Inilah Makna Kafir Sesungguhnya dalam Al-Quran

Jika kita pernah belajar Bahasa Indonesia, kita mengenal istilah kalimat langsung dan kalimat tidak langsung. Contoh dari kalimat langsung misalnya “Hei kamu cepat ke sini!”. Kalimat tidak langsungnya adalah seorang laki-laki menyuruh kawannya agar segera menemuinya.

Jika kita baca Alquran, maka kata kafir bisa kita temukan dalam kalimat langsung dan tidak langsung. Dalam kalimat langsung kita bisa temukan dalam surat Al Kafirun. Yang menjadi khitob atau yang diajak bicara dalam surat ini adalah kafir Quraisy yang mengajak Nabi Muhammad SAW untuk satu tahun menyembah berhala mereka, setelah itu satu tahun berikutnya mereka akan mereka akan menyembah apa yang disembah Nabi Muhammad SAW. Alquran merespon keras ajakan ini dengan langsung memanggil mereka “Hai orang kafir!”

Namun yang menarik walaupun yang diajak bicaranya adalah sama-sama orang kafir Quraisy, namun hanya dalam Al Kafirun saja digunakan kata-kata hai orang kafir. Adapun dalam ayat-ayat lain redaksi yang digunakan adalah “Hai manusia!”. Misalnya “Hai manusia, hormati ibumu!” Sorry bukan itu, itu lagu Bang Haji. Dalam QS. Fāṭir :15 Allah SWT berfirman: Wahai manusia! Kamulah yang memerlukan Allah; dan Allah Dialah Yang Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu), Maha Terpuji.

Kita tahu bahwa ayat ini adalah ayat makkiyah dan khitobnya jelas kafir quraisy. Setelah Rasulullah SAW hijrah dari Mekkah ke Madinah, maka ada perbedaan situasi dan kondisi. Di Madinah umat muslim banyak berinteraksi dengan orang yahudi dan nasrani. Bagi orang yang beriman ayat Alquran sering turun dengan redaksi hai orang-orang yang beriman.

Dalam QS.Āli ‘Imrān : 102 Allah SWT berfirman: Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.

Adapun terhadap yahudi dan nasrani, Alquran menggunakan istilah ahlul kitab untuk menyebut penganut dua agama ini. Ayat dengan khitob penganut dua agama ini redaksi yang digunakan adalah hai ahli kitab.

Dalam QS.Āli ‘Imrān : 64 Allah SWT berfirman: Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama yang lain tuhan-tuhan selain Allah.” Jika mereka berpaling, maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang muslim.”

Jika dalam kalimat langsung Alquran cenderung menghindari kata kafir, kata-kata kafir justru banyak ditemukan dalam bentuk kalimat tak langsung.

Berikut beberapa ayat terkait hal tersebut:

QS. Al-Baqarah : 6 : “Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, engkau (Muhammad) beri peringatan atau tidak engkau beri peringatan, mereka tidak akan beriman.”

QS. Al-Mā’idah : 73: “Sungguh, telah kafir orang-orang yang mengatakan bahwa Allah adalah salah satu dari yang tiga, padahal tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa azab yang pedih.”

QS. Al-Bayyinah : 1 : “Orang-orang yang kafir dari golongan Ahli Kitab dan orang-orang musyrik tidak akan meninggalkan (agama mereka) sampai datang kepada mereka bukti yang nyata.”

Ayat-ayat di atas turun berkaitan dengan kecaman terhadap orang-orang kafir. Jelas yang dimaksud kafir dalam ayat tersebut adalah non muslim baik ahlul kitab maupun kaum musyrik.

Namun apakah seluruh ayat Alquran yang membicarakan tentang non-muslim berisi kecaman? Ternyata tidak. Adakalanya Alquran memberikan apresiasi kepada umat selain kaum muslim. Berikut beberapa ayat yang berisi apresiasi terhadap kaum ahlul kitab:

QS. Al-Baqarah : 62: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani, dan orang-orang Sabi’in, siapa saja (di antara mereka) yang beriman kepada Allah dan hari Akhir dan melakukan kebajikan, mereka mendapat pahala dari Tuhannya, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.

QS. Āli ‘Imrān : 113: “Mereka itu tidak (seluruhnya) sama. Di antara Ahli Kitab ada golongan yang jujur, mereka membaca ayat-ayat Allah pada malam hari, dan mereka (juga) bersujud (salat).”

QS. Al-Mā’idah : 82: “Pasti akan kamu dapati orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman, ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan pasti akan kamu dapati orang yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman, ialah orang-orang yang berkata, “Sesungguhnya kami adalah orang Nasrani.” Yang demikian itu karena di antara mereka terdapat para pendeta dan para rahib, (juga) karena mereka tidak menyombongkan diri.

Dari uraian panjang di atas ada beberapa kesimpulan yang bisa diambil:

1. Kata kafir jelas terdapat dalam Alquran dan merupakan salah satu konsep kunci dan fundamental dalam agama Islam.

2. Dalam berinteraksi dengan objek dakwah, hanya satu kali Alquran menggunakan kata hai kafir. Hal tersebut terjadi dalam rangka menolak ajakan sinkretisme agama kaum pagan Mekkah. Selain itu, interaksi Alquran dengan kaum pagan Mekkah menggunakan kata netral, yakni wahai manusia.

3. Selain menggunakan kata netral, dalam berinteraksi dengan objek dakwah Alquran juga menggunakan kata yang apresiatif. Misalnya panggilan ahlul kitab kepada kaum yahudi dan nasrani.

4. Jika dalam berinteraksi dengan objek dakwah Alquran cenderung menghindari kata-kata yang menyakiti hati objek dakwah dan lebih menekankan pada menarik simpati, maka dalam membangun narasi dan argumentasi Alquran tak segan melakukan kecaman misalnya dengan kata kafir.

5. Hal ini terjadi dalam rangka polemik antar agama yang terjadi pada saat Alquran turun. Kita tahu bahwa yahudi dan nasrani menolak kenabian Muhammad, karenanya terjadilah perdebatan.

6. Walaupun begitu dalam beberapa narasi, Alquran pun tetap memberikan apresiasi kepada kaum ahlul kitab.

7. Jika kita mau mengikuti teladan Alquran, maka kata kafir memang sebaiknya dihindari dalam interaksi sosial namun sah digunakan dalam rangka membangun narasi dan argumentasi.