Muhammadiyah Waspadai Arus Tsunami Informasi di Era 5.0

Di era 4.0 ini, pintu kemudahan terbuka lebar sehingga siapa pun dapat mengakses informasi tanpa batas. Hanya bermodalkan quota internet, siapa saja bisa menciptakan informasi untuk disebarluaskan kepada orang lain tanpa melihat validitas. Akibatnya, arus informasi yang demikian deras menjelma menjadi Tsunami informasi yang siap menerjang siapapun dan di manapun, bahkan tak jarang berita tersebut menjadi kekuatan penghancur tatanan moral dan sosial.

Simpulan tersebut disampaikan Hamim Ilyas, Wakil Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, dalam acara Forum Dialog dan Literasi Media Sosial yang mengambil tema Bijak di Dunia Maya, Rukun di Dunia Nyata, bertempat di Hotel Cavinton, Yogyakarta, Sabtu, 16 Maret 2019. Acara ini terselenggara atas kerjasama Kemenkominfo RI dan Suara Muhammadiyah.

Pada kesempatan itu pula, Hamim menekankan bahwa masyarakat harus segera melangkah maju dari Era 4.0 menuju Era 5.0 agar tidak hanyut dan hancur karena terjangan Tsunami Informasi. Masyarakat Era 5.0, adalah masyarakat yang tidak hanya menjadi konsumen informasi saja, tetapi juga mampu membuat informasi, bahkan menciptakan teknologi untuk mewujudkan kebaikan nyata dalam medan sosial.

Hadir dalam acara tersebut: Prof Dr Ahmad Syafii Maarif [Pemimpin Umum Suara Muhammadiyah], Prof Dr Henry Subiakto [Staf Ahli Menkominfo RI], Deni Asy’ari MA [Direktur Utama Suara Muhammadiyah], Dr Hamim Ilyas [Wakil Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhamamdiyah], Prof Dr Widodo Muktiyo [Wakil Rektor UNS], Irfan Amalee [Co-Founder PeaceGenID], dan Budi Kusumah [Pembawa Acara].

Dalam kata sambutannya, Buya Syafii Maarif berpesan agar orang bijak dalam bermedia sosial dan tidak mudah terbawa arus. Tema yang diambil dalam seminar ini, kata Buya, sangat bagus. Tetapi, lanjutnya, dalam kenyataan kita ini sering berperang di dunia maya dan terbelah di dunia nyata. Media sosial penuh dengan ujaran kebencian, berita palsu, caci maki, dan fitnah. Pengguna media sosial yang tidak kritis dan cermat umumnya mudah percaya berita-berita hoaks. Mereka tidak lagi melihat benar dan salah suatu berita. Penerimaan atas suatu berita hanya berdasarkan suka dan tidak suka. Hal ini diperparah lagi dengan momentum politik di sebuah negara.

Sementara itu, Prof Dr Henry Subiakto, mengatakan bahwa HOAX dalam dunia maya sesungguhnya adalah suatu hal yang sengaja diciptakan oleh mereka yang memiliki kepentingan. Ada hoaks yang memang dibuat secara profesional dan teroganisir. Ada pula HOAX yang dibuat dibuat amatiran oleh aktivis pendukung yang terlalu fanatik dan tidak terorganisir. Tujuannya adalah menciptakan kecemasan, kebencian, permusuhan, dan pemujaan yang berlebihan. Di depan 250 peserta seminar, Henry menjelaskan secara gamblang data dan fakta penyebaran hoaks di berbagai belahan dunia dengan masing-masing dampaknya yang mengerikan bagi negara tersebut.

Dalam acara ini panitia memberikan secara cuma-cuma buku Fikih Informasi kepada seluruh peserta. Pemberian buku karya Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah ini adalah bagian dari upaya Muhammadiyah untuk mencerahkan dan mencerdaskan masyarakat dalam dunia komunikasi dan informasi yang terus berkembang tiada henti.

Menjadi catatan bersama bahwa kemajuan teknologi komunikasi tidak akan melemahkan pentingnya komunikasi tatap muka. Komunikasi tatap muka adalah jenis komunikasi yang paling sempurna yang menumbukan keakraban dan empati. Bentuk komunikasi ini mampu mengatasi perasaan terasing, ketidakpuasan, dan keterpinggiran. Komunikasi sejatinya untuk menciptakan sikap saling memahami antar satu dengan lainnya. Dengan saling memahami itu, orang akan mengetahui kelebihan dan kekurangan lawan komunikasinya sehingga akan dapat saling memberi, membantu, dan melengkapi.

Teknologi informasi dan komunikasi yang mengalami kemajuan sedemikian pesat ini memungkinkan orang menjalin komunikasi melalui teknologi tanpa batas demi kemudahan hidup. Tanpa sikap yang bijak, hal yang semestinya dapat memberikan manfaat dan kemudahan justru menciptakan bencana sosial dalam lingkup yang sangat luas. Semua tergantung pada pengguna media sosial itu sendiri. Kemenkominfo RI dan Suara Muhammadiyah melalui acara ini mengajak kepada segenap masyarakat agar bijak di dunia maya dan rukun di dunia nyata.