Emas Berkilauan dari Ujian di New Zealand

Dari kursi rodanya, sambil memeluk foto istrinya yang menjadi salah satu korban penembakan di Masjid An-Noor Crhistchurch NZ, Farhid Ahmed, 59 berkata, “Jika diberi kesempatan, saya ingin bertemu dengan yang melakukan ini (pembunuhan) dan memeluknya dan mengatakan dari hati saya yang paling dalam, saya tidak akan pernah membencimu, saya telah memaafkanmu”.

Farhid Ahmed menjadi salah satu emas berkilauan di tengah tragedi kelam kemanusiaan di New Zealand. Kisah inspiratifnya diangkat media internasional dari reuter hingga BBC. Sebelumnya hashtag #hellobrother sempat trending juga sebagai kekaguman kepada Daoud Nabi seorang korban yang dengan ramah menyapa pembunuh sebelum Daoud roboh diberondong peluru. Jacinda Ardern, PM New Zealand juga menjadi salah satu mutiara bersinar di tengah tragedi ini. Responsnya yang cepat dan empatik berdiri bersama korban mendapat banyak pujian. “Jacinda Ardern Shines on New Zealads Darkest Day” kutip The Sydney Morning Herald.

Selain munculnya emas yang berkilaiaun, dari tragedi ini juga muncul residu yang menebarkan aroma kebencian. Kita jadi tahu sosok Fraser Aning, senator Australia yang dari pernyataannya menunjukan hatinya penuh benci tak punya empati. Dari tragedi ini jug akita jadi tahu kualitas media dan individu yang berkontribusi menyebarkan video kejadian yang tak berkeprimanusiaan.

Ujian selalu menghasilkan pemenang dan pecundang. “Fitnah”, kata bahasa arab yang berarti “ujian” berasal dari kata dasar fa-ta-na yang memiliki makna memanaskan atau membakar. Kata fatana digunakan untuk menggambarkan proses memisahkan logam mulia dan tembaga dengan memanaskan pada suhu yang sangat tinggi. Dari sana kita tahu mana yang emas mana yang logam biasa.

Allah menggunakan kata fa-ta-na dalam firman-nya: Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji (yuftanuun) lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji (fatannaa) orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (Al-Ankabut 2-3)

Untuk mengetahui kualitas seorang teman, Rasulullah menyarankan untuk melakukan perjalanan atau bermitra dalam perdagangan. Dari dua aktivitas itu kita bisa melihat kualitas asli seorang teman. Kata Ali R.A kita akan mengetahui teman sejati, saat kita diuji, apakah dia tetap setia atau pergi.

Pemimpin dan yang dipimpin juga dapat ujian. Pemimpin diuji saat dia terpilih mengemban amanah. Apakah pemimpin jujur atau korup. Kita juga sebagai warga dan pemilh diuji saat mendukung dan memilih. Apakah kita jenis pemilih bijak atau penyebar hoaks.

Tragedi di New Zealand bukan cuma ujian untuk korban, tapi buat kita semua. Respons kita terhadap ujian akan menentukan kualitas kita: apakah kita logam mulia atau tembaga.

#khutbahdamai Jumat 22 Maret 2019