Muhammadiyah Besar Karena Gerakannya, Bukan Sekadar Nama

Muhammadiyah tak sekadar besar nama dan catatan an sich. Tetapi besar dengan kekayaan gerakannya hingga kini memasuki usia ke- 106 tahun. Gerakan Muhammadiyah tetap konkrit, progresif, dan bahkan revolusif. Tak hanya Muhammadiyah, tapi juga gerakan perempuannya, ‘Aisyiyah, juga sudah memasuki usia 100 tahun lebih.

Malik Fajar, Dewan Pertimbangan Presiden RI seperti dilansir muhammadiyah.or.id, dalam Diskusi dan Sharing Pengembangan Perguruan Tinggi Muhammaidiyah Se-Jawa Timur, pada Rabu, 6 Maret 2019, di Gedung At-Tauhid Universitas Surabaya, mengatakan.

BACA JUGA:   Jawa Barat Jadi Tempat Pertama Talkshow Digital Agriculture 4.0

“Kebesaran Muhammadiyah itu karena adanya sebuah kemajuan, prestasi, mutu dan kualitas yang menggairahkan, sekaligus member kekuatan pengembangan. Bukan bermaksud sombong, tetapi agar gairah memajukan itu timbul,” paparnya.

Gerakan kemanusiaan yang diusung Muhammadiyah, kata Ketua Badan Pembina Harian (BPH) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) itu, dapat memajukan eksistensi gerakan Muhammadiyah di Jawa Timur dengan gairah yang positif.

“Ciri khas Muhammadiyah dari perjalanan waktu ke waktu bukan berada di pinggiran dan suasana yang sedih tetapi gembira, menyenangkan, mengasyikan sekaligus mencerdaskan. Nah sekolah Muhammadiyah harus di bawa ke situ,” ujarnya.

BACA JUGA:   Muhammadiyah Perluas Jangkauan Dakwah di Taiwan

Gerakan kemanusiaan sebagai dakwah bil-hal yang diusung Muhammadiyah tidak hanya berdampak pada persyarikatan saja, tetapi juga lebih luas lagi sehingga sehingga dipenuhi pikiran dan pandangan besar.

“Untuk itu, Muhammadiyah mendidik dan mengajak mahasiswa lewat perguruan tingginya menatap masa depan yang lebih besar, karena mereka generasi yang akan datang,” jelasnya.

Karena itulah, Malik Fajar berpesan agar para dosen pengajar di Perguruan Tinggi Muhammadiyah memberi suasana lahir dan batin yang menggembirakan dalam menciptakan pemikiran besar kepada mahasiswanya.

BACA JUGA:   Konsep Kelas Di Sekolah Sudah tidak Relevankah?

“Kelemahan dunia sekarang ini termasuk para dosen adalah mengalami ganguan terutama handphone, jadi dosen kurang dalam ber-iqro’ (membaca buku). Kemajuan kampus bukan karena gedungnya menjulang tinggi tetapi karena spirit akademik dengan suasana lahir dan batin kehidupan orang-orang berilmunya memancarkan. Dan itu di peroleh dari tradisi para pengajarnya yang menghidupkan ‘iqra’,”  pungkas Malik.

Redaksi
MuhammadiyahGoodNews.id adalah media yang memuat kabar baik dari persyarikatan Muhammadiyah. Media ini juga menghadirkan artikel yang mencerahkan, berkemajuan, dan berperadaban.