Saat Jiwamu Lelah, Berhentilah Mengeluh kepada Sesama Manusia

Kita selalu mengeluh lelah manakala ujian dan masalah hidup datang silih berganti, utamanya bila menyangkut percintaan. Hati pun dengan sekejap berubah gundah gulana, kecewa, marah, dan merana; karena cinta yang lama kita jalin harus terputus oleh berbagai sebab.

Ketika cintamu terputus, maka semangatmu mengendur. Gairah dan cita-cita, yang sejatinya menumbuhkan harapan untuk menyenangi kehidupan terkubur di kedalaman jiwamu.

Wajahmu menjadi murung, malas mengerangkeng tubuh, dan putus asa menguasai jiwa. Kamu belajar keras siang-malam, tapi tersebab masalah cinta membelit hidupmu, kamu sulit berkonsentrasi. Nilai pelajaranmu pun jeblok dibawah rata-rata.

Akhirnya, kamu mengeluh kelelahan, letih, lesu, tak bergairah, dan capek.

Lelah muncul akibat dari segala daya dan upaya yang kamu lakukan hasilnya tak sesuai dengan harapan. Ini normal. Di saat apa yang kamu inginkan dan harapkan tak terwujud, normal jika kamu mengeluh lelah. Normal bila kamu kecewa dan marah.

Bahkan, mencucurkan air mata kesedihan pun masih normal. Namun, semuanya akan abnormal bila kelelahan itu merusak hidupmu.

Cinta, pendidikan, kerja, cita-cita, dan jodoh membuat kita berada dalam kondisi bingung. Sebab, hal itu berkaitan dengan masa depan. Wajar bila kamu menjadi bingung.

Dalam kondisi kebingungan, kamu pun dihinggapi kelelahan tersebab lamanya sebuah penantian. Menunggu dan menanti adalah pekerjaan yang sangat membosankan.

Lebih membosankan lagi ketika upaya yang kita lakukan tak membuahkan hasil yang sempurna. Apalagi bila di dalam dirimu tak ada kesabaran. Dengan begini, jiwa akan cepat merasakan kelelahan.

Sebagai manusia, kita selalu bergembira di saat mendapatkan kebaikan, keberkahan, dan kesenangan dalam hidup; khususnya ketika cinta kita tak bertepuk sebelah tangan. Sebaliknya, tatkala kita ditimpa kesusahpayahan, selalu mengingkari rahmat Allah.

Keluhan lelah menjalani hidup ialah salah satu tanda kamu mengingkari rahmat-Nya.

“Dan sesungguhnya apabila Kami merasakan kepada manusia suatu rahmat dari Kami, mereka bergembira ria karena rahmat itu. Dan jika mereka ditimpa kesusahan tersebab perbuatan mereka sendiri (niscaya mereka ingkar) karena sesungguhnya manusia itu amat ingkar (kepada nikmat).” (QS. Ash-Shura [42]: 58).

Mungkin juga, kita pernah mengeluh kelelahan, ketika segala upaya dilakukan, tetapi hasilnya tak sesuai harapan. Lelah jiwamu karena apa yang ditunggu-tunggu dan diharapkan itu, tidak diberikan Allah?

Tetapi, sebagai seorang hamba-Nya, apa yang menimpa hidup kita, seyogyanya ditempatkan sebagai pelajaran berharga untuk hidup. Kita tidak boleh mengeluh lelah dan keluhan itu membuatmu putus asa atas rahmat Allah.

Ketika setiap kesulitan dalam hidup menimpa; ingatlah bahwa Allah sedang menguji keimanan. Kita harus mengembalikan segala urusan kepada-Nya. Menengok kembali kehadiran Allah dalam setiap desah nafas kita, sehingga ketika kelelahan menyergap, kita bisa selalu bugar, segar, fresh, dan tenang.