Din Syamsuddin: Warga Muhammadiyah Tidak Boleh Golput

Oleh: Prof Dr M Din Syamsuddin

Pilpres sebagai sarana memilih pemimpin adalah tanggung jawab kebangsaan dan keagamaan sekaligus. Warga Muhammadiyah tidak baik tidak memilih (Golput) karena itu mencerminkan sikap tidak bertanggung jawab.

Karena harus memilih dan tentu ada Paslon yang dipilih, maka tidak ada sikap netral. Sikap netral mencerminkan keragu-raguan, ketakpastian, dan illiterasi politik, yang akan membawa kerugian.

Bahwa Organisasi Muhammadiyah tidak menentukan pilihan sudah seyogyanya demikian, tapi Warga Muhammadiyah harus mempunyai pilihan. Pilihan tersebut boleh dinyatakan atau tidak dinyatakan.

Kelompok warga Muhammadiyah yang mendeklarasikan dukungan politik kepada Paslon tertentu sebaiknya tidak membawa nama, lambang, atau hal yang dapat dipahami sebagi ciri khas Muhammadiyah.

Sebaiknya mereka yang melakukan hal di atas tidak dengan sikap fanatik, ekstrim, dan euforia (menjadi fanatikus buta atau zealot), apalagi jika mereka hanyalah petugas partai atau pekerja politik belaka. Terlalu mahal harga yang harus dibayar jika perilaku demikian membawa perpecahan dalam Muhammadiyah.

Gunakan hak pilih secara cerdas dan bertanggung jawab, dengan pendekatan ruhiyah yaitu bertanya kepada hati nurani (istafti qalbak) dan pendekatan ‘aqliyah yakni mengedepankan akal pikiran (afala tatafakkarun).

Dalam memilih, camkan Hadis Nabi (Man lam yahtamma bi umuril Muslimin falaisa minhum, Barang siapa yang tidak mempedulikan urusan kaum Muslimin adalah bukan dari mereka/kaum Muslimin). Maka pilihlah Paslon yang diyakini secara sejati (bukan basa-basi, dan bukan karena motif politik sesaat) memperhatikan, memedulikan, dan membela kepentingan/aspirasi umat Islam (tentu tanpa merugikan kepentingan umat agama lain).