Aktivis Mahasiswa dan Kota Hujan

Sejak hadirnya beberapa perguruan tinggi di Bogor Barat, geliat gerakan mahasiswa mulai terasa, terutama saat kampus yang dimiliki oleh ormas yang didirikan KH. Ahmad Dahlan berdiri. Di Leuwiliang, kini ada tiga perguruan tinggi yang beroperasi menggelar perkuliahan. Ditambah lagi, beberapa kampus di kecamatan yang masuk wilayah Bogor Barat lainnya. Ini pertanda kemajuan bagi suatu daerah, bahwa pendidikan tinggi menjadi motor pencerdasan bagi anak-anak mudanya. Dan dengan banyak anak-anak mudanya yang kuliah, tingkat literasi masyarakat pun bisa meningkat.

Lalu, apakah setiap lulusan SMA di Bogor ini banyak yang kuliah, ternyata tidak demikian. Kuliah masih menjadi hal yang langka untuk masyarakat. Selain biaya yang lumayan menguras kantong, pertimbangan mencari nafkah setelah sekolah juga lebih besar. Karena itu, butuh perjuangan dan pengorbanan yang besar bagi siapa saja yang ingin menempuh studi strata satu, selain uang, pikiran, dan yang utama adalah waktu. Investasi waktu untuk menjalani dinamika sebagai mahasiswa lah yang menjadi hal penting. Menguasai ilmu, pengalaman, berada dalam ruang dan waktu.

Di dunia kampus, ada pilihan yang amat krusial bagi mahasiswa. Apakah ingin menjadi mahasiswa biasa, atau lebih dari biasa yaitu dengan menjadi aktivis organisasi mahasiswa, baik intra ataupun ekstra kampus. Di sinilah sebenarnya, masa-masa penting yang sangat mungkin mengubah setiap orang muda dalam cara berpikirnya. Seorang sarjana pasti bisa menguasai keilmuan yang pernah dipelajarinya semasa kuliah, namun belum tentu memiliki pengalaman kepemimpinan yang mumpuni. Lalu, seorang sarjana plus aktivis organisasi mahasiswa sangat berpotensi besar memiliki kecakapan kepemimpinan yang baik.

Sebab, di masa-masanya kuliah, organisasi sangat berperan menempanya dalam dialektika, dalam apapun, sosial, budaya, politik, ekonomi, pendidikan dan hukum. Sesungguhnya, yang menjadi urusan masyarakat, adalah urusan aktivis mahasiswa. Dalam hal ini, aktivis mahasiswa dituntut terlibat memberikan solusi dan aksi yang cerdas. Bagaimanapun, mahasiswa selalu dididik oleh masanya untuk berpikir logis dengan akal sehatnya. Latihan berpikir logis ini ada dalam dunianya mahasiswa. Menariknya lagi, di Bogor Barat mulai bermunculan organ-organ mahasiswa yang berfastabiqul-khoirot.

Terus terang, dengan kondisi saat ini, saya sangat senang, khususnya jebolan aktivis organisasi mahasiswa yang berasal dari kampus di Bogor Barat, kini telah berdiaspora, menyebar ke berbagai lini. Saya melihat mereka ada yang terjun menjadi penyelenggara Pemilu, Partai Politik, Ormas, dan dunia usaha.

Dan perlahan, satu per satu, jebolan aktivis Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) yang juga organisasi kesayangan saya, mulai menyebar dengan pasti. Seperti senior saya, Kang Otoy, kini menekuni dunianya sebagai “orang kampus” di STKIP Muhammadiyah Bogor, Kang Irvan yang berjuang dalam kebangsaan menjadi Ketua Bawaslu Kabupaten Bogor, Rizki Riyanto yang kini menahkodai KNPI Kecamatan Leuwiliang, Kang Erwin penggerak Lazismu Kabupaten Bogor, dan beberapa junior yang mulai menunjukkan kemajuannya.

Yang pasti, orang terdekat yang saya kenali ini, sedang berjuang untuk menjadi manusia yang bermanfaat bagi umat dan bangsa.

Dan saya, menjadi politisi PAN.

Insya Allah

RIDLO ABDILLAH