Tantangan Baru Gerakan Islam Berkemajuan

Islam berkemajuan, sebagai ungkapan otentik KH Ahmad Dahlan, merupakan atribut yang hingga kini masih melekat pada Muhammadiyah. Memakai atribut ini tentu gagah, asal jangan hanya sebatas kalimat indah.

Sejarah memang mencatat, seabad silam gagasan Islam berkemajuan telah melahirkan karya-karya nyata. Tetapi, Muhammadiyah jangan lantas puas atas prestasi masa lampau, sebab betapa besar tantangan masa depan. Muhammadiyah harus menjadi sebab kemajuan umat Islam. Tidak hanya pada tingkat nasional, tetapi internasional sebagaimana terkandung dalam Pernyataan Pikiran Muhammadiyah Abad Kedua.

Dengan demikian, tantangan memakai atribut Islam berkemajuan jelas tidak semakin ringan. Faktanya, sejak organisasi yang identik dengan gaung-gaung modernitas ini berdiri pada 8 Dzulhijjah 1330/18 November 1912, umat Islam di berbagai penjuru dunia belum juga tampil sebagai pelaku utama sejarah.

Jika dunia ini diibaratkan sinetron, maka pemain utamanya adalah non-Islam (baca: Yahudi). Umat Islam masih menjadi penonton dan cenderung powerless.

Dominasi Non-Islam

Dalam karya Why are Jews so Powerful?, Dr Farrukh Saleem, Direktur Eksekutif Pusat Riset dan Kajian Keamanan, Islamabad, Pakistan, mencatat, saat ini ada 1.476.233.410 jiwa umat Islam di muka bumi (satu miliaran di Asia, 400 jutaan di Afrika, 44 jutaan di Eropa, enam jutaan di Amerika). Jumlah Yahudi hanya sekitar 14 juta di dunia (tujuh jutaan di Amerika, lima jutaan di Asia, dua jutaan di Eropa, 100 ribuan di Afrika).

Sayangnya, menurut Saleem, keunggulan secara kuantitas itu tidak lantas menjadikan umat Islam memiliki ‘saham’ besar terhadap kemajuan dunia. Figur yang sangat berpengaruh seperti Albert Einstein, Sigmund Freud, dan Karl Marx adalah Yahudi. Juga sederet nama yang berjasa untuk kesejahteraan manusia, seperti Benjamin Rubin (penemu jarum suntik), Jonas Salk (penemu vaksin polio), Alert Salin (pengembang vaksin polio), Gertrude Elion (pengembang obat leukemia), Baruch Blumberg (pengembang vaksin hepatitis B), Stanley Mezor (penemu micro-processing chip), Leo Szillard (pengembang reaktor nuklir), Peter Schulz (penemu kabel fiber optic), Charles Adler (penemu lampu lalu lintas), Benno Strauss (penemu besi tanpa karat), Isador Kisee (penemu film suara), Emile Berliner (penemu mikrofon telepon), dan Charles Ginsburg (perekam videotape).

Dalam sejarah, Islam memang lebih dulu maju dibanding Barat. Bahkan kemajuan Barat hari ini adalah warisan peradaban Islam. Memang, jauh sebelum Masehi, peradaban Yunani dan Romawi sudah mengalami kemajuan di bidang ilmu pengetahuan. Namun, setelah Islam datang, lambat laun peradaban mereka bangkrut, berganti peradaban Islam. Peradaban Islam kemudian mampu menaklukkan Kristen-Eropa selama ratusan tahun.

“For almost thousand years, from the first Moorish landing in Spain to the Second Turkish siege of Vienna, Europe was under constant threat from Islam,” tulis Bernard Lewis dalam What Went Wrong? Western Impact and Middle Eastern Response (2002). Huntington juga menyimpulkan, “Islam is the only civilization which has put the survival of the West in doubt, and it has done that at least twice”.

Roda dunia berputar. Kini, umat Islam dalam kondisi yang sangat lemah dan dilemahkan. Menurut Lewis, kemunduran ini disebabkan ada yang salah pada dunia Islam akhir abad ke-20, sehingga Barat mengivasi dunia Islam di semua lini kehidupan. Mayoritas umat Islam tidak sepenuhnya mempraktikkan ajaran Islam sebagaimana tuntunan Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Belakangan, muncul gejala peningkatan jumlah umat Islam di penjuru dunia. Tetapi, menurut John L Esposito dalam The Future of Islam (2010), gejala ini tidak menjanjikan masa depan Islam dan umat Islam. Alasannya, hubungan di antara umat Islam sering kurang harmonis. Kerap muncul sikap saling menistakan antar kelompok yang tidak sepaham. Pembaruan dalam Islam juga sering menjadi medan pertarungan yang tidak mudah diselesaikan. Ketika muncul pemikiran dan gagasan pembaruan, misalnya, segera disusul perdebatan sengit menyangkut perbedaan penafsiran dan aliran pemikiran (madzhab).

