Haedar Nashir: Muhammadiyah Berkomitment Majukan Bangsa

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir kembali menegaskan bahwa persyarikatan tetap kokoh pada jalur perjuangannya. Di tengah situasi carut marut tahun politik, Muhammadiyah tidak goyah untuk ikut terlibat dalam kontestasi politik praktis. Hal itu disampaikan dalam Musyawarah Pimpinan Wilayah (Musypimwil) Muhammadiyah Jawa Tengah di Gedung Olah Raga Jetayu, Pekalongan, pada Sabtu, 9 Maret 2019.

Haedar menyatakan, ada dua sasaran yang ingin diwujudkan dalam Musypimwil yang mengusung tema ‘Konsolidasi Politik Kebangsaan dan Ekonomi Keumatan’ ini. “(Pertama), Muhammadiyah Jateng dalam kerangka Muhammadiyah nasional, ingin beri pesan dan langkah-langkah bahwa di tahun politik ini komitmen Muhammadiyah adalah komitmen untuk memajukan bangsa, menciptkan perdamaian, kebersamaan. Sekaligus di tahun politik dengan pilihan yang berbeda ini, kita bisa bersatu sebagai keluarga bangsa,” tuturnya.

Kedua, Muhammadiyah ingin menyampaikan bahwa jika bangsa Indonesia dan umat Islam ingin maju, maka wajib didukung oleh kekuatan ekonomi yang maju, di tengah persaingan yang sangat keras dan arus globalisasi yang deras. Muhammadiyah sebagai pilar bangsa, kata Haedar, ingin terus mendorong dan membangun etos kewirausahaan sebagai pilar keempat pergerakan Muhammadiyah setelah pendidikan, kesehatan, dan sosial. Muhammadiyah ingin menyadarkan bahwa politik bukan satu-satunya jalur.

Dalam rangka memajukan bangsa, Muhammadiyah mengajak segenap elemen untuk saling bahu-membahu. “Dalam Musypimwil ini juga akan ditegaskan komitmen untuk meningkatkan kerjasama dengan pemerintah, dengan komponen bangsa yang lain bahwa negara ini, juga Jawa tengah ini, tidak mungkin disangga hanya oleh satu kelompok, satu kekuatan. Tapi perlu semua kekuatan dan seluruh golongan di lingkungan kita tercinta,” ujarnya.

Perjuangan untuk itu kerap dihadang oleh berbagai rintangan, salah satunya adalah kasus hoaks. Haedar meminta semua pihak untuk mengakhiri maraknya penyebaran hoaks, yang dinilai akan meruntuhkan sendi-sendi kehidupan berbangsa. “Dalam agama Islam, berbohong tidak dibenarkan. Saya mengimbau agar seluruh masyarakat ikut melawan dan tidak memberikan toleransi sedikit pun kepada hoaks,” ujarnya. Haedar menyatakan bahwa hoaks selain membuat keruh ruang sosial-politik kita, juga membuat luruhnya kecerdasan bangsa.

Haedar Nashir juga menyampaikan lima rahasia, yang membuat Muhammadiyah dapat bertahan dan terus berkembang lebih dari satu abad. Pertama, secara ruhaniah merupakan berkah dari Allah. Sebagai berkah, maka perlu terus disyukuri dengan terus berbuat maksimal. “Berkah dari Allah SWT itu  Muhammadiyah praktekkan dengan tasyakur yakni dalam dakwah bil hal,” ujarnya.

Kedua, Muhammadiyah selalu mewujudkan takwa sebagai amal shaleh yang membawa kemaslahatan. Amal shaleh yang dilakukan dengan ikhlas, niscaya akan bertahan lama. Ketiga, Muhammadiyah selalu berpijak pada paham agama yang kokoh, merujuk pada Al-Quran dan As Sunnah. Penggalian kandungan sumber pokok agama itu dilakukan dengan mengembangkan paham moderat. “Muhammadiyah juga terus mengembangkan Islam yang wasathiyah, damai, dan tasamuh,” ulasnya.

Keempat, Muhammadiyah secara ideologi sebagai kekuatan pembingkai, yang membawa Muhammadiyah tetap ke tengah dan ikut membawa pada kemajuan peradaban. Muhammadiyah tidak terlibat dalam benturan ideologi yang serba ekstrem di kanan dan kiri.

Kelima, Muhammadiyah besar dan tetap eksis karena kepercayaan (trust), baik dari pemerintah maupun masyarakat luas. Trust dan integritas menjadi kekuatan Muhammadiyah selama ini. “Kepercayaan ini harus dirawat dan dijaga, gelorakan selalu semangat dakwah amar ma’ruf nahi munkar,” ujar Haedar. Sekali hilang, akan sulit dikembalikan.

Dalam kesempatan itu, Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen mengapresiasi komitmen yang disampaikan Haedar Nashir. Pemprov Jateng sangat mendukung apa yang menjadi komitmen Muhammadiyah. “Tadi disampaikan bahwa Musypimwil ini mengedepankan bagaimana berpolitik kebangsaan dan tumbuhkan ekonomi keumatan sebagai pilar keempat dalam pergerakan Muhammadiyah. Kami sepakat dan mendukung penuh apa yang sudah diprakarsai oleh Muhammadiyah ini,” ungkapnya.

Menurut Taj Yasin, kegiatan ini harus menjadi ajang konsolidasi, musyawarah, dan diskusi terkait permasalahan sosial. Sikap intoleransi, budaya apatis dan hedonis menjadi tugas yang harus diselesaikan bersama. “Pada pesta demokrasi ini, merebaknya penyebaran hoaks dan isu SARA yang menggores persatuan dan kesatuan bernegara. Organisasi besar seperti Muhammadiyah turut andil untuk menyelesaikan permasalahan, tetap menjaga Indonesia dari paham yang merusak, serta selalu menciptakan kedamaian,” katanya.

Taj Yasin menambahkan bahwa toleransi, keseimbangan, dan keadilan merupakan hal yang harus selalu dikampanyekan. “Kemajuan teknologi informasi sudah tidak terbendung, kita tidak boleh memukul tapi merangkul, bersikap ramah, damai, anti kekerasan, dan penuh cinta kasih. Muhammadiyah harus menjadi garda terdepan benteng pertahanan NKRI,” harapnya.

Sebelumnya, Walikota Pekalongan, Moch Saelany Machfudz mengatakan bahwa Pemkot Pekalongan menyambut baik kegiatan Musypimwil Muhammadiyah. Saelany berharap program yang akan dibahas nantinya dapat memberikan manfaat bagi seluruh umat dan kesejahteraan masyarakat Jateng pada umumnya dan Kota Pekalongan khususnya. Pada tahun politik ini, masyarakat harus senantiasa meningkatkan kepeduliannya terhadap sesama.

“Muhammadiyah telah menyampaikan pesan Islam yang damai, oleh karena itu pertemuan pada hari ini semoga menjadi momentum kebersamaan di tengah hiruk-pikuk tahun politik. Muhammadiyah selalu menggelorakan dakwah yang santun, amar makruf nahi mungkar. Perbedaan pilihan tidak meregangkan persaudaraan kita, tetap jaga toleransi dan sikap kita,” jelas Saelany.

Selain Wakil Gubernur Jawa Tengah dan Bupati Pekalongan, Musypimwil yang diikuti 240 peserta ini turut dihadiri Kapolda Jawa Tengah Irjen Pol Condro Kirono, Pangdam IV Diponegoro Mayjen TNI Mochamad Effendi, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jateng, jajaran Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kota Pekalongan.