Ikan salmon adalah ikan yang ketika lahir menetas di air tawar lalu hidup di air laut. Ikan salmon setelah dewasa berenang beribu ribu kilometer mencari lautan untuk bertahan hidup, lalu ketika mau berkembang biak atau bertelur, mereka berenang dari samudra pasifik mencari sungai kurang lebih 1500 Kilometer jaraknya.

Coba bayangkan di dalam perjalanan mereka. Begitu banyak tantangan dan rintangan untuk sampai ke air tawar atau sungai. Ancaman pun tidak terhitung bisa menghampirinya. Namun, ikan salmon tidak pernah menyerah; karena mereka mempunyai satu tujuan yaitu untuk memperjuangkan kehidupan.

Ikan Salmon merupakan ikan yang mempunyai gizi yang sangat tinggi. Ikan ini merupakan makanan wajib orang Jepang. Ikan Salmon ketika disantap saat masih segar atau belum lama mati. Nelayan di Jepang, malahan, harus memastikan Ikan Salmon tangkapnya masih hidup ketika sampai di daratan. Tetapi, apa daya Ikan salmon yang disimpan di kolam kecil tempat tangkapan ikan para Nelayan banyak yang mati.

BACA JUGA:   Caleg Muhammadiyah: "Abdi Kedah Milih Saha?"

Nah, karena Orang Jepang itu terkenal pintar dan cerdas, sehingga banyak cara yang mereka lakukan untuk ikan salmon agar bisa hidup sampai darat. Caranya, para nelayan itu memasukkan seekor hiu kecil di dalam kolam tersebut. Sungguh Ajaib! Hiu kecil tersebut “memaksa” salmon-salmon itu terus bergerak agar jangan sampai dimangsa si hiu kecil tersebut. Akibatnya banyak ikan salmon yang tetap hidup dan jumlah ikan salmon yang mati justru menjadi sangat sedikit.

Lantas, apa, sih, yang bisa dipetik hikmahnya dari cerita Ikan salmon di atas? Ya, diam membuat kita Mati! Bergerak membuat kita Hidup!

Apa yang membuat kita Diam? Saat tidak ada masalah dalam hidup dan saat kita berada dalam zona nyaman; maka pada saat itu kita kebanyakan diam dan stagnan. Situasi seperti ini kerap membuat kita terlena. Begitu terlenanya sehingga kita tidak sadar bahwa kita telah mati!

BACA JUGA:   Allah Itu Diingat, Bukan (Hanya) Dipikirkan

Lantas, apa yang membuat kita bergerak? Masalah, tekanan hidup, dan tuntutan kerja. Saat masalah datang, secara otomatis naluri kita membuat kita bergerak aktif dan berusaha mengatasi semua melalui pergumulan dalam hidup. Tidak hanya itu, kita menjadi kreatif, dan potensi diri kita pun menjadi berkembang luar biasa.

Jika kita mengelola sekolah Muhammadiyah ingin maju maka jangan takut akan tantangan dan rintangan karena semua itu adalah jalan menuju kesuksesan, hilangkan semua rasa aman, nyaman, merasa cukup, merasa bermuhammadiyah dan merasa berjasa karena semua itu adalah titik awal dari kehancuran.

Jika kita berada di zona nyaman maka tunggu akan kehancuran seperti cerita di bawah ini:

Ada sebuah cerita tentang 4 angin yang ingin menjatuhkan seekor monyet. Angin timur maju lebih dulu, dengan kekuatanya angin timur mulai memutar dengan deras tetapi monyet tidak jatuh dari pohon, lalu angin selatan menghampiri “awas minggir biar saya yang menjatuhkan monyet ini”. Angin selatan memulai dari bawah ke atas tetapi tetap monyet tidak jatuh. Lalu angin utara datang dengan kekuatanya angin utara menggoyangkan pohon denganm keras tapi monyet lebih kuat lagi memegang ranting pohon dan akhirnya angin utara menyerah.

BACA JUGA:   Cek dan Ricek Informasi yang Berseliweran ialah Kebaikan

Lalu datang lagi angin barat dengan santai angin barat meniupkan angin yang sepoi-sepoi; pelan-pelan, dan akhirnya monyet itu ngantuk dan tidur sehingga kedua tangan kakinya terlepas dari pohon dan terjatuh ke bawah.

Ketika sekolah Muhammadiyah diuji dengan cobaan yang berat insyaAllah akan semakin maju, tetapi jika sekolah Muhammadiyah berada di zona aman dan nyaman insyaAllah itu adalah titik awal dari kehancuran.

Mari kita semangat dalam menegakan syiar Allah melalui jalur Pendidikan, sebagaimana firman Allah SWT, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ. Jika kita menolong Agama Allah Niscaya Allah akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.