Perjuangan Keras

Dalam kondisi seperti itu, Muhammadiyah dituntut untuk cepat mengambil sikap. Meminjam istilah Haedar Nashir, Muhammadiyah kini ditantang untuk mampu mengembangkan dakwah Islam yang proaktif (lil muwajahah), dan bukan sekadar reaktif (lil mu’aradhah). Mengacu pada perintah Allah wal takum minkum ummatun dalam surat Ali Imran 104, Muhammadiyah harus mampu mengantarkan umat Islam menjadi khaira ummah, seperti firman Allah dalam surat Ali Imran 110. Nashir menulis, “Di sinilah pentingnya merumuskan strategi baru yang lebih akurat, aktual, dan kontekstual dalam dakwah Muhammadiyah. Setiap bentuk reaksioner atau sekadar meluapkan kecemasan dan kegundahan secara verbal tanpa disertai langkah-langkah strategis, sampai kapanpun dakwah Muhammadiyah akan ketinggalan.” (SM, Edisi Khusus Tanwir, 16-30 Juni 2012).

Disadari bahwa tugas yang diembankan kepada organisasi ini tidak mudah. Tetapi, atribut Islam berkemajuan yang terlanjur tersemat jangan hanya gagah di mata tetapi miskin dalam fakta. Muhammadiyah harus berjuang keras. Pertama, menajamkan kerja intelektualitas. Pertumbuhan lembaga pendidikan yang semakin pesat di lingkungan Muhammadiyah harus diimbangi dengan kemajuan tingkat intelektualitas dan karya-karya keilmuan yang lebih canggih. Muhammadiyah tidak boleh sekadar mampu mengatasi masalah, tetapi harus sudah mengantisipasinya jauh-jauh hari, dan menawarkan solusi alternatif.

Prof M Amien Rais pernah mengusulkan, Muhammadiyah harus punya roadmap atau peta jalan. Caranya, tutur Prof Amien, adalah dengan menghimpun para tokoh dan pemikir Muhammadiyah untuk membuat peta jalan guna menyongsong masa depan. Jika tidak, Muhammadiyah akan terbata-bata, bahkan shock menghadapi deru zaman, karena tidak diantisipasi sebelumnya.

Kedua, mendongkrak mutu pendidikan. Ini penting mengingat pendidikan dunia Islam sejauh ini kurang memiliki kapasitas dan gagal melakukan difusi iptek. Terdapat kepincangan mencolok. Seperti diungkap Prof Azyumardi Azra, dalam 57 negara anggota OKI, hanya ada sekitar 500 kampus. Padahal di India 8.407 dan AS 5.758 kampus. Juga belum ada kampus di dunia Islam yang masuk dalam “Academic Ranking of World Universities” versi Shanghai Jiao Tong. Selain itu, per satu juta umat Islam, hanya ada 230 ilmuwan. Sedangkan AS 4.000-an dan Jepang 5.000-an.

Karena itu, ribuan lembaga pendidikan Muhammadiyah, mulai Playgroup sampai PTM, harus unggul secara nasional dan internasional. Alumni pendidikan Muhammadiyah juga harus memiliki intelektualitas berdaya saing nasional dan global. Untuk itu, pendidikan Muhammadiyah harus bertumpu pada pengembangan iptek dan terbuka terhadap sumber iptek dari mana saja. Sikap terbuka terhadap sumber iptek inilah yang membuat peradaban Islam di masa klasik maju pesat. Jangan sampai ada sikap apologetik, defensif, dan reaktif dalam menyikapi sumber iptek, asal demi kemajuan dan kemaslahatan umat.

Ketiga, mendukung gagasan-gagasan baru. Tidak disangkal, sejak kelahirannya, identitas dan citra diri asli Muhammadiyah adalah gerakan dakwah dan tajdid. Ini meniscayakan keterbukaan dan sikap toleran terhadap setiap ide yang fresh dan aktual, sepanjang sesuai dengan napas Islam. Orang-orang Muhammadiyah tidak boleh resisten terhadap pemikiran-pemikiran baru sehingga terperangkap dalam pola pikir yang jumud, mandeg, dan jadul. Spirit pembaruan yang sudah lama menjadi jati diri Muhammadiyah harus terus didengungkan.

Keempat, menyuburkan semangat berkorban dalam perjuangan. Diuraikan oleh Amir Syakib Arsalan dalam Mengapa Kaum Muslim Mundur (1954), di antara sebab kemunduran umat Islam adalah hilangnya semangat berkorban. Tragisnya, hal ini diikuti munculnya sikap kemaruk dunia (hubbud dunya). Sikap enggan berkorban dan cinta dunia ini tidak boleh bercokol di tubuh Muhammadiyah, terutama para pimpinannya. Agar dapat menjadi sebab kemajuan umat Islam, sikap tamak dunia harus diganti dengan sikap cinta terhadap ilmu dan amal-amal nyata dalam bidang sosial dan kemanusiaan. Maka, Islam yang berkemajuan harus menjadi spirit dalam praksis gerakan Muhammadiyah yang berkeunggulan.

Artikel ini telah dimuat di Suara Muhammadiyah, Edisi 1-15 Januari 2013.