4 Cita-Cita Muhammadiyah Membangun Lembaga Pendidikan

Diantara fokus awal gerakan Muhammadiyah adalah pertama, Pendidikan. Kedua persoalan kesehatan (membangun rumah sakit atau klinik), dan ketiga, tabligh (dakwah). Masjid, Sekolah dan Rumah sakit adalah tiga pokok perhatian gerakan Muhammadiyah.

Kenapa Muhammadiyah memfokuskan diri pada tiga persoalan ini? karena pada prinsipnya manusia memiliki hubungan saling erat dalam tiga persoalan. Pertama, persoalan kesehatan fisik, itulah sebabnya orang butuh sehat jasmani. Sebab manusia memiliki dimensi fisik yang harus dijaga kesehatannya. Hidup seseorang tidak akan sempurna bila badannya tidak sehat atau sakit-sakitan. Kedua, manusia diberi anugerah oleh Tuhan dalam dimensi kekuatan berpikir. Tidak akan sempurna hidup manusia bila tidak maksimal dalam menggunakan pikirannya (akalnya). Untuk itulah manusia perlu dididik supaya berpikirnya benar. Ketiga, manusia memiliki dimensi psikologis-spiritual (rohani). Maka jiwa manusia harus diasuh dengan pelajaran budi pekerti yaitu nilai-nilai etika agama (wahyu).

Oleh karena itulah mendirikan dan menghidupkan masjid adalah kunci pertama dan utama. Lalu kedua, mencerdaskan pikiran manusia (SDM) dengan pendidikan. Dan ketiga, menjaga kesehatannya dengan membangun klinik atau balai pengobatan dan rumah sakit. Bila ketiga komponen tersebut cukup terpenuhi, maka sehatlah jasmani dan rohani serta akal pikirnya seseorang. Bila seseorang sudah sehat lahir batin seperti itu, maka dirinya akan hidup secara sempurna. Begitu pun bila masyarakat sudah bisa menjaga keseimbangan hidup, maka masyarakat  dikatakan sehat secara lahir dan batin.

BACA JUGA:   Presiden Jokowi Apresiasi Pembangunan Rusun Darul Arqam Muhammadiyah Garut

Situasi kehidupan orang di Jawa ketika itu, masyarakat kita masih dalam kondisi terbelakang dalam persoalan sumber daya manusia (SDM). Pendidikan masih amat langka, hanya segelintir kalangan priyayi (bangsawan) yang bisa mengenyam pendidikan. Sementara pelajaran agama Islam pun—masih mewarisi corak pembelajaran yang tidak mencerahkan/mencerdaskan—sehingga umat Islam lebih tampak sebagai umat yang memelihara hidup di alam mistis daripada di alam nyata dan rasional.

Secara sosial budaya, pola pikirnya masih feodalistik (tertinggal). Karena mereka belum terdidik secara baik. Akibat selanjutnya, kebodohan tersebut menghasilkan kehidupan yang secara ekonomi pun mereka terjebak kemiskinan. Kekayaan hanya dinikmati kalangan pejabat kolonial dan bangsawan pribumi yang sudah terdidik. Maka ketimpangan sosial dan ketidakadilan merupakan potret kehidupan di masa itu, sebagai warisan kolonialisasi selama ratusan tahun, hampir sepanjang 7 keturunan.

Masyarakat mayoritas adalah Muslim, kehidupannya sebagai Muslim yang tertinggal dalam banyak aspek kehidupan. Masyarakat kita tidak “merdeka” dalam mengatur diri sendiri. Terkadang banyak pula elit pemuka agama membiarkan kebodohan atau “membodohi” umatnya.

BACA JUGA:   Sekolah Muhammadiyah Harus Meloncat dari Zona Nyaman

Beragam faktor tersebut mendorong kalangan yang sudah terdidik bangkit kesadaran untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik terhadap sesama.  Salah satunya kalangan intelek (pemikir) dari kalangan santri seperti KH Ahmad Dahlan. Sejak muda dia memperhatikan beragam persoalan tersebut di atas. Dari aktivitas individual KH Ahmad Dahlan-lah di akhir abad 19 M (tahun 1890-an) bermula gerakan untuk mencerahkan umat dan bangsa.

Ketika rekannya, Cokroaminoto selaku generasi muda menggebu dengan strategi politiknya lewat perkumpulan SI, atau kalangan elit terdidik (priyayi) dengan organisasi Budi Utomonya, KH Ahmad Dahlan justru tampil dengan strategi pemberdayaan masyarakat alias pendidikannya. Alasan-alasan di awal tersebut di atas yang mendasari kenapa pendidikan menjadi aspek penting perhatian gerakan yang dilakukan oleh KH Ahmad Dahlan.

Awalnya gerakan PEMBERDAYAAN MASYARAKAT atau GERAKAN PENDIDIKAN Masyarakat ini dilakukan individu oleh KH Ahmad Dahlan. Kemudian atas saran dari santri (murid-murid)nya supaya gerakan ini abadi, mereka menyarankan supaya dihimpun dalam wadah terorganisir. Sebagai kyai yang tawadhu dan terbuka, usulan itu diresponsnya. Selain sempat belajar aktif dalam organisasi seperti Jami’atul Khair, Budi Utomo dan SI, KH Ahmad Dahlan tanggap pula atas saran murid-muridnya tersebut. Lahirlah kemudian gerakan yang dipelopori KH Ahmad Dahlan sejak 1890 itu menjadi PERSYARIKATAN MUHAMMADIYAH pada 18 November 1912/8 Zulhijjah 1330 H.

BACA JUGA:   Caleg Muhammadiyah: "Abdi Kedah Milih Saha?"

 

 

Berikut ini empat cita-cita Muhammadiyah mendirikan lembaga pendidikan:

Pertama, Pendidikan yang bersifat egaliter.

Pendidikan yang bersifat egaliter (terbuka dan berlaku bagi semua kalangan tanpa kelas sosial/status sosial). Pendidikan itu harus dinikmati semua kalangan, kaya-miskin, muda atau pun tua, lelaki atau pun perempuan. Melintasi aneka perbedaan suku, budaya, ras, agama dan sebagainya.

Kedua, pendidikan yang bersifat integral.

Pendidikan yang digagas Muhammadiyah, harus bersifat tauhid (integral) atau satu kesatuan ilmu. Tidak ada dikotomi ilmu agama atau ilmu dunia.

Ketiga, pendidikan yang bernilai.

Pendidikan harus berakar dari nilai-nilai ajaran Islam (tauhid), dan bermuara kembali kepada tauhid (Allah).

Keempat, pendidikan yang berkarakter.

Pendidikan bukan sekedar transfer ilmu, tetapi harus sampai merambah ke ranah pemikiran, hati dan perubahan perilaku. Sehingga melahirkan manusia berbudi pekerti, berakhlak karimah.

Dalam bahasa lain, Muhammadiyah membangun sekolah dan madrasah bertujuan untuk mencetak manusia yang cerdas intelektual, cerdas moral, cerdas spiritual, dan cerdas sosial.