Muhammadiyah yang “Megilan”

Mencerdaskan, menghidupkan, dan menggembirakan. Itulah tiga kata kunci dalam bermuhammadiyah sebagaimana dirumuskan Dr Sonny Zulhuda, Ketua PCIM Malaysia. Sonny kemudian menyebutnya “Islam yang megilan”, meminjam istilah orang Lamongan.

Bermuhammadiyah, kalau mau maju, memang harus begitu. Saya setuju dengan ungkapan pakar hukum digital yang sekaligus dosen International Islamic University Malaysia (IIUM), kampus tempat saya menimba ilmu, tersebut.

Mencerdaskan harus dengan ilmu pengetahuan. Jangan ada orang Muhammadiyah yang malas mikir, emoh berwacana, ingin gampangnya, tetapi lebih suka jalan pintas. Haedar Nashir, Ketua Umum PP Muhammadiyah, sering bilang, “Muhammadiyah itu tradisinya intelektual. Kalau tidak kembangkan tradisi intelektual, bukan hanya mengkhianati Ahmad Dahlan, tetapi juga tidak membaca Al-Quran dengan baik.”

BACA JUGA:   4 Cita-Cita Muhammadiyah Membangun Lembaga Pendidikan

Kemudian, menghidupkan, tidak lain harus dengan berbagai kegiatan positif. Kita tahu, Muhammadiyah tidak pernah sunyi ide. Amal usahanya juga terus bermunculan. Muhammadiyah bukan tipologi gerakan yang “basah di lisan namun kering di perbuatan”. Di antara ciri gerakan Muhammadiyah adalah “jauh lompatan, minim perdebatan”.

Yang terakhir adalah menggembirakan. Penting sekali. Segala kegiatan harus dilakukan dengan santai dan menyenangkan. Tidak ada paksaan dalam Muhammadiyah. Sebaliknya, di Muhammadiyah juga jangan suka maido orang lain. Jangan menjadi penyebab kesumpekan suasana alias biang kerok.

BACA JUGA:   Informasi Menakutkan Bisa Memanipulasi Otak

Surah Al-An’am/6: 135 menegaskan, “Berbuatlah menurut kedudukanmu, aku pun berbuat demikian. Kelak kamu akan mengetahui, siapa yang akan memperoleh tempat terbaik di akhirat nanti. Sungguh orang-orang yang zhalim itu tidak akan beruntung.”

Istilah terakhir, yakni menggembirakan, perlu saya elaborasi agak panjang agar jangan ada orang Muhammadiyah yang irian, dengkian, mencap-mencep kalau lihat temannya maju, dan sikap-sikap rendah lainnya.

Persaingan harus dilakukan secara baik, dengan cara yang cantik, dan muaranya harus pula untuk kemajuan Persyarikatan. Jangan gremang-gremeng di belakang, apalagi sindar-sindir lewat medsos atau status WhatsApp, yang ujungnya hanya ingin pengakuan diri dan agar menjadi orang yang paling diutamakan dan dipentingkan.

BACA JUGA:   Wow, SMK Muhammadiyah 1 Sirampog Ujian Sekolah Pake Android

Jangan gitu, deh, ya. Kalau sudah sering begitu, cobalah hentikan dari sekarang. Marilah bermuhammadiyah secara mencerdaskan, menghidupkan, dan menggembirakan. Kalau ada hal-hal yang tidak berkelas, misalkan, rerasan atau fitnah, jadilah orang tuli saja. Jangan didengarkan.

Karena, saya juga begitu kok. Kalau ada orang bicara melantur yang tidak mutu, aslinya saya dengar semua, cuma saya sering pura-pura main HP atau tidur saja.