Mata Rantai Pembaruan Kiai Dahlan

Buku ini termasuk karya yang penting dan lengkap untuk mengungkap mata rantai pembaruan Kiai Dahlan dan Muhammadiyah yang berdiri sejak 18 November 1912 M/8 Dzulhijjah 1330 H. Belum banyak penelitian tentang etos gagasan dan gerakan genial Kiai Dahlan (1868-1923) dalam upaya mencerahkan kehidupan sosial keagamaan selama satu abad lebih. Kendati Muhammadiyah terbukti berhasil mengembangkan ribuan amal usaha dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan sosial, masih sering ditemukan anggapan bahwa pembaruan di tubuh Muhammadiyah terbatas urusan purifikasi agama.

Dengan begitu, buku karya Djarnawi Hadikusuma ini menarik dikaji. Tokoh teras Muhammadiyah generasi tua ini berhasil melacak pertautan ide pembaruan Kiai Dahlan dengan tiga tokoh pembaru secara cerdas dan kritis. Mereka adalah Jamaluddin Al-Afghani (1838-1897), Muhammad Abduh (1849-1905), dan Rasyid Ridha (1865-1935). Putra Ki Bagus Hadikusuma ini memang piawai membaca data sejarah dan memahami betul seluk-beluk Persyarikatan. Tidak heran apabila Haedar Nashir mengatakan bahwa tiada yang mengkaji Kiai Dahlan dan Muhammadiyah tanpa membaca buku-buku mantan Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang menguasai lima bahasa asing ini, ialah Arab, Inggris, Belanda, Perancis, Jepang.

Seperti dituturkan oleh Djarnawi Hadikusuma, Kiai Dahlan memandang Islam bukan semata agama pribadi yang mengatur hubungan manusia dengan Allah. Lebih dari itu, Islam adalah way of human life in all aspects alias sistem kehidupan manusia dalam segala aspek. Benar bahwa segala praktik ibadah formal yang tidak berasal dari Al-Qur’an dan Rasulullah harus digilas habis lewat lembaga pendidikan, pengajian, dan ceramah umum. Tetapi, upaya itu belum cukup. Kiai Dahlan lantas aktif dalam berbagai aksi pemberdayaan sosial. Itulah muara Muhammadiyah dalam mendirikan ribuan lembaga pendidikan, balai pengobatan, panti asuhan, rumah jompo, rumah miskin, dan lainnya.

Pembaruan di Muhammadiyah berbeda dari gerakan Islam lain. Misi tajdid dalam Persyarikatan ini tidak hanya berdimensi purifikasi, namun juga dinamisasi. Sejak awal, Kiai Dahlan mengajak umat untuk memurnikan ajaran Islam dengan kembali ke Al-Qur’an dan hadis sahih sekaligus melakukan pencerahan kehidupan lewat pemikiran dan gerakan pemberdayaan. Pembaruan Kiai Dahlan bukan semata soal pelurusan arah kiblat Masjid Besar Kauman berdasarkan ilmu falak. Etos gagasan dan gerakan Kiai Dahlan yang jauh lebih monumental ialah keterbukaan sikap dalam mencerap puncak-puncak peradaban dan melintasi sekat bangsa dan agama.

Kiai Dahlan tertarik dengan kritik Jamaluddin Al-Afghani soal ketertutupan pintu ijtihad. Pembaru kelahiran Afghanistan itu mengimani Islam sebagai agama yang selaras dengan akal, kemajuan, dan peradaban, serta dapat mengantarkan reformasi Islam model Protestan. Mengacu kepada reformasi Martin Luther pada abad ke-16, Al-Afghani menggugat konservatisme ulama. Bagi Al-Afghani, ulama konservatif hanya menyebabkan jatuhnya peradaban Islam selama berabad-abad. Al-Afghani menyerukan semangat menuntut ilmu, membuang taklid buta, menentang penjajahan, memulihkan fungsi ulama sebagai pewaris Nabi, dan menegakkan demokrasi dalam negara.

Gairah Kiai Dahlan dan Muhammadiyah dalam berbagai aksi sosial mirip jalan yang ditempuh oleh Muhammad Abduh. Ketika tinggal di Mekah pada 1890 dan 1903, Kiai Dahlan memang begitu tekun mendalami tulisan-tulisan karya murid Al-Afghani ketika belajar di Al-Azhar itu. Di antara karya Abduh yang menjadi menu bacaan Kiai Dahlan adalah Risalah At-Tauhid, Al-Islam wa An-Nashraniyah, Tafsir Surah Al-Ashri, Tafsir Juz Amma, dan Tafsir Al-Manar. Selain sebagai tokoh pembaru dalam bidang pemahaman Islam, Abduh memang pembaru dalam bidang perkembangan ilmu pengetahuan, terutama di lingkungan Al-Azhar.

Tidak boleh dilupakan letupan api Kiai Dahlan yang berasal dari Rasyid Ridha. Sejak 1890, salah seorang kerabat Kiai Dahlan di Kauman tinggal di Mekah. Namanya KH Baqir. Lewat perantaraan KH Baqir itulah Kiai Dahlan dapat bertemu dan berkenalan dengan Rasyid Ridha yang kebetulan berada di Mekah. Ide pembaruan Kiai Dahlan semakin menghunjam ke dada. Rasyid Ridha, sejak usia 33 tahun, memang mahasisiswa Al-Azhar yang sangat tekun, selain Saad Zaghlul Pasya dan Musthafa Al-Maraghi. Dialah yang mencatat materi-materi kuliah Abduh sehingga terbit dengan nama Al-Manar (Mercusuar). Rasyid Ridha sangat tegas terhadap praktik-praktik takhayul, bid’ah, khurafat.

Yang menarik, meski mata rantai pembaruan Kiai Dahlan terinspirasi dari tiga tokoh pembaru itu, namun karya Kiai Dahlan sungguh melampaui Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Abduh, dan Rasyid Ridha. Kiai Dahlan telah sukses melahirkan ketertiban organisasi berupa Muhammadiyah. Pengalaman orang Kristiani, Belanda, Inggris, dan Portugis dalam melakukan aksi-aksi pemberdayaan sosial juga menggerakkan Sang Pencerah untuk melakukan upaya serupa. Hingga kini, belum ada organisasi Islam di dunia, termasuk di Timur Tengah, yang memiliki amal usaha melebihi Muhammadiyah.

______________

Resensi ini dimuat di Matan, edisi Januari 2015, hal. 49.

Judul: Aliran Pembaruan Islam; Dari Jamaluddin Al-Afghani hingga KH Ahmad Dahlan

Penulis: Djarnawi Hadikusuma

Penerbit: Suara Muhammadiyah, Yogyakarta

Cetakan: Pertama, 2014

Tebal: xiii + 191 halaman

Peresensi: M Husnaini