Menyegarkan “Motor Gerakan” Muhammadiyah Jawa Barat

Salah satu hal yang menarik dalam FGD di STAIM Bandung kemarin (20/22019), pemaparan dari PCM Cileungsi Kab. Bogor. Pengurus PCM peraih predikat PCM terbaik nasional ini, perpaduan Gen X dan Gen Y. Gen X, generasi yang lahir antara 1930-1980 dan Gen Y, generasi kelahiran 1980-1995. Perpaduan ini menyatukan cita-cita lama dengan semangat gerakan terbarukan. Hasilnya, tiga tahun berturut-turut menjadi perwakilan Jawa Barat sebagai PCM terbaik tingkat nasional.

Menurut Nasihin, ketua PCM Cileungsi, dalam waktu dekat, PCM sedang merintis pendirian Rumah Sakit Muhammadiyah Cileungsi dan Universitas Muhammadiyah Cileungsi. Khayalan? Bukan. Para pengurus memiliki langkah strategis, terstruktur, massif dan sistematis. Hingga kini telah memiliki dua klinik dan dua sekolah tinggi. “Tinggal selangkah lagi, mewujudkan mimpi kami,” ujar mantan aktivis IPM ini.

BACA JUGA:   Beda Pilihan Politik, Warga Muhammadiyah Harus Tetap Berta’awun untuk Negeri

PCM ini memiliki AUM pendidikan mulai TK hingga perguruan tinggi. Di bidang kesehatan, ada dua klinik, memenuhi permintaan PWM Jawa Barat dalam program 1000 klinik pratama di Jawa Barat. Di bidang ekonomi memiliki BMT sebagai sentral alur keluar masuk keuangan. Saat ini sudah membebaskan lahan untuk mendirikan minimarket. Kok bisa ya?

Sentralistik. Kunci keberhasilan PCM Cileungsi. Di PCM ini hanya ada satu bendahara. Bendahara PCM. Tidak ada bendahara AUM. Kepala sekolah dan guru fokus untuk mengajar dan membina anak didik. Laporan keuangan BOS dibuat oleh bendahara PCM. “Bagaimana guru mau konsentrasi mengajar kalau urusan teknis laporan masih juga dikerjakan guru.” ujar pria asal Bumiayu ini.

Dengan tersentralistik semua laporan keuangan dan kegiatan, pimpinan bisa melihat dan meminta laporan keuangan, kehadiran, dll saat itu juga. Ini berkat sistem informasi yang diterapkan di PCM ini. Aplikasi software ini dibuat oleh alumni STT Muhammadiyah Cileungsi dan dipergunakan hingga sekarang.

BACA JUGA:   Kasihan, Koran "PR" Pun Laku Tiga Eks Sehari

Melihat potensi Muhammadiyah yang besar, Nasihin dkk membuat skema agar potensi dana yang beredar di PCM tidak keluar. “Tidak ada lagi kader yang berbisnis demi keuntungan pribadi, semuanya masuk ke PCM. Mulai dari rabat penjualan buku di sekolah sampai air mineral keuntungannya balik lagi ke persyarikatan,” tegas Nasihin.

Bagi Nasihin, AUM adalah usaha kita sebagai muslim untuk bekal amal yang akan dipertanggungjawabkan nanti kelak di akhirat. Jangan sampai gara-gara tidak amanah menjalankan AUM atau pimpinan persyarikatan menjadi penghambat kita saat dihisab nanti. Satu prinsip yang tertanam dalam dirinya, “Untuk apa jadi pimpinan kalau tidak melahirkan AUM.” kata ketua PCM dengan total aset mencapai Rp. 60 M ini.

BACA JUGA:   MDMC Jawa Barat Bantu Evakuasi Korban Longsor di Sukabumi

Cerita dari PCM Cileungsi ini melahirkan optimisme baru Muhammadiyah Jawa Barat. PCM Cileungsi akan dengan senang hati berbagi ilmu dan strategi membangun PCM dengan semangat terbarukan. Jangan sampai terus mendiskusikan era 4.0 tapi perilaku masih 1.0.

Perkembangan zaman terus berputar. Dakwah dan tantangan umat semakin beragam. Perpaduan cita-cita lama para pelopor dengan semangat energi terbarukan kader muda mewujud dalam gerak dakwah yang lebih militan, progresif dan sesuai dengan zamannya. Zaman sudah melipat. Sudah saatnya singa tua mengawasi dari puncak bukit, memberikan ruang dan waktu pada singa muda bertarung di medan laga. Cukuplah singa tua memberikan nasihat atas pengalaman, biarkan singa muda yang mengambil keputusan.