Generasi Baru Perlu Pelajari Semangat Autodidak Buya Hamka

Buku Ensiklopedia Buya Hamka resmi diluncurkan di Aula AR Fahruddin kampus FEB UHAMKA, Jakarta, Rabu, 27 Maret 2019. Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir memberikan pidato kunci untuk mengawali acara yang dihadiri segenap sivitas UHAMKA, mahasiswa, dan warga Muhammadiyah itu. Peluncuran buku berisi rangkuman hidup Buya Hamka itu ditandai dengan pemberian Ensiklopedia Buya Hamka secara simbolik kepada Haedar Nashir dan Buya Afif Hamka, anak kandung Buya Hamka.

Mengawali pidatonya, Haedar Nashir mengucapkan selamat kepada UHAMKA dan keluarga Buya Hamka yang telah berhasil menerbitkan buku ensiklopedia tentang Buya Hamka, sosok ulama multitalenta yang begitu banyak karyanya. “Kita tentu belajar banyak dari Buya Hamka. Tidak hanya dari ilmu, tetapi juga sikap dan falsafah hidup beliau, yang mungkin ibarat sumur tak berujung dan samudra yang sangat luas,” ujarnya.

Buya Hamka merupakan sosok ulama yang bisa dikatakan sangat lengkap karena beliau memiliki segudang talenta, ratusan karya fiksi dan nonfiksi, serta kisah perjalanan hidup yang dramatis dan begitu menginspirasi. Bahkan, Haedar Nashir menyebut Buya Hamka sebagai “pencari ilmu yang luar biasa, yang daya autodidaknya tiada bandingannya”.

Dalam keulamaan tak perlu ditanya lagi, Buya Hamka merupakan sosok ulama pertama yang menjadi pemimpin Majelis Ulama Indonesia (MUI). Dalam berpolitik, Haedar menjelaskan, beliau merupakan politisi yang begitu mengedepankan moralitas dan kemanusiaan. “Politik bukan dalam makna politik kekuasan, tapi dalam menegakkan falsafah moral di dalam kehidupan berpolitik,” ungkapnya. Hal ini penting untuk menjadi teladan para politisi saat ini.

Dengan kiprah Buya Hamka yang demikian, Haedar menyebut generasi baru saat ini perlu mengambil energi dari Buya Hamka yang tercermin dari perjalanan hidup dan karya-karyanya. Pendidikan formal Buya Hamka memang tidak seperti generasi saat ini, beliau hanya mengeyam sekolah formal sampai kelas dua SD, tetapi ilmunya begitu luas. “Itu karena tradisi iqra yang melekat kuat pada dirinya,” ujar Haedar.

Haedar juga mengatakan bahwa karya-karya Buya Hamka, baik yang membahas filsafat, budaya, sastra, maupun keislaman dan tasawuf begitu banyak. Bahkan karya-karyanya itu begitu diminati di Asia Tenggara. Dengan karya dan perjalanan hidup yang begitu kaya akan khazanah ilmu dan aktivisme–di Muhammadiyah, Buya Hamka pantas menjadi tokoh yang diidolakan generasi saat ini. “Generasi baru mesti banyak belajar dari Buya Hamka,” katanya.

Sementara itu, Rektor UHAMKA Prof Gunawan Suryoputro dalam pidatonya mengatakan bahwa buah pikiran Buya Hamka memiliki makna yang sangat besar bagi kita. “Sehingga jika kita lihat sampai sekarang, kekuatan atau pengaruh dari karya beliau begitu kita rasakan, buktinya karyanya masih dijadikan referensi dan dikaji, baik fiksi maupun nonfiksinya,” ujarnya.

Gunawan juga mengatakan, karya yang akan diluncurkan juga di negeri jiran Malaysia ini diharapkan bisa menjadi salah satu bahan kajian serius bagi para akademisi di UHAMKA maupun di luar sana. “Di Malaysia, Hamka merupakan sosok yang sangat dikagumi,” ujarnya.

Seminar dan peluncuran ini dihadiri juga oleh beberapa narasumber, di antaranya Ketua ICMI Prof Jimly Asshiddiqie, sastrawan Taufiq Ismail, Ketua PP Muhammadiyah Prof Yunahar Ilyas, dan Buya Afif Hamka. Selain itu, ada juga beberapa anak kandung Buya Hamka yang menemani sepanjang acara.