Pacaran Vis a Vis Ta’aruf, Halalkah?

Ada kerisauan dalam hati para kawula muda mana kala masih saja bertahan dalam kesendirian tanpa seorang pasangan. Terutama bagi yang sudah cukup usia untuk menikah tentu akan merasa gelisah ketika pasangan yang dinanti tak kunjung datang menghampiri.

Pasangan idaman yang bisa menjadi teman berbagi suka dan duka terasa sulit dicari. Bukan tak berusaha, kerap berbagai upaya pun telah dilakukan. Namun, kebingungan memilih calon yang tepat menjadi kendala utamanya. Hingga pada akhirnya, proses pacaran pun menjadi pilihan.

Pacaran merupakan fenomena yang tak asing dan selalu ramai dijadikan topik utama dalam berbagai kajian remaja. Menarik untuk diulas dan cukup menuai problematika disertai pro-kontra. Konon, pacaran dimanfaatkan sebagai ajang untuk mengenali sifat pasangan sebelum melangsungkan pernikahan.

Praktik pacaran juga bermacam-macam, ada yang sekadar berkirim surat, telpon, mengantar, menjemput ataupun menemani pergi ke suatu tempat, bahkan ada yang layaknya pasangan suami istri (Jefri, 2005 : 11).

Daryanto dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Lengkap (1997 : 452) mengatakan bahwa pacaran berasal dari kata “pacar” yang berarti kekasih; yang dicintai dan dikasihi. Sedangkan kata “berpacaran” berarti bercintaan, berkasih-kasihan.

Dilihat dari definisi pacaran tersebut, tentunya tidak ada yang salah karena memang sudah menjadi fitrah manusia untuk menyukai lawan jenisnya. Hal ini ditegaskan dengan firman Allah surah Ali-Imran ayat 14 yang berbunyi :

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).”

Pacaran erat kaitannya dengan proses pencarian pasangan hidup. Banyak yang berakhir manis dengan duduk bersanding di pelaminan hingga akhirnya memiliki keturunan. Tak sedikit juga yang menjalani proses pacaran sekian lama, namun berujung pahit dengan sebuah perpisahan yang memilukan.

Sholeh Gisymar dalam Mitos Pacaran (2005:4) mengartikan pacaran sebagai masa pendekatan yang dilakukan oleh seorang laki-laki dan perempuan ditandai dengan saling mengungkapkan rasa cinta dan kasih sayang. Ia juga mengartikan bahwa pacaran menjadi langkah awal untuk mewujudkan harapan dan cita-cita kehidupan yang ideal, yaitu memiliki pendamping hidup yang saling melengkapi.

Selain pacaran, ada lagi istilah yang cukup familiar berkaitan dengan proses pencarian pasangan, yaitu taaruf. Taaruf dimaknai oleh khalayak ramai sebagai proses berkenalan secara syar’i antara laki-laki dan perempuan untuk mengetahui karakter masing-masing sebelum memutuskan untuk hidup bersama.

Dari segi definisi sekilas hampir sama dengan pacaran. Namun, bedanya dalam taaruf, proses pendekatan tidak dilakukan secara langsung antara dua orang yang bersangkutan, melainkan menggunakan perantara. Dengan harapan bisa terhindar dari hal-hal yang dilarang agama.

Kemudian bagaimana bila yang terjadi justru sebaliknya? Alih-alih menjalani taaruf sebagai proses ‘pendekatan’ yang syar’i. Tapi dalam praktik, nyaris tidak ada bedanya dengan pacaran. Pergi ke mana-mana selalu ditemani, setiap waktu komunikasi, bahkan sering apel ke rumah sang dambaan hati.

Pacaran dan taaruf hanyalah bungkus untuk membalut sebuah rasa antara sepasang manusia yang dimabuk nafsu dan cinta. Ibarat makanan ringan yang dijual pedagang asongan, tanpa bungkus pun ia masih bisa dimakan. Begitupun dengan sebuah gejolak cinta, tanpa pacaran atau taaruf pun sebetulnya tak jadi soal.

Suka ya suka saja. Cinta ya cinta saja. Menikah, ya tinggal menikah. Terkadang kita sering terjebak dengan sebuah istilah. Hingga mudah menghukumi bahwa ini dan itu salah. Tidak ada dalam ajaran Islam. Allah tidak menyukai hal demikian. Islam sudah memberi wadah untuk menyalurkan rasa cinta itu dengan menikah melalui proses yang sesuai tuntunan-Nya, dan berbagai argumen lain yang serupa.

Mencintai adalah bagian dari fitrah manusia dan jika berjodoh kemudian menikah, itu bonusnya. Hanya saja, jangan sampai menggembor-gemborkan taaruf kemudian menyalahkan perilaku pacaran setiap orang yang belum tentu persis seperti apa yang dituduhkan.

Memiliki penyemangat khusus –selain orang tua­­– kadang kala diperlukan. Nyatanya kita pun butuh seseorang untuk saling berbagi cerita bersama. Membantu mencarikan solusi dari berbagai permasalahan. Bahkan meringankan beban-beban yang selama ini mungkin selalu ditanggung sendirian.

Terlepas dari berbagai anggapan bahwa praktik pacaran bertentangan dengan agama, menimbulkan dampak negatif, bahkan dikategorikan sebagai perilaku amoral. Tapi bila pacaran dikembalikan pada definisi aslinya, tentu bukan lagi soal. Seseorang berhak mencintai dan dicintai siapapun yang ia kehendaki.

Hal yang terpenting adalah adanya iktikad baik untuk membawa hubungan yang tengah dijalin ke arah yang jelas. Akan dibawa ke mana cinta yang selama ini selalu diagung-agungkan?

Bila hanya ingin terus menerus ‘berpacaran’, atau bahkan ‘taarufan’ sampai bertahun-tahun lamanya. Kemudian hanya bermain-main dengan perasaan, apakah ada kebaikan dan kebahagaiaan yang didapatkan? Karena sebetulnya, bila sudah cinta, tentu akan memiliki arah dan tujuan yang jelas ke mana cinta itu akan dipertanggungjawabkan.

Sekali lagi, pacaran hanya istilah. Begitupun dengan taaruf. Keduanya sama saja, dijadikan sebagai ajang mengenali pasangan sebelum memulai bahtera rumah tangga. Adapun bagaimana proses dalam menjalaninya tetap bergantung pada masing-masing pasangan.

Mari mulai menjadi pribadi yang tidak mudah menghakimi orang lain. Mengingatkan boleh, bahkan dianjurkan terlebih dalam hal kebaikan. Namun bukan berarti menganggap apa yang telah dilakukan dan diyakini selalu benar dan lebih baik dari orang lain. Percayalah, setiap orang selalu memiliki cara tersendiri dalam hal cinta dan mencintai.