5 Teori Sejarah Islam Masuk Nusantara

Ketika Islam yang dibawa Nabi Muhammad muncul dan berkembang di Mekkah dan sekitarnya tahun 610-632 M, di Nusantara sudah berdiri kerajaan. Nusantara bukan negeri kosong, tetapi sudah ada budaya dan peradaban dalam wujud kerajaan. Di Sumatera sudah ada Kerajaan Sriwijaya di Palembang pusatnya. Di Jawa sudah ada Kerajaan Tarumanagara, yang mekar menjadi Sunda dan Galuh.

Penyebaran Islam ke Nusantara terjadi secara bergelombang dalam waktu dan tempat tujuannya. Ini karena tantangan bentang alam geografis nusantara yang berupa kepulauan, serta zaman itu teknologi masih sederhana—transportasi kapal layar mengandalkan tiupan angin musim.

Tetapi, kesamaannya, masuk dan penyebaran Islam di Nusantara dilakukan secara damai, secara kultural (sosial budaya) dengan jalur perdagangan (bisnis), seterusnya pula dengan cara pernikahan para pedagang muslim dengan pribumi, jalurnya melalui samudera (pelabuhan-pelabuhan/pesisir pantai).

Islam masuk Nusantara secara bertahap (bergelombang) dikarenakan kondisi geografis bumi Nusantara yang luas, terdiri dari belasan ribu pulau yang dibatasi dengan laut-laut dengan gelombang cukup besar. Tentu saja tidak mudah untuk menyebarkan ajaran Islam dengan tantangan alam demikian. Ditambah pula di daratannya yang utama, seperti Sumatera dan Jawa sudah pula ada kekuasaan lain kerajaan seperti disebutkan di atas (Sriwijaya dan Tarumanagara, Sunda dan Galuh). Selain keyakinan primitif lainnya di pulau-pulau terluar lainnya.

Simpulannya, Islam masuk Nusantara secara kultural dan kronologis sudah sejak abad 7 M. Tetapi perkembangan umat Islam tampak sejak munculnya kesultanan di Peureulak di abad 8-9 M dan  semakin nyata dengan munculnya kesultanan Samudera Pasai di Aceh pada abad 13 M. Sedangkan di pulau Jawa perkembangan Islam menampakan dirinya terutama di abad ke-16 M, dengan munculnya kesultanan Demak diikuti Cirebon dan Banten. Begitu pun di belahan timur Nusantara lainnya, seperti di Sulawesi Selatan dan kepulauan Maluku.

Dengan demikian maka tidak heran bila karakter Muslim di Nusantara secara umumnya, mayoritas muslim yang taat dengan sifat yang lembut sebagai buah dakwah kultural (bil hikmah wal mauidhah), tradisi para ulama dan wali. Mereka mayoritas Muslim berpaham Ahlu Sunnah wal jamaah, tetapi memiliki keragaman paham bahkan mazhab lainnya.

Berikut ini lima teori sejarah jalur Islam memasuki bumi Nusantara:

Pertama, teori Gujarat.

Islam masuk dan disebarkan dari Gujarat (India Barat) oleh kalangan pedagang Muslim, sejak abad 13 M. Argumentasinya, berdasarkan ditemukannya jejak arkeologis (jenis batu nisan makam Fatimah binti Maimun di Gresik mirip/sejenis dengan di Gujarat). Teori ini dipegang beberapa peneliti Belanda, seperti al: Dr.Snouck Hurgronje. Catatan: kelemahan teori ini, pada abad 13, di Sumatera Utara (Aceh), sudah berdiri kesultanan Samudera Pasai, bahkan sekitar abad 8-9 M sudah ada kesultanan Peureulak (Aceh Timur).

Kedua, teori Persia.

Islam masuk dan disebarkan dari Persia oleh kalangan muslim Sufi, sekitar abad 8-9M. Argumentasinya, berdasarkan kondisi sosial budaya seperti: 1)ditemukannya tradisi selamatan bubur merah dan putih (bubur suro), 2) ditemukannya kebiasaan cara ejaan bacaan Qur’an ala Persia seperti: jabar-jeer-pees. Teori ini dipegang oleh al: Dr.Husen Jayadiningrat (Banten).

Ketiga, teori Mekah.

Islam disebarkan langsung dari Arab oleh kalangan pedagang Muslim, sejak abad 7M (Abad 1 H). Argumentasinya, berdasarkan: 1) ditemukannya jejak arkeologis beberapa makam Arab Muslim di kampung Barus (Pesisir barat Sumatera) seperti Makam Syekh Rukunuddin (w.674M). 2) berdasarkan catatan kitab-kitab berasal dari Jazirah Arab-yang ditemukan Hamka. Peneliti yang memegang Teori ini adalah Buya HAMKA, yang menyampaikannya dalam sebuah acara Simposium/seminar tahun 1958 di PTAIN di Yogya. Berdasarkan teori ini, Islam disebarkan sejak abad 7M (abad1 H) melalui jalur samudera, pesisir garis pantai luar nusantara.

Keempat, teori Cina (Tiongkok).

Islam masuk ke Nusantara melalui pedagang Muslim dari Cina (Kanton), melalui laut Cina Selatan dan Malaka. Negeri Cina pun sudah masuk Islam sejak abad 7-8 M. Selain itu penyebaran Islam oleh kalangan Tionghoa (Cina) terutama terjadi besar-besaran di zaman Laksamana Cheng Ho (abad 14-15 M), yang mendarat di pesisir utara Pulau Jawa. Di pulau Jawa terbukti memang kemunculan kesultanan Demak memiliki hubungan keturunan dari kerajaan Majapahit dan keturunan Tionghoa, seperti Raden Fatah. Juga kesultanan Cirebon yang memiliki hubungan pernikahan dengan isterinya keturunan Tionghoa, Nio Ong Tien. Juga penyebar Islam di Krawang, yang memiliki hubungan dengan penyebar Islam Laksamana Cheng Ho. Serta artefak bangunan Masjid di pesisir utara pulau Jawa seperti Lasem, yang memiliki paduan dengan corak budaya Cina (Tionghoa).

Kelima, teori Mesir.

Islam di Nusantara memiliki kesamaan pula dalam beberapa aspek pemahamannya dengan Islam di Mesir. Terutama perkembangan di masa-masa selanjutnya, dimana masuk paham modern Islam. Selain memiliki kesamaan dengan Islamnya yang paham mazahabnya mirip dengan Arab Selatan (Hadramaut).