri yang pas dan cocok untuk diajak berdansa tango itu ternyata membuat pening kepala. Saking sulitnya mencari pasangan kerja untuk Indonesia hebat, serupa dengan pernikahan, di mana para calon Menteri pun harus melalui seleksi ketat.

Jangan aneh jika pada 2014 lalu, di masa injury time penentuan nama-nama Menteri dalam Kabinet Kerja 2014-2019, waktu seolah dijadikan permainan bahasa politik. Kalimat “secepatnya diumumkan” makna azalinya menjadi “penungguan yang lama” bagi bangsa ini, yang mengakibatkan investor merasa ragu dan gelisah. Untung saja ekspektasi Jokowi-JK untuk menciptakan pemerintah bersih dari anasir korupsi mendekati ekspektasi rakyat.

Melihat postur Kabinet Kerja, yang disusun Jokowi-JK ada harapan muncul mereka dapat menjadikan Indonesia hebat. Dan, sebagai rakyat, kita harus mendukung program pemerintah agar seluruh kebijakan menjadi bermanfaat untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Akan tetapi, tetap bagi saya, bahwa Presiden dan wakilnya, memegang peranan penting dalam mewujudkan Indonesia hebat, serupa pasangan ketika kita hendak berdansa Tango.

Baik-buruknya penampilan para pemimpin ditentukan keselarasan dan komitmen politik “saling melengkapi” ketika memimpin Indonesia. Bukan yang satu ke kanan, yang satunya lagi makin ke kiri. Bila sudah begini kelakuan politik mereka, saya hanya mampu bilang, “wallahua’lam bishshawwab”. ***

Oleh: DRS. H. IDAT MUSTARI, SH (Calon Legislatif Partai Demokrat Dapil 4 [Rancaekek, Cikancung, Cicalengka, Nagreg] Nomor 3).
Penulis: H. IDAT MUSTARI

Editor: SUKRON ABDILAH