Alhamdulillah, Kuliah Bermodal Keyakinan dan Tawakal

Artikel ini berasal dari kiriman WhatsApp seorang sahabat yang kemudian saya edit menjadi artikel ringan. Semoga bermanfaat.

Saya ingin bercerita pengalaman saya tentang kuliah dengan modal keyakinan dan tawakal. Saya alami saat kuliah S1 beberapa tahun lalu. Saya adalah putri semata wayang. Ketika itu, saya nyaris tidak bisa lanjut kuliah selepas SMA, karena orang tua saya sudah kehabisan uang untuk menyekolahkan saya.

Saat saya SMA, ibu saya mendapat ujian, yaitu keliru diagnosa medis, sehingga operasi tulang punggung ibu gagal, lalu ibu harus menghabiskan usia di kursi roda hingga saat ini. Sudah sekitar 20 tahun ibu saya lumpuh. Berbagai pengobatan medis dan alternatif diikhtiari, hingga uang saving untuk kuliahkan putri semata wayangnya habis.

Namun, ketika itu, saya tetap kuliah dengan dana sangat minim. Modal utama saya adalah yakin dan tawakal kepada Allah. Saat kuliah, sebagian waktu saya gunakan untuk berjualan door to door ke kos-kosan sekitar kampus, jadi guru les anak SMA, dan sebagainya. Saya sangat terharu, apabila saya perlukan uang untuk kuliah, selalu ada saja peluang yang dihadirkan Allah untuk saya mendapatkan uang. Masya Allah.

Sedikit saya beri contoh. Saat uang di dompet saya tinggal seribu rupiah, saat itu saya rindu sekali ingin ketemu ibu, tapi enggak punya uang untuk ongkos pulang. Saya menangis pada Allah di sujud shalat dhuha saya. Saya keluarkan semua teriakan hati saya. Qadarullah, Allah langsung menjawab.

Baru selesai salam dan masih posisi di atas sajadah, ada seseorang mengetuk pintu kamar kos saya. Lalu saya buka pintu dengan masih mengenakan mukena. Masya Allah, ternyata seorang kakak yang biasa berkonsinyasi dengan saya ambil barang yang kemudian saya jual.

Biasanya saya yang ke rumah beliau. Kok tiba-tiba teteh tersebut bela-belain datang ke kos saya. Lalu beliau bilang, ini ada kerudung model baru, baru selesai dibuat, barangnya ada di mobil, bantu jualin, ya.

Badan saya merinding terharu. Terus saya giat berjualan sampai uang saya cukup untuk pulang dan ketemu ibu. Malah uangnya berlebih, sebagian saya berikan pada orang tua.

Saat kuliah S1 tersebut, selain jadi pedagang, saya juga diminta teman-teman jadi ketua himpunan di prodi. Kegiatan saya, saat itu, cukup padat, hingga waktu belajar saya sangat terbatas. Namun saya biarkan semua karena Allah. Saya ingin bermanfaat. Atas kehendak dan kemudahan Allah, nilai IP saya terbaik dari semua kelas, lalu Allah hadirkan beasiswa Djarum. Lagi-lagi Allah menjawab keluhan hati saya.