Di Balik Laju PCIM Malaysia

Saya kenal Muhammadiyah sejak lahir. Bersekolah dan berorganisasi dalam Persyarikatan yang didirikan KH Ahmad Dahlan ini saya jalani sejak sekolah hingga kuliah. Kendati demikian, saya benar-benar mengerti dan mengalami perjuangan secara total dalam Muhammadiyah baru di PCIM Malaysia.

PCIM Malaysia terdiri dari kalangan TKI hingga akademisi. PCIM yang berpusat di Kuala Lumpur ini sangat hidup. Jangan tanya kegiatan. Silakan aktif di Persyarikatan ini, dijamin tidak akan pernah kekeringan kegiatan. TKI adalah tulang punggung utama gerakan berkemajuan di negeri Jiran ini.

Aktivis PCIM Malaysia seolah tidak kenal lelah. Dalam setiap kegiatan, semua pasang dada. Mulai dari waktu hingga tenaga dikorbankan. Apalagi cuma soal biaya. Tidak ada eman atau hitung-hitungan. Di sini, mencari dana puluhan ringgit tidak susah. PCIM Malaysia adalah gudangnya penderma.

TKI di PCIM Malaysia juga haus ilmu. Obrolan bernilai ilmu akan ditandangi sampai shubuh. Padahal, siang harinya harus ngongkrek dan seterusnya. Saya yang tidak terbiasa kongko hingga malam ikut ketularan tidak tidur sampai pagi. Tapi saya bahagia. Sebab, kita tidak bicara persoalan sia-sia.

Banyak ilmu saya serap dari obrolan dengan bapak/ibu yang lebih pas saya anggap sebagai orang tua saya sendiri. Terutama sekali tentang ketulusan dalam berjuang. Sering saya temukan ilmu hidup yang tidak muncul di bangku pendidikan saya. Konflik yang ada juga ngeri-ngeri sedap.

Tahukah Anda kenapa PCIM Malaysia sangat hidup dan terjalin hubungan gayeng antara TKI dan akademisi? Di samping soal loyalitas anggota, persoalan kepemimpinan ternyata sangat dominan. Dr Sonny Zulhuda, sang nakhoda, adalah pribadi teduh dan bisa ngemong. Beliau pandai merawat kata.

PCIA Malaysia juga tidak kalah aktif. Rahasia yang saya temukan ternyata setali tiga uang. Di bawah komando Nita Nasyithah, organisasi modern perempuan ini melesat. “Bu Nita itu ramah sekali. Suka hafal dan mau menyapa nama kita yang TKI ini,” tutur seorang anggota PCIA Malaysia.

Rupanya kepemimpinan sangat menentukan. Pasangan suami istri tersebut, tentu bersama pimpinan lain, terbukti sukses membawa organisasi ini karena kedekatan dengan semua orang. Beliau berdua tidak sudang-suding, tetapi langsung cincing. Inilah pendorong kebersamaan dan loyalitas anggota.

Kedekatan menjadikan seorang pemimpin tahu betul “bau keringat” dan “aroma napas” anggota. Kata Nadjib Hamid, Wakil Ketua PWM Jatim, pimpinan Muhammadiyah tidak terbiasa datang, sambutan, lalu pulang. Itu bukan gaya pimpinan Muhammadiyah. Kalau ada pimpinan yang demikian pasti ketahuan.

Saya setuju dengan Pak Nadjib. Sebab, sering saya temukan, kalau ada elite Muhammadiyah yang sesekali sambang Persyarikatan, biasanya yang dipidatokan terasa kering, mengawang, dan tidak menyentuh persoalan. Dia buta medan dan peta masalah yang hendak disampaikan.

Selamat untuk PCIM Malaysia. Semoga jaya selalu. Pagi ini, mereka akan kerja bakti untuk nggarap jalan depan TPA Ar-Rehlah Kampung Baru. Semoga semangat, meskipun sejak artikel ini ditulis, bapak-bapak dan ibu-ibu yang sejak semalam di TPA ini belum pada tidur, kecuali hanya lek-lek ayam.