Mempertegas Visi Perjuangan Ormas

Sudah usang perbincangan tentang penting tidaknya Ormas Islam peduli kekuasaan dan terjun dalam proses pergantian kepemimpinan. Bukan saatnya lagi mempertentangkan apakah Ormas hanya berkutat pada persoalan ritual saja atau boleh masuk pada wilayah kekuasaan. Itu wacana masa lalu. Hari ini kita menyaksikan berbagai ketidak adilan yang terjadi di masyarakat, inilah tugas Ormas hari ini. Karenanya jawabannya bukan pada persoalan dakwah apakah harus struktural atau kultural, tetapi kalau lebih dari itupun harus dilakukan, apalagi pilihannya hanya dua. Baik struktural maupun kultural, dua-duanya sangat penting dan itu bukan pilihan tetapi objek dakwah yang harus diseriusi.

Persoalan hari ini adalah masih banyak para pengurus Ormas Islam yang masih trauma atau terkontaminasi stigma masa lalu yang ogah dan menganggap mengurusi kekuasaan adalah sesuatu yang tabu. Padahal dahulu ketika Ormas hanya menjadi objek politik, bukan berasal dari doktrin agama, tetapi lebih pada efek dari refresifnya sebuah rezim sehingga mampu “mematikan” kekuatan Ormas yang seharusnya sangat diperhitungkan dalam kancah perpolitikan nasional maupun regional.

Kini (setelah hembusan reformasi) zaman telah berubah, tak pantas lagi para pemimpin Ormas masih menggunakan paradigma Orde Baru, yang menjadikan organisasinya itu hanya sebagai alat kekuasaan semata, tanpa memiliki peran apapun. Sekarang, Ormas Islam harus menjadi subjek kekuasaan di berbagai struktur mulai atas hingga paling bawah.

Lemahnya Parpol

Ada yang membedakan ketika Ormas Islam terjun dalam persoalan pergantian kekuasaan dibanding dengan Parpol baik nasionalis, sosialis maupun yang mengusung idiologi keagamaan. Parpol hari ini secara kasat mata memang banyak, namun Parpol di Indonesia, apapun aliran dan idiologinya, sesungguhnya mereka dalah satu, yaitu kepentingan sesaat. Kepentingan sesaat adalah kepentingan duniawi yang bisa ditandakan oleh harta, tahta, wanita, yang tergolong pada individu, kelompok kecil (konco-konco), dan kelompok besar (organisasinya).

Para pengurus dan petinggi Parpol selalu berusaha mengelabui rakyat dengan berbagai manuver dan retorika semu. Ketika berhadapan dengan kaum buruh, mereka seperti pejuang buruh nomor satu, ketika berhadapan dengan kaum tani mereka seperti petani yang sedang berjuang di arena politik, ketika berada di lingkungan religius mereka seolah-olah orang paling religius yang siap memperjuangkan kepentingan agama tersebut sampai titik darah penghabisan. Karenanya diciptakanlah simbol-simbol yang mendekati kepentingan konstituen. Inilah salah satu bentuk propaganda yang diciptakan agar bagaimana masyarakat tercengang dan terhipnotis dengan kehebatannya – dalam mengelabui rakyat.

Namun idialisme dan simbol-simbol yang ciptakan itu kemudian dengan mudah rontok ketika mereka menghadapi sebuah kepentingan bersama. Dalam konteks pemilihan kepala negara atau kepala daerah misalnya, tidak segan-segan Parpol yang mengusung idiologi Islam kemudian berkoalisi dengan nasionalis bahkan dengan yang beda agama. Kesamaan idiologi dalam Parpol tidak kemudian menjamin terjadinya keserasian langkah dalam membangun visi bersama. Kegagalan menyatukan visi dalam sebuah idiologi yang sama inilah yang kemudian semakin memperjelas bahwa apapun azas dan landasan perjuangannya, yang penting bagi Parpol adalah kepentingannya dapat terakomodir. Persoalan Parpol Islam lain ada yang dikalahkan dan dipermalukan, tidak jadi soal.

Harapan ada di Ormas

Dalam era reformasi yang hari ini berjalan di Indonesia, kemudian muncul sebuah harapan baru. Parpol memang pada satu sisi menjadi dewa (kecuali di Aceh) dalam konteks pemilihan kepala daerah. Karenanya, semua calon kepala daerah harus melewati gerbang Parpol – yang idealismenya dipertanyakan tadi. Namun, pada sisi lain reformasi membuka peluang untuk menciptakan sebuah perubahan peta politik regional untuk membangun visi bersama dalam konteks apapun. Dan Ormas Islam, sebagai kekuatan rakyat yang terorganisir sesungguhnya memiliki prospek cerah dalam konteks pergantian kepemimpinan ini. Ormas tidak hanya dapat berfungsi sebagai kekuatan penekan, tetapi juga sangat memungkinkan untuk dijadikan sebagai penentu dalam berbagai hal, termasuk kepala daerah.

Pertanyaannya, apa yang diharapkan dari Ormas Islam? Ormas Islam adalah bagian sangat penting dalam mengawal nilai-nilai ajaran Islam yang universal. Ormas Islam apapun itu namanya, sesungguhnya memiliki doktrin yang sama tentang pentingnya hidup berkeadilan dan berkeadaban. Itlah kenapa Ormas Islam dianggap bagian yang harus peduli terhadap pergantian kepemimpinan, sebab ketika Jawa Barat selalu dipimpin oleh orang Islam (tapi tidak berangkat dari Ormas Islam), kemudian tidak adil dan tidak pro kemanusiaan, maka sesungguhnya dia sudah mencoreng nama baik Islam termasuk Ormas Islam di dalamnya.

Dalam konteks Jawa Barat inilah kemudian saya menganggap penting bagaimana sesungguhnya keberadaan Ormas-ormas Islam dapat menjadi subjek dari sebuah kebijakan yang sangat mempengaruhi masyarakat – yang mayoritas Islam. Jangan biarkan masyarakat hanya menjadi korban dari sebuah kebijakan yang tidak dilandasi nilai-nilai Ilahiah, cenderung pragmatis, hedonis dan untuk kepentingan duniawi semata. Karenanya ketika banyaknya persoalan yang terjadi di masyarakat, mulai dari lingkungan, penegakan hukum, perjudian, kemaksiatan, ketidakadilan, kemiskinan, kebodohan, dan yang lainnya tidak lepas dari pendistribusian kekuasaan yang tidak adil dan tidak berkemanusiaan. Saya berharap Ormas Islam tidak memandangnya persoalan ini secara parsial.

Karenanya para petinggi Ormas di Jawa Barat, menjelang Pilkada ini seharusnya menjaga Ormasnya masing-masing dengan cara: pertama, tidak menukar kekuatan Ormas dan sejumlah masanya hanya demi rupiah. Kedua, tidak mejual kekuatan Ormas kepada siapapun selain atas kepentingan Islam dan kemanusiaan yang universal. Ketiga, tidak menghitung calon Gubernur dan Wagub hanya karena kekayaan yang dimilikinya. Keempat, tidak menebarkan kesesatan kepada ummatnya dengan menyodorkan orang-orang yang tidak jelas kredibilas keilmuan dan keimanannya atau yang sudah jelas-jelas tidak mampu memimpin Jabar.

Namun yang sebaiknya dilakukan oleh Ormas-ormas Islam dalam kondisi seperti ini, dimanan Pilkada Jabar semakin dekat yaitu: pertama, menyatukan visi kemanusiaan dan keadilan yang dilandasi spirit keagamaan. Kedua, menanggalkan ego Ormas masing-masing demi mencapai visi ke depan yang jauh lebih penting. Ketiga, cari kader di lingkungan (Ormas Islam) sendiri yang sudah jelas perjuangan dakwah dan pengabdiannya kepada ummat, dan itu sangat memungkinkan. Keempat, jangan mendekati calon lantara serab ku harta atawa pangkatna. Kelima, bangun kemandirian dan wibawa Ormas Islam di hadapan publik dan penguasa